Suatu pagi di bangsal perawatan saya mendapat tugas untuk bertanggung jawab terhadap penanganan seorang pasien multiple trauma yang datang melalui Emergency Room. Remaja laki laki berusia sekitar 14 tahun itu tubuhnya tertutup perban dibeberapa bagian dan beberapa masih tampak noda darah menandakan cidera yang dialami amat berat.
Dia mengalami kecelakaan motor ketika hendak menjemput adik perempuannya sore sebelumnya. Dia menderita cidera kepala berat, trauma organ dalam dan patah tulang paha. Cidera kepala berat membuatnya dalam keadaan koma hingga beberapa minggu. Selama itu dia menjalani operasi untuk mengobati kerusakan organ dalamnya. Penanganan patah tulang dilakukan dengan pemasangan skin traksi dan frame khusus sampai akhirnya setelah kondisi cukup stabil akan dilakukan operasi pemasangan intramedullary nail.
Kedua orang tuanya tampak pasrah menghadapi tragedi yang terjadi pada putra kesayangannya. Ibunya masih tampak berkaca-kaca. Saya berusaha tersenyum sambil memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa sayalah yang akan menjadi dokter bangsal untuk anaknya. Menceritakan betapa berat trauma yang dialami putra kesayangannya itu sembari menyampaikan apa yang telah tim kami lakukan untuk penanganan kegawat daruratannya semalam.
Sepanjang perawatan berminggu-minggu selanjutnya saya banyak berinteraksi dengan ayah dan ibunya, berbicara dari hati sembari mengawasi perkembangannya saat visite pagi. Mengabarkan kondisi, perkembangan terbaru dan rencana perawatan lanjutan. Ibunya beberapa kali menunjukkan kepada saya foto adik perempuannya yang berusia sekitar 6 tahun, cantik. Betapa bangga ia saat menceritakan kelincahan putrinya itu. Prestasinya mengikuti beberapa lomba modelling cilik dan menjadi juara pertama.
Kedua orang tuanya bergantian menunggui, menjaga dan mendampingi dia selama berminggu-minggu. Namun pada akhirnya dia tidak bisa bertahan, saya tidak sempat melihat akhir hayatnya sebab penanganan dari orthopedi telah selesai, dia ditangani oleh tim dokter dari spesialisasi lain. Patah tulang paha telah kami operasi ketika kondisinya cukup stabil. Namun banyaknya cidera organ dalam membuat kondisinya turun naik, sulit sekali dipertahankan. Ibunya mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada saya mengabarkan dia sudah dipanggil Tuhan, beliaupun menyampaikan terima kasih atas perawatan dan pelayanan yang tim kami berikan. Beliau menyampaikan secara tersurat rasa puas beliau dan seluruh keluarga mengenai penanganan tim kami terhadap putra tercintanya.
Kesedihan luar biasa tentu dirasakan keluarga, bagi kami pun demikian. Segala upaya telah kami curahkan, berminggu minggu tenaga dan pikiran tercurah untuk membuat stabil dan menangani semua cidera berat yang dialami. Namun Tuhan ternyata memiliki rencana yang lebih indah bagi dia dan bagi semua keluarga yang dia cintai.

Dalam melayani pasien selayaknya kita memberikan yang terbaik. Ajak pasien atau keluarganya berbicara dari hati ke hati, sampaikan kondisi sebenarnya, pilihan terapi dan rencana terapi terbaik menurut pertimbangan rasional kita. Ketahui apa keinginan mereka dan ajak mereka untuk menentukan pilihan terapi tersebut.
Sampaikan semua konsekuensi keadaan dan pilihan terapi hingga yang terburuk. Tentunya tetap memberikan semangat dan menyampaikan bahwa kesembuhan hanya diberikan Tuhan kepada mereka yang mengupayakan kesembuhan dengan berbagai caranya. Apa yang diberikan Tuhan akan berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan. Terlepas pada akhirnya bisa jadi tuhan menjadikan itu sebagai tabungan amal bagi mereka yang belum diberi kesembuhan. Sebab sembuh bukan berarti yang terbaik untuk suatu penyakit.
Komunikasi dari hati adalah bagian dari sikap profesional seorang dokter. Konsep tentang profesionalisme ini yang selalu disampaikan oleh guru saya, Profesor Armis SpB, SpOT(K). Tidak jemunya beliau mengajarkan hal ini setiap kali bertemu kami. Menanamkan bagaimana mestinya saya dan seluruh murid beliau sebagai dokter ahli bedah orthopedi menempatkan diri, bersikap perilaku profesional.
Sebaik apapun tindakan yang dilakukan oleh dokter jika tanpa disertai cara berkomunikasi yang baik kepada pasien akan membuat apa yang diusahakannya itu menjadi kurang bermakna, justru bukan mustahil dapat menimbulkan bermacam interpretasi. Kurang baik, jelek bahkan kesan sangat buruk di mata pasien.
Maka sahabatku, mari kita kembali mengingatkan diri kita masing-masing. Sebagai seorang dokter yang diberikan anugerah setitik ilmu medis oleh Tuhan mari kita mulai belajar kembali bagaimana cara tersenyum, belajar bagaimana berbicara dari hati kepada setiap pasien. Memperlakukan mereka sebagaimana perlakuan kita terhadap ayah ibu, saudara kandung atau anak kita sendiri. Talk to patients, hear them and treat them like our close family.
Yogyakarta, 23 Desember 2014