Arsip Tag: syair

Syair Breveter

SYAIR BREVETER
: bertujuh

Januari dua ribu sepuluh,
Bertambah tambah bahagia keluarga
mendengar berita gempitanya kita menjadi bagian keluarga orthopedi gajahmada.

Lima tahun lalu kita memulai cita cita ini
Satu demi satu langkah
Kita tonggakkan dalam dada :
“Apa kelak terjadi adalah tempaan guru guru
Supaya kita menjadi tegar kokoh seperti karang
Berhati singa,
bermata elang,
Dan bertangan bidadari”

Tak mudah melalui lima tahun pendidikan
Mulai dari titik terendah, menjadi karet pada roda yang berputar kencang
Terantuk batu,
Terkena kotoran, paku,
Ludah

mencari satu demi satu ilmu
menanamnya dihati hingga menghujam terpatri

Kepada keluarga dan orang tua
Betapa doa-doa panjang mereka
Memberi nafas
Dan melapangkan hati

Kepada cinta belahan jiwa
Betapa mereka telah berkorban
Diantara malam tanpa kami
Diantara tangisan anak anak
hatinya menangis tanpa kami tahu

Menjaga buah hati
Tanpa mengeluh betapa rapuh
dia.

Kepada guru guru kami
Betapapun penuh hari mereka
Selalu kami ganggu
Dengan beribu pertanyaan tentang pasien

Betapa bimbingan mereka tiada henti hentinya
Bukan jarang kami menyakiti hatinya dengan kebodohan kami
Dengan kekakuan tangan tangan kami
Dan mata yang belum lagi bisa melihat detail

Betapapun mereka tak pernah berkata letih mendidik kami
Terus dan terus saja mendidik kami
Tak lelah
Sampai saatnya mereka berkata : “Muridku, kami bangga hari ini engkau menjadi ahli orthopedi nusantara”

Bagi kami
Sebuah kehormatan dapat menjadi seperti hari ini
Kebanggaan
Sekaligus awal tanggung jawab luar biasa besar

Sebab kelak sampai kami tak mampu lagi mengangkat tangan ini
maka kewajiban dharma bakti ilmu ini ada pada kami.

Mempergunakannya menolong sesama
Dan amal guru guru kami tetap mengalir kepada mereka

Terima kasih guru besar dan guru-guru kami
Semoga tercurah segala kemuliaan kepada mereka
Semoga balasan amalan kebaikan akan selalu melimpahi mereka

Doakan kami agar teguh menjunjung budi pekerti
Moral
Dan prinsip keilmuan diatas segala gala

Yogyakarta,  27 April 2015

Tahajjud

Matahari belum bangun ketika aku berkeluh kesah kepada kekasihku

Hembusan semilir dan burung burung malam
Menjadi ‘amiiin’ satu satu kalimat ini

Mungkin
Kau juga masih terlelap
Dengan mimpi tentang buah hati

Biar saja,
Dalam hening aku bertemu damai
Dalam gelap aku berkeluh tentang silap

Kalimantan, November 2008

image

Adam

Bertuturlah alam padaku
Hikayat kedamaian ribuan windu tak terusik
Kala semilir angin pagi menyapa nuh dengan potongan kayunya
Dan desir angin malam iba melihat Yusuf
Sendiri dalam sumur
Empat ribu tahun silam

Selama itu alam setia
Pada kebenaran hakiki
Pada cahaya yang menyelubungi Muhammad malam itu.

Yogyakarta, Pre 2000

image

Bulan Kemerahan

Bulan kemerahan diujung dua kelapa
Menantang lembayung yang menyurutkan warna bunga
Menjadi satu bahasa

Dua kuntum bunga yang tersisa
Berdiri tegak diatas gelombang
Menantang bulan kemerahan
Dan lembayung diujung teluk

Suak Timah, 23 Februari 2005

image

Sadjak Pedjuang dan Seputjuk Rindu Buat Patjarnja

Tjahaja bulan mengirimkan rindumu tadi malam
Maaf djika kanda tiada mampu bersua lusa nanti
Front masih butuh kanda untuk bertempur
Banjak musuh musti dihadapi
Kanda tiada letih, hanja rindu ini jang bergelora

Djikalau sadja nanti perang sudah usai
Aku pasti datangi ayah bundamu
Aku katakan pada mereka : Bapak, ini saja, pedjuang bangsa,
Ingin meminang Rindu anakmu

Doakan Kanda biar tjepat pedjuangan usai
Dan republik ini berdiri
Merdeka !!!!!!

Front Merapi, 21 Djanuari 05

image

Malam malam

Malam malam bermain bintang
Menyanyi rerindu sesiapa
Menusuk ditengkuk

Jalanan lengang
Di titik nadir terbatuk
Di udara tamak dan bengis
Namun sepi mati

Maksiat bertebar seperti kunang kunang
Bersama peluh dunia

Kemari,
Didepanku seorang anak tertunduk
Kelaparan

YK, 1 September 2000

image