Arsip Tag: syair

Daun yang gugur saat lepas tengah malam

Daun yang gugur saat lepas tengah malam
Dalam harum-haruman, maka debur ombaklah
               yang memecah paras ayunya
Bulan? Dia sudah lelah menangisi cinta kayu
               kepada api yang tak kunjung padam

Tak perlu lagi bertanya kepada heningnya malam
Sebab pencinta sedang bermesra dengan Sang Bijaksana
Maka hening katamu adalah riuh kidung kemesraannya

      Yogya menjelang subuh, 28 april 2005

image

Rehat

image

Aku bersama secangkir teh kosong
Membaca waktu yang terlampaui
Sepanjang dari sini
Lalu ke barat

Aku mencoba mengeja jejak tertinggal
Dihembusan nafas yang terbentang
Searah kicau burung senja

Bagai angin menggelorakan samudera
Aku karam tujuh ribu kaki disana

                Yogya, 13 januari 2003

Jakarta

image

Bulan temaram menggantung di ujung siang
Sewarna lembayung berselaput awan
Putih dan abu-abu

Aku berjalan melintas kerontang
Wajah lelah rindu rumah
Percis mega yang juga lembayung

Baju berdebu capek menahan dua juta manusia
Membulatkan tekad bertemu kekasihnya
Sore ini.

Jakarta, Pertengahan 2000

Renungan untukmu

1005277_10200858627341029_1508921217_n

Semurni apa telaga yang jadi dambaanmu?

Tidakkah cukup embun-Nya dipesisir malam,

menghapus desah kesahmu yang lelah mencari

…..

Enggankah kau jika saja kau tahu,

matahari tak datang demi sujudnya pohon,

dan air dan seuntai melati?

………

Setulus apa syair yang kau minta dariku?

Tidakkah cukup mutiara kesejukan dinuranimu yang indah itu

Menyentuh jiwa yang bahkan kau tidak pernah tahu siapa ia.

………

Melangkah saja terus bersama kerinduanmu

Sebab ilalang tak pernah bertanya pada gembala : “untuk apa ragaku?”

Dan akupun tak pernah butuh tepuk tanganmu

Jogja, 6 Januari 2005