Arsip Tag: senyum

Bayi Yang Tidak Pernah Berhenti Tersenyum

A very short story by Hilmimuhammad

Kelahiran bayi mungil telah mencerahkan seisi rumah yang sudah lama suram. Lahir normal dengan panjang 50 cm dan berat 3,5 kilogram. Berkulit sawo bersih, bermata putih jernih dengan iris kecoklatan yang tengahnya hitam legam. Badannya padat berisi tapi tidak gemuk membikin siapapun yang memandangnya merasa senang.

Sejak lahir bayi itu selalu tersenyum. Ketika digoda oleh sanak keluarga, ayah bunda, eyang kakung putri selalu senyum. Sehabis mandi, bangun tidur atau saat lapar ia tetap tersenyum, kadang tertawa. Pembeda saat lapar atau senang hanya lengkingan dan panjang tawanya. Belum pernah sekalipun ia menangis, paling mentok ia hanya diam sambil mulutnya sedikit membuka, tangan dan kaki digerak-gerakkan kencang lalu tersenyum kembali.

Tetangga yang datang menengok menanyakan kepada ayah bunda kebenaran berita yang mereka dengar. Saat aqiqoh para sanak keluarga dan tamu undangan menggunjingkan kebenaran kabar burung tentang bayi yang selalu tersenyum itu. Sebelum akhirnya mereka menyaksikan kebenaran beritanya dengan mata kepala mereka lalu menyebarkan lagi berita seperti burung-burung.

Mendekati usia tiga bulan lengking tawanya semakin menghebohkan seisi rumah. Senyumannya semakin menawan. Rumah penuh sesak oleh tamu pelawat yang datang silih berganti siang malam ingin membuktikan kebenaran kabar itu. Keluarga dekat, keluarga jauh, tetangga dekat, tetangga kampung sebelah berdatangan.

Keluarga memutuskan untuk memindahkan bayi ke pendopo supaya mudah dilihat dan dikunjungi ramai pelawat. Bayi itu diletakkan di dalam kotak tidur kecil berpagar sewarna biru laut yang terbuat dari kayu nangka tua. Tamu pelawat tak henti berdatangan, semakin hari semakin banyak. Bayi itu tetap tersenyum kepada siapapun yang datang Sesekali tertawa melengking membuat girang sejumlah pelawat.

Sekumpulan pemuda kampung mendapat berkah rejeki melalui uang jasa parkir. Mereka pemuda pengangguran yang biasanya nongkrong di pos ronda yang tidak pernah lagi dipakai ronda dengan ditemani gitar yang senarnya putus satu, kartu remi dan kopi pahit. Para pemuda itu sekarang selalu cerah karena jadi punya mata pencaharian dadakan.

Karena membludaknya pelawat maka atas persetujuan keluarga besar bayi itu dipindahkan ke balai kecamatan. Ruang balai pertemuan kecamatan disiapkan untuk kenyamanan bayi. Semua kebutuhan bayi diangkut dari pendopo lengkap dengan kotak bayi berwarna biru laut. Dibuatlah antrian melingkar-lingkar dari rumput jepang warna warni. Petugas pamong tampak kewalahan mengatur alur pelawat. Penjual makan dan minum dadakan mengalahkan pasar tiban dipengkolan jalan.

Beberapa hari berselang dengan berbagai pertimbangan diputuskan untuk memindahkan bayi ke pendopo kabupaten. Tiga layar berukuran besar diletakkan dihalaman pendopo. Kegaduhan semakin meluas terjadi. Pewarta dari dalam dan luar daerah semakin banyak berdatangan, menyaksikan senyum bayi itu lalu membawa pulang kebenaran berita untuk disampaikan kepada rakyat melalui media masing-masing.

Pemerintah kabupaten kewalahan setelah hanya bertahan melayani puluhan ribu pelawat dalam beberapa hari saja. Bupati mengajukan usul agar bayi segera dipindahkan ke istana kerajaan. Sang raja dengan bijaksana menyetujui dan memerintahkan agar disiapkan bangunan semi permanen yang nyaman dengan jalur antrian lebih baik dari rumput jepang. Pelawat tumpah ruah masih dengan antrian yang mengular. Mereka rela berpanas-panas demi melihat dia yang selalu tersenyum.

Bayi itu seperti menjadi nabi baru. Semua ingin melihatnya. Membuktikan kebenaran kabar burung-burung tentang bayi yang selalu tersenyum. Berita ini sudah melebihi bencana semburan gunung api yang meratakan abunya ke semua atap kota beberapa tahun lalu. Bandara penuh sesak seperti pasar. Terjadi lonjakan penumpang melebihi libur tahun baru. Stasiun kereta dijejali arus kedatangan pelawat dari kota-kota lain. Terminal angkutan darat penuh, melebihi liburan lebaran. Jalur buka tutup menuju istana yang diberlakukan hanya mampu mengurai sedikit kemacetan. Angkutan darat tambahan tumpah ruah mengisi ruang-ruang parkir.

Tajuk utama koran nasional berulangkali memuat foto bayi itu dengan berbagai judul. “Bayi yang selalu tersenyum”, “Bayi Ajaib Tersenyum”, “Si Mungil Dengan Mukjizat Senyum”, “Bayi Anugerah Tuhan Membawa Kembali Senyum”, “Senyum Telah Datang”, dan banyak lainnya. Liputan media elektronik seakan tidak ada habisnya. Trending topik dunia maya melebihi berita apapun. Televisi tidak lagi menyiarkan berita kriminal, skandal dan koruptor. Berita selebriti hilang sama sekali. Berita konspirasi hanya sekedar running text, siaran olahraga hanya diputar lebih tengah malam, tidak ada siaran langsung acara apapun selain bayi itu.

Sekitar usianya yang kelima bulan lebih sedikit datang melawat rombongan presiden, para menteri dan petinggi perwakilan rakyat. Diiringi pengawalan khusus rombongan mobil kepresidenan itu datang ke istana untuk langsung bertemu sang bayi. Presiden yang selama itu tidak pernah tersenyum seketika tersenyum ketika bertatapan dengan sang bayi. Demikian pula para petinggi negara dan tokoh nasional.

Atas persetujuan petinggi perwakilan rakyat maka presiden memutuskan untuk memboyong bayi yang selalu tersenyum itu ke ibukota negara. Dibuatkan protokoler khusus untuk mengakomodir ribuan pelawat yang ingin melihat. Menyebarluaskan kabar datangnya sang bayi yang selalu tersenyum yang mampu membuat mereka yang melihatnya menjadi tersenyum.

—————————-

Sesungguhnya senyum bangsa ini sudah lama punah. Senyuman telah sekian lama menjadi legenda. Lebih setengah abad menghilang. Sejak itu tidak ada lagi saksi mata yang melihat senyuman. Sudah tidak terhitung laporan palsu menyatakaan melihat senyuman. Setelah di konfirmasi itu hanya omong kosong. Berita kosong yang dihembuskan oleh angin dibawa kencang oleh badai lalu diturunkan ke telinga-telinga manusia oleh semilir angin dari sela rumput.

Ratusan mungkin telah ribuan peneliti gagal menemukan penyebab punahnya senyum. Bahkan sejak empat dekade terakhir kepunahan senyum merata di seluruh penjuru mata angin.

Orang yang terakhir tersenyum diabadikan dalam sebuah ruangan musium ibukota negara. Sayang senyuman terakhirnya gagal terdokumentasi. Hanya biografi dan pernak pernik dia yang ditampilkan sebagai pengingat dan pemberi motivasi.

Menurut apa yang disampaikan dalam laporan resmi para ahli perguruan tinggi kebanggaan negara disebutkan bahwa terakhir kali senyum terdeteksi 65 tahun lalu. Tempatnya disebuah desa kecil ujung benua. Desa damai di sebuah lembah sempit di tepi teluk kecil yang menghadap ke samudera. Disanalah tinggal seorang pemuda yang selalu tersenyum kemana saja ia pergi. Hingga akhirnya pada suatu sore tiba-tiba ia menghilang di ujung tebing. Sejak itu tidak ada lagi orang yang pernah tersenyum.

———————————-

Setiap orang yang melihat langsung senyuman bayi itu menjadi mampu tersenyum. Orang-orang tua yang usianya diatas 80 tahun dulu pernah tersenyum sekarang kembali tersenyum. Mereka mengingat ingat kembali bagaimana dulu mereka biasa tersenyum. .

Anak-anak muda bisa tersenyum. Mereka canggung bagaimana senyum dengan benar. Seumur-umur belum pernah mereka tersenyum, jadi sekarang mereka belajar tersenyum mirip seperti ketika mereka pertama-tama belajar berjalan. Belajar memahami kapan dan bagaimana mestinya senyum.

Bayi yang selalu tersenyum itu telah menjadi virus tanpa antivirus. Menyebar seperti benih ilalang yang dibawa angin. Menjadi kebenaran kabar burung seperti kebenaran hujan yang merata semakin lama semakin meluas. Seperti wabah dijaman Musa as.

Sebentar lagi seluruh dunia akan terjangkit senyum. Siap-siap saja.

Jogjakarta – Samarendah, 29 Desember 2015

image