Arsip Tag: risalah

Ayahku itu dokter dan tukang sulap

Suatu sore sepulang dari rumah sakit aku mendengar anakku berbincang dengan sepupu-sepupunya dan eyang putri. Isi perbincangan sore itu mengenai pekerjaan orangtua masing masing. Tentu saja dikemas dengan bahasa kanak-kanak.

Ketika sampai giliran Ahmadhilla, begitu nama putri saya, dengan lantang dia berkata bahwa ayahnya adalah seorang dokter bedah tulang dan……..tukang sulap. Eyang putri tertawa mendengarnya.

Seperti itulah pandangan dia tentang ayahnya. Sebagai dokter dan juga tukang sulap. Tentu bukan tukang sulap profesional atau amatir sekalipun. Trik sulap sederhana yang bisa dikatakan trik sulap layak tampil pun tidak ada satupun saya kuasai.

Sejak kecil memang dia senang sekali jika kami bermain “sulap”. Menghilangkan benda kecil dari genggaman tangan, menggantinya dengan benda lain, mengembalikan ke benda semula, menghilangkan jari dan beberapa permainan lain.

Masing-masing ayah punya cara spesial bermain bersama anak. Demikian pula dengan kami, bermain lego, membaca koleksi bukunya, berpetualang menyusuri sawah, bermain di tepian sungai progo depan desa kami, memberi makan ayam ketawa miliknya, berenang dan berbagai permainan ala kami.

image

Apapun bentuknya, kedekatan antara ayah dan anak wajib dibangun sesuai cara kita sendiri. Hingga tadi pagi dia masih saja bangga bercerita kepada eyang putri bahwa ayahnya adalah dokter bedah tulang………………….dan tukang sulap.

Yogyakarta, Januari 2015

Talk to patients, treat like a part of our own family

Suatu pagi di bangsal perawatan saya mendapat tugas untuk bertanggung jawab terhadap penanganan seorang pasien multiple trauma yang datang melalui Emergency Room. Remaja laki laki berusia sekitar 14 tahun itu tubuhnya tertutup perban dibeberapa bagian dan beberapa masih tampak noda darah menandakan cidera yang dialami amat berat.

Dia mengalami kecelakaan motor ketika hendak menjemput adik perempuannya sore sebelumnya. Dia menderita cidera kepala berat, trauma organ dalam dan patah tulang paha. Cidera kepala berat membuatnya dalam keadaan koma hingga beberapa minggu.  Selama itu dia menjalani operasi untuk mengobati kerusakan organ dalamnya. Penanganan patah tulang dilakukan dengan pemasangan skin traksi dan frame khusus sampai akhirnya setelah kondisi cukup stabil akan dilakukan operasi pemasangan intramedullary nail.

Kedua orang tuanya tampak pasrah menghadapi tragedi yang terjadi pada putra kesayangannya. Ibunya masih tampak berkaca-kaca. Saya berusaha tersenyum sambil memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa sayalah yang akan menjadi dokter bangsal untuk anaknya. Menceritakan betapa berat trauma yang dialami putra kesayangannya itu sembari menyampaikan apa yang telah tim kami lakukan untuk penanganan kegawat daruratannya semalam.

Sepanjang perawatan berminggu-minggu selanjutnya saya banyak berinteraksi dengan ayah dan ibunya, berbicara dari hati sembari mengawasi perkembangannya saat visite pagi.  Mengabarkan kondisi,  perkembangan terbaru dan rencana perawatan lanjutan. Ibunya beberapa kali menunjukkan kepada saya foto adik perempuannya yang berusia sekitar 6 tahun, cantik. Betapa bangga ia saat menceritakan kelincahan putrinya itu. Prestasinya mengikuti beberapa lomba modelling cilik dan menjadi juara pertama.

Kedua orang tuanya bergantian menunggui, menjaga dan mendampingi dia selama berminggu-minggu. Namun pada akhirnya dia tidak bisa bertahan, saya tidak sempat melihat akhir hayatnya sebab penanganan dari orthopedi telah selesai, dia ditangani oleh tim dokter dari spesialisasi lain. Patah tulang paha telah kami operasi ketika kondisinya cukup stabil. Namun banyaknya cidera organ dalam membuat kondisinya turun naik, sulit sekali dipertahankan. Ibunya mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada saya mengabarkan dia sudah dipanggil Tuhan, beliaupun menyampaikan terima kasih atas perawatan dan pelayanan yang tim kami berikan. Beliau menyampaikan secara tersurat rasa puas beliau dan seluruh keluarga mengenai penanganan tim kami terhadap putra tercintanya.

Kesedihan luar biasa tentu dirasakan keluarga, bagi kami pun demikian. Segala upaya telah kami curahkan, berminggu minggu tenaga dan pikiran tercurah untuk membuat stabil dan menangani semua cidera berat yang dialami. Namun Tuhan ternyata memiliki rencana yang lebih indah bagi dia dan bagi semua keluarga yang dia cintai.

image

Dalam melayani pasien selayaknya kita memberikan yang terbaik. Ajak pasien atau keluarganya berbicara dari hati ke hati, sampaikan kondisi sebenarnya, pilihan terapi dan rencana terapi terbaik menurut pertimbangan rasional kita. Ketahui apa keinginan mereka dan ajak mereka untuk menentukan pilihan terapi tersebut.

Sampaikan semua konsekuensi keadaan dan pilihan terapi hingga yang terburuk. Tentunya tetap memberikan semangat dan menyampaikan bahwa kesembuhan hanya diberikan Tuhan kepada mereka yang mengupayakan kesembuhan dengan berbagai caranya. Apa yang diberikan Tuhan akan berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan. Terlepas pada akhirnya bisa jadi tuhan menjadikan itu sebagai tabungan amal bagi mereka yang belum diberi kesembuhan.  Sebab sembuh bukan berarti yang terbaik untuk suatu penyakit.

Komunikasi dari hati adalah bagian dari sikap profesional seorang dokter.  Konsep tentang profesionalisme ini yang selalu disampaikan oleh guru saya, Profesor Armis SpB, SpOT(K). Tidak jemunya beliau mengajarkan hal ini setiap kali bertemu kami. Menanamkan bagaimana mestinya saya dan seluruh murid beliau sebagai dokter ahli bedah orthopedi menempatkan diri, bersikap perilaku profesional.

Sebaik apapun tindakan yang dilakukan oleh dokter jika tanpa disertai cara berkomunikasi yang baik kepada pasien akan membuat apa yang diusahakannya itu menjadi kurang bermakna, justru bukan mustahil dapat menimbulkan bermacam interpretasi. Kurang baik, jelek bahkan kesan sangat buruk di mata pasien.

Maka sahabatku, mari kita kembali mengingatkan diri kita masing-masing.  Sebagai seorang dokter yang diberikan anugerah setitik ilmu medis oleh Tuhan mari kita mulai belajar kembali bagaimana cara tersenyum, belajar bagaimana berbicara dari hati kepada setiap pasien. Memperlakukan mereka sebagaimana perlakuan kita terhadap ayah ibu, saudara kandung atau anak kita sendiri. Talk to patients, hear them and treat them like our close family.

Yogyakarta, 23 Desember 2014

Syukur

Bersama dengan beberapa kawan-kawan relawan MERC sekitar kurang lebih sebulan yang lalu saya melakukan misi sosial pengobatan gratis di ‘pedalaman’ Gunung Kidul. Perjalanan menempuh waktu tak kurang dari satu setengah jam dari perbatasan kota Yogyakarta. Melewati dataran yang tandus selain karena memang daerah bukit karang dan kapur yang minim mata air juga karena saat ini sedang berada puncaknya musim kemarau. Jalan yang dilalui cukup bagus sampai beberapa kilometer terakhir. Letak dusun yang kami tuju berada sekitar 2 kilometer dari jalan antar kecamatan. Kami harus melalui jalan berbatu tanpa aspal dan turun naik jurang kering berbatu. Memasuki perkampungan tampak sekali nuansa kekeringan yang sudah jamak ditemukan di Gunung Kidul terlebih puncak kemarau seperti sekarang.

image

Di wilayah ini air menjadi barang langka. Satu tangki air dihargai tak kurang dari seratus lima puluh ribu rupiah, itupun hanya cukup untuk sebulan. Anda bisa membayangkan di wilayah yang nyaris 100 persen warganya berada di bawah garis kemiskinan harus terbebani membeli air seharga 40-50 % pendapatan sebulan. Usaha pemerintah tak kurang kurangnya dikonsepkan, namun tak kurang kurangnya pula realisasi ditunda untuk kepentingan dan alasan antah berantah.

Pelayanan kesehatan kami lakukan dengan tidak terburu buru. Ada dua dokter ditambah seorang perawat, 4 orang mahasiswa kedokteran tahun keempat serta 2 orang relawan non medis yang bertugas mengurusi pendaftaran. Seperti biasanya kasus didominasi oleh hipertensi, ISPA dan beberapa penyakit umum lainnya.

Masih adanya wilayah yang sulit dijangkau dan tertinggal di Propinsi DIY inilah yang menarik. Kita, para dokter yang baru saja dilantik dengan bekal segudang idealisme, meskipun terdidik untuk mengambil keputusan-keputusan pragmatis dan beberapa mungkin segera bergabung dalam program PTT di daerah sangat terpencil mau tidak mau akan membandingkan realitas ini. Wong di Jogja saja masih ada daerah yang sulit di jangkau apalagi di Irian, Nusa Tenggara Timur dan beberapa wilayah Indonesia lain. Kesukaran macam apa yang akan kita temukan di sana, jangankan sinyal telepon yang kebutuhan tersier, listrik pun hanya ada mulai selepas magrib hingga jam 10 malam. Atau bukan tidak mungkin di beberapa tempat tidak ada sama sekali.

image

Awal tahun 2007 saya sempat bergabung selama 2 minggu dengan kawan kawan relawan MERC untuk membantu korban banjir jakarta di Babelan, termasuk wilayah Bekasi. Apa yang ditemui disana sungguh menyedihkan. Di wilayah yang tidak seberapa jauhnya dari ibukota negara Indonesia, relatif tidak jauh juga dari karawang yang menjadi jujugan banyak dokter fresh graduate, masih ada kampung yang hari gini mayoritas warganya tidak memiliki toilet. Rutinitas defekasi mereka lakukan di sungai kecil yang berbau busuk (campuran antara limbah pabrik dan limbah rumah tangga) atau di pematang-pematang sawah. Sumur menghasilkan air tapi tidak layak minum, terlalu asin. Untuk kebutuhan sehari hari mereka harus membeli air.

Kami sempat mendatangkan alat pengolahan air hingga siap minum dari sebuah universitas di Jakarta (saya lupa nama universitasnya) namun tetap tidak bisa menjadikan air tersebut layak untuk diminum. Sebegitu mahalnya hidup yang bahkan untuk minum mereka harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat banyak untuk ukuran mereka.

Sementara waktu di lain tempat kita asyik sibuk menadahi butiran peluh yang telah berubah menjadi emas dan perak. Dinar dan Dirham. Sementara di lain tempat kita hidup dalam kelimpahan, meskipun sebagian ingat namun lebih sering sebagian kita lupa. Siapa yang hari ini ingat bahwa kita punya telinga, hidung dan tangan yang indah.

Sahabatku, setidak berhasil apapun warung yang nanti akan kita buka, atau segagal apapun karir yang nanti kita hadapi sesungguhnya tidak patut jika kita mengurangi syukur kepada Tuhan sekecil apapun.

Maka nikmat Tuhan kita yang manakah yang tidak pantas kita syukuri?

image

Yogyakarta, 28 Oktober 2007