Arsip Tag: sejarah

Tukang Cukur dan Dokter Bedah

Setelah 17 tahun baru kali ini saya datang lagi ke kedai cukur itu. Tiga dari empat tukang cukur ditempat itu sudah menunjukkan keriput ditangannya, jelas usianya tidak muda lagi, sedikitnya lebih setengah abad usia mereka. Satu berusia lebih muda, sepertinya dia orang baru. Mungkin saja pengganti satu diantara mereka yang sedang berhalangan.

Tangan keriput mereka masih saja lentik memainkan gunting keperakan usang dan sisir sewarna putih tulang seperti laiknya penari ramayana di pelataran candi Prambanan. Menyenangkan sekali memperhatikan gerakan tangan mereka.

Kedai cukur itu dulunya langganan bapak. Sedangkan saya dan adik biasanya dicukur sendiri oleh bapak yang terkadang hasilnya miring disatu sisi. “Woi, Dhil, kamu cukur dimana ??? Yang kanan belakang mereng tuh”, kata satu kawan di sekolah dulu. “Biar saja”, batin saya.

Perabotan kedai sudah tampak usang dimakan usia. Empat cermin besar yang kabur disisi-sisi selain faktor usia mungkin juga karena jarang tersentuh pembersih. Speaker berwarna biru muda terpasang didua sudut lengkap dengan sarang laba-laba, entah masih bisa berfungsi atau tidak.

Semua barang dan peralatan dikedai cukur itu tampak menua dan usang. Persis seperti daerah pertokoan lokasi kedai cukur yang dulu adalah pusatnya keramaian kota sekarang menjadi sepi dengan lampu jalan berwarna kuning temaram.

image

Tukang cukur, yang dalam bahasa inggris disebut “barber“, merupakan keahlian kuno yang sudah ada sejak dahulu. Ditemukan adanya relik pisau cukur yang berasal dari tahun 3500 SM1 menjadi bukti keberadaan mereka. Pada jaman Mesir kuno kebiasaan mencukur merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari dimana posisi tukang cukur memiliki peranan penting di masyarakat. Hal serupa juga ditemukan pada masa Yunani kuno dan Romawi kuno1.

Mulai abad pertengahan tukang cukur dikaitan dengan bedah. Pada masa itu tukang cukur juga berpraktek sebagai ahli bedah dan gigi. Selain mencukur (haircutting, hairdressing, dan shaving), tukang cukur pada masa itu juga melakukan tindakan pembedahan, bekam, plebotomy dan ekstraksi gigi. Sebutan umum bagi tukang cukur pada masa itu adalah “barber surgeon“1.

image

Kami sebagai dokter bedah tulang dan dokter bedah pada umumnya diajarkan dan dididik bertahun-tahun untuk memiliki tangan selembut bidadari, artinya bisa mempergunakan pisau bedah dengan lembut namun tegas (gentle) demi meringankan penderitaan pasien.

Anda mungkin sulit untuk bisa melihat secara langsung bagaimana dokter bedah bekerja menggunakan pisau dan gunting. Jika bisa sedikit memberikan gambaran maka anda bisa melihat bagaimana tukang cukur bekerja. Bagaimana mereka dengan hati-hati memotong rambut, merapikannya, membentuknya supaya lebih indah. Mengerik rambut halus yang tumbuh tidak beraturan ditepi garis rambut dengan silet, tajam sekali. Tangan mereka cekatan, halus namun penuh kepastian gerak.

Rambut identik dengan mahkota seseorang. Ditangan tukang cukur seseorang menyerahkan sepenuhnya keinginan untuk memperindah mahkotanya. Tentu tukang cukur akan berbuat semaksimal mungkin agan klien-nya puas dan mendapatkan kebanggaan lebih dengan mahkota yang sudah dipoles.

Demikian pula kami, pasien menaruh harapan besar kepada kami untuk bisa mengembalikan, merapikan bagian tubuh mereka yang patah, robek atau terluka. Jika perlu menghilangkan (eksisi, amputasi) bagian tubuh yang membusuk, tumor atau kanker. Kami akan berbuat semaksimal mungkin sesuai keilmuan yang dipelajari agar pasien mendapatkan yang terbaik bagi penyakitnya.

Samarinda, 28 – 29 Oktober 2015

Referensi :

1. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Barber

Kebakaran !!

Jum’at malam menjelang kemarau. Berita di media sudah mulai terisi reportase peristiwa kebakaran. Tiba-tiba suara sirene meraung jauh lebih keras dari sirene ambulans yang biasa terdengar. Beberapa mobil besar berwarna merah melaju kencang menembus padatnya jalan raya.

Suara sirene dan klakson tak henti-hentinya dibunyikan. Petugas yang bergelantungan disisi kanan kiri berteriak nyaring sekali hingga serak “minggeer-minggeer, hoooi, minggeeeer!!!”, berulang-ulang. Bisa dipahami, keberadaan mereka darurat dibutuhkan terlebih tepat semalam sebelumnya kebakaran melanda kota ini menjadi sebab 2 anak kecil meninggal.

Menolong kebakaran pernah saya alami ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran. Sepulang kuliah saya melewati kebakaran toko yang cukup besar, ketika itu nampaknya petugas pemadam kekurangan tenaga (masih awal kejadian, regu pemadam kebakaran sebagian belum tiba). Saya memberanikan diri membantu sebisanya hingga akhirnya petugas yang berkompeten datang.

Semasa menjalankan Wajib Kerja Sarjana (WKS) dokter spesialis pernah pula menyaksikan uletnya pemadaman kebakaran bekerja. Bagaimana mereka ber’tarung’ memadamkan api secepat mungkin, melokalisir kebakaran yang melanda rumah warga tidak menyebar ke lebih banyak rumah disekitarnya. Bupati dan para petinggi pemerintah di daerah itu segera datang untuk memberi dukungan moral dan bantuan langsung. Bupati memerintahkan untuk melakukan evakuasi korban kebakaran ke bangunan pertokoan milik pemerintah yang baru selesai dibangun.

image

Sejarah pemadam kebakaran diawali pada abad ke 3 atau 2 sebelum masehi oleh Ctesibus dari Alexandria yang membuat pompa tangan1,2 untuk digunakan sebagai alat bantu pemadam kebakaran. Brigade pemadam kebakaran yang terorganisir pertama kali dibentuk oleh
Marcus Licinius Crassus dari kerajaan Romawi pada abad 1 sebelum masehi yang kemudian dikembangkan lebih baik oleh kaisar Nero2. Brigade pemadam kebakaran modern terbentuk pada sekitar abad 16 di Perancis oleh François du Mouriez du Périer2. Demikian terus berkembang hingga sekarang ini.

Kesibukan pemadam kebakaran ketika melaksanakan tugaskan sedikit banyak mirip dengan keadaan di unit gawat darurat (UGD) rumah sakit. Jika di UGD petugas medis emergency berjibaku dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa pasien maka petugas pemadam kebakaran berjibaku dengan limitasi waktu untuk menyelamatkan rumah sehingga tidak menyebar kesemakin banyak rumah atau aset lain yang mungkin sekali menimbulkan korban jiwa.

Selesai tulisan ini dibuat bertambah lagi 2 kebakaran dikota yang sama hanya berselang beberapa hari. Semoga cukup sampai sekian.

Reference :
1. http://www.afirepro.com/history.html
2. https://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_firefighting

Picture source :
http://www.rsc.org/chemistryworld/2015/05/industry-body-accused-over-links-discredited-us-fire-safety-group

Jam

الوقت كالسيف yang artinya “Waktu itu bagaikan pedang”. Demikian syair atau pepatah yang sangat terkenal dari bangsa Arab, Secara tepat saya tidak terlalu paham apa makna sebenarnya. Namun karena itu adalah pepatah Arab dan bukannya Hadist atau ayat Al Qur’an maka tidak salah saya atau anda mencoba menginterpretasikannya sesuai pandangan pribadi kita masing masing.

Berbeda jika itu adalah hadist atau ayat Al Qur’an. Tidak pantas rasanya saya atau sesiapa menginterpretasikan sendiri tanpa dasar keilmuan tafsir yang mumpuni. Penguasaan kaidah bahasa arab, pengetahuan sejarah turunnya ayat (asbabunnuzul), periwayatan hadist, pendapat para sahabat, tafsir para ulama dan masih banyak lainnya.

Sudah sering kita mendengar pembahasan tentang waktu dan pentingnya memanfaatkan waktu. Pemanfaatan waktu membutuhkan presisi. Jika dahulu manusia menentukan waktu berdasarkan jam matahari dengan mengukur panjang bayangan untuk menentukan perkiraan waktu maka di jaman sekarang kita sangat familiar dengan jam.

Sejak ribuan tahun lalu bangsa mesir membagi waktu sehari menjadi dua periode 12 jam(1), mereka menggunakan prinsip jam matahari dengan batu besar (obelisk) sebagai acuan. Di berbagai belahan dunia kuna pengukuran waktu menggunakan metode berbeda-beda. Sebagian ada yang menggunakan lilin, stick, pasir, air dan pendulum. Jam portabel (watch) ditemukan sekitar awal abad 15 oleh pembuat jam Jerman bernama Peter Henlein (1485-1542)(2). Perkembangan teknik pembuatan jam dengan bahan dan metode berbeda semakin maju dari generasi ke generasi. Penggunaan sistem mekanik Balance Spring, Lever, penggunaan Quartz dan sekarang era jam digital yang terhubung dengan perangkat elektronik canggih.

Jam tangan bagi sebagian orang menjadi bagian tak lepas dari keseharian. Seperti ada yang kurang jika tidak memakai jam. Tanpa jam manajemen waktu bisa berantakan. Jadwal meeting dengan klien bisa terbengkalai, kontrak kerja jadi terlambat, rapat koordinasi organisasi terhambat, konsultasi pasien terganggu, bisa jadi jadwal operasi pasien tertunda gegara jam.

Tingkat presisi jam seseorang juga berlainan. Ada yang sengaja memajukan jam 5 menit, 10 menit, 15 menit dengan alasan: ” biar nanti tidak terburu-buru”. Ada yang benar- benar tepat dengan menyesuaikan standar waktu Greenwich Mean Time (GMT) yang dikonversi, adapula yang berkiblat kepada pemerintah (jam TVRI) atau menyesuaikan dengan jam stasiun TV swasta tertentu. “Biar gak ketinggalan sinetron”, kata seorang ibu. “Jam ini saya sesuaikan dengan stasiun televisi berita supaya tepat waktu menonton siaran berita dan debat politik”, kata seorang aktivis mahasiswa.

Lain pula dengan anda, jam yang anda gunakan mungkin sudah sesuai dengan jam kampus atau tempat kerja. Demi mengejar ketepatan waktu kuliah, supaya tidak terlambat absen masuk kerja atau akan terkena pemotongan gaji beberapa persen.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu gemar memakai jam. Sebagai gantinya penunjuk jam bisa melihat layar telepon seluler. Melihat jam sekaligus melihat apakah ada pesan masuk yang belum terbaca. Anda bisa mencoba cara lain, semisal ketika berada di perjalanan anda bisa berjalan perlahan lalu lihat kiri kanan ke dalam bangunan warung toko atau rumah yang terbuka. Dengan cara itu anda akan mudah melihat jam dan segera mengetahui waktu.

Suatu ketika saya bertanya kepada seorang sahabat yang saya lihat memakai jam berwarna keperakan dengan ornamen kuning. “Sahabat, jam berapa sekarang?”. “Maaf Dhil, jam saya ini sudah lama mati, cuman sekedar asesoris” jawabnya tersipu. Oalah, hahaha.

Yogyakarta, 21 April 2015

image

Ref:

1. Http://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_timekeeping_devices

2. Http://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_watches

Orthopedic Nurses

“Perkenalkan, saya dokter Ahmadhil”, kalimat itu masih jelas teringat sejak terucap lima tahun lalu. Kalimat perkenalan dengan staf keperawatan di bangsal orthopedi tempat kami dididik menjadi seorang ahli bedah orthopedi. Hari-hari pertama di rumah sakit kami gunakan untuk berkenalan dengan perawat yang nantinya akan berhubungan kerja tim orthopedi kami. Di kamar operasi, bangsal orthopedi dan bedah lainnya, instalasi gawat darurat (IGD/UGD), pelayanan rawat jalan dan unit radiologi.

Sejak semula sebelum menjadi dokter bagi saya kesadaran akan hubungan sinergis dengan rekan perawat menjadi bagian terpenting dalam menangani pasien. Dibagian akhir sebuah film inspiratif “Patch Adam” jelas sekali bagaimana luar biasanya peran perawat dan bagaimana seharusnya menempatkan perawat dalam penanganan pasien bersama sama dokter. Ada baiknya anda menyempatkan diri menonton film yang diadaptasi dari kisah nyata dokter Hunter “Patch” Adams itu.

Sepanjang setahun pertama pendidikan orthopedi sebagian besar waktu dihabiskan di bangsal. Jadwal jaga yang ketat seringkali membuat residen sukar untuk dapat meninggalkan tugas di bangsal. Kami jadi memahami betapa tidak mudahnya tugas perawat. Merekalah yang sesungguhnya merawat pasien dengan segala keluh kesahnya, melayani pasien yang-mungkin-mempertanyakan dokter yang kurang menjelaskan mengenai penyakit dan terapi dalam bahasa pasien.

Perawat sebagai asisten operator saat operasi merupakan bagian yang vital bagi dokter bedah orthopedi. Peralatan bedah orthopedi tergolong yang paling beragam, seringkali berbeda beda untuk jenis operasi. Terlebih jenis operasi khusus. Diperlukan orang yang paham dalam mempersiapkan semua peralatan tersebut. Hal demikian akan mempermudah tugas ahli orthopedi ketika melakukan operasi.

Siapakah pioner perawat orthopedi? Adalah seorang wanita bernama Dame Agnes Hunt yang dikenal sebagai pioneer perawat orthopedi dunia. Perawat yang berasal dari Shropshire Inggris ini banyak berperan dalam perawatan anak anak cacat pada masanya, beliau juga banyak terlibat dalam perawatan korban akibat perang dunia pertama di Inggris. Bersama Robert jones, seorang ahli bedah orthopedi, mereka mendirikan RS Orthopedi “Robert Jones and Agnes Hunt Orthopaedic Hospital (RJAH)”.

image

Perawat orthopedi memiliki peranan penting dengan spesialisasi keperawatan muskuloskeletal, baik kamar operasi, bangsal perawatan, poliklinik/rawat jalan dan perawatan rumah (home care)). Setiap tanggal 30 Oktober masyarakat Amerika memperingatinya sebagai Hari Perawat Orthopedi (International Orthopaedic Nurse Day). Sejak tahun 2001 secara internasional 30 oktober dikenal sebagai hari peringatan dedikasi perawat orthopedi.

Beberapa waktu nanti saya akan memulai mengulang kalimat perkenalan itu di RS tempat pengabdian saya bertahun kedepan. Dengan menaruh harapan besar akan bisa bekerja sama penuh keakraban bersama perawat perawat orthopedi tangguh demi kepentingan pasien kami.

Yogyakarta, 20 Februari 2014

Source :

1. http://www.orthonurse.org/p/cm/ld/fid=34

2. http://en.m.wikipedia.org/wiki/Agnes_Hunt

3. http://www.snipview.com/q/Agnes%20Hunt