Arsip Tag: rindu

Adam

Bertuturlah alam padaku
Hikayat kedamaian ribuan windu tak terusik
Kala semilir angin pagi menyapa nuh dengan potongan kayunya
Dan desir angin malam iba melihat Yusuf
Sendiri dalam sumur
Empat ribu tahun silam

Selama itu alam setia
Pada kebenaran hakiki
Pada cahaya yang menyelubungi Muhammad malam itu.

Yogyakarta, Pre 2000

image

Bulan Kemerahan

Bulan kemerahan diujung dua kelapa
Menantang lembayung yang menyurutkan warna bunga
Menjadi satu bahasa

Dua kuntum bunga yang tersisa
Berdiri tegak diatas gelombang
Menantang bulan kemerahan
Dan lembayung diujung teluk

Suak Timah, 23 Februari 2005

image

Sadjak Pedjuang dan Seputjuk Rindu Buat Patjarnja

Tjahaja bulan mengirimkan rindumu tadi malam
Maaf djika kanda tiada mampu bersua lusa nanti
Front masih butuh kanda untuk bertempur
Banjak musuh musti dihadapi
Kanda tiada letih, hanja rindu ini jang bergelora

Djikalau sadja nanti perang sudah usai
Aku pasti datangi ayah bundamu
Aku katakan pada mereka : Bapak, ini saja, pedjuang bangsa,
Ingin meminang Rindu anakmu

Doakan Kanda biar tjepat pedjuangan usai
Dan republik ini berdiri
Merdeka !!!!!!

Front Merapi, 21 Djanuari 05

image

Ayahku itu dokter dan tukang sulap

Suatu sore sepulang dari rumah sakit aku mendengar anakku berbincang dengan sepupu-sepupunya dan eyang putri. Isi perbincangan sore itu mengenai pekerjaan orangtua masing masing. Tentu saja dikemas dengan bahasa kanak-kanak.

Ketika sampai giliran Ahmadhilla, begitu nama putri saya, dengan lantang dia berkata bahwa ayahnya adalah seorang dokter bedah tulang dan……..tukang sulap. Eyang putri tertawa mendengarnya.

Seperti itulah pandangan dia tentang ayahnya. Sebagai dokter dan juga tukang sulap. Tentu bukan tukang sulap profesional atau amatir sekalipun. Trik sulap sederhana yang bisa dikatakan trik sulap layak tampil pun tidak ada satupun saya kuasai.

Sejak kecil memang dia senang sekali jika kami bermain “sulap”. Menghilangkan benda kecil dari genggaman tangan, menggantinya dengan benda lain, mengembalikan ke benda semula, menghilangkan jari dan beberapa permainan lain.

Masing-masing ayah punya cara spesial bermain bersama anak. Demikian pula dengan kami, bermain lego, membaca koleksi bukunya, berpetualang menyusuri sawah, bermain di tepian sungai progo depan desa kami, memberi makan ayam ketawa miliknya, berenang dan berbagai permainan ala kami.

image

Apapun bentuknya, kedekatan antara ayah dan anak wajib dibangun sesuai cara kita sendiri. Hingga tadi pagi dia masih saja bangga bercerita kepada eyang putri bahwa ayahnya adalah dokter bedah tulang………………….dan tukang sulap.

Yogyakarta, Januari 2015

Rehat

image

Aku bersama secangkir teh kosong
Membaca waktu yang terlampaui
Sepanjang dari sini
Lalu ke barat

Aku mencoba mengeja jejak tertinggal
Dihembusan nafas yang terbentang
Searah kicau burung senja

Bagai angin menggelorakan samudera
Aku karam tujuh ribu kaki disana

                Yogya, 13 januari 2003

Jakarta

image

Bulan temaram menggantung di ujung siang
Sewarna lembayung berselaput awan
Putih dan abu-abu

Aku berjalan melintas kerontang
Wajah lelah rindu rumah
Percis mega yang juga lembayung

Baju berdebu capek menahan dua juta manusia
Membulatkan tekad bertemu kekasihnya
Sore ini.

Jakarta, Pertengahan 2000

Dimana Engkau Meulaboh

Ranahku tersapu sembilu pagi kemarin

Dari serambi hingga tebing tinggi tanah perindu

“Kami hanyut bersama seribu duka”

Kau dimana Meulaboh?

…………..

Adakah darah yang tersapu gelombang,

hingga kau tak bisa berkata kata lagi?

Ataukah karang tlah merampas jemari kecilmu?

………….

Aku tersayat ketika ombak memecahmu

Menjadi seribu potong tangan

Adakah hitam menutupi cahaya yang singgah dirumahmu?

Kemana kau meulaboh?

…………………

Seribu anakmu tak beribu

Seratus tiga ratus hilang dari bapaknya

Bahkan ketika senja menjemput wajah-wajah tak bernyawa

Kami tak tau dimana derumu

…………

Adakah malam tlah menutupi matahari pagi itu?

Ataukah badai yang mencengkeram

Celoteh adik kepada abangnya

………….

“kemarin pagi samudera menjadi karang yang menusuk dada”

………….

Aku menangiskan duka

ketika air matamu

Menjelma menjadi sepuluhribu jantung

Yang tak lagi berdetak

             Jawadwipa, 28 desember 2004

image

Syukur

Bersama dengan beberapa kawan-kawan relawan MERC sekitar kurang lebih sebulan yang lalu saya melakukan misi sosial pengobatan gratis di ‘pedalaman’ Gunung Kidul. Perjalanan menempuh waktu tak kurang dari satu setengah jam dari perbatasan kota Yogyakarta. Melewati dataran yang tandus selain karena memang daerah bukit karang dan kapur yang minim mata air juga karena saat ini sedang berada puncaknya musim kemarau. Jalan yang dilalui cukup bagus sampai beberapa kilometer terakhir. Letak dusun yang kami tuju berada sekitar 2 kilometer dari jalan antar kecamatan. Kami harus melalui jalan berbatu tanpa aspal dan turun naik jurang kering berbatu. Memasuki perkampungan tampak sekali nuansa kekeringan yang sudah jamak ditemukan di Gunung Kidul terlebih puncak kemarau seperti sekarang.

image

Di wilayah ini air menjadi barang langka. Satu tangki air dihargai tak kurang dari seratus lima puluh ribu rupiah, itupun hanya cukup untuk sebulan. Anda bisa membayangkan di wilayah yang nyaris 100 persen warganya berada di bawah garis kemiskinan harus terbebani membeli air seharga 40-50 % pendapatan sebulan. Usaha pemerintah tak kurang kurangnya dikonsepkan, namun tak kurang kurangnya pula realisasi ditunda untuk kepentingan dan alasan antah berantah.

Pelayanan kesehatan kami lakukan dengan tidak terburu buru. Ada dua dokter ditambah seorang perawat, 4 orang mahasiswa kedokteran tahun keempat serta 2 orang relawan non medis yang bertugas mengurusi pendaftaran. Seperti biasanya kasus didominasi oleh hipertensi, ISPA dan beberapa penyakit umum lainnya.

Masih adanya wilayah yang sulit dijangkau dan tertinggal di Propinsi DIY inilah yang menarik. Kita, para dokter yang baru saja dilantik dengan bekal segudang idealisme, meskipun terdidik untuk mengambil keputusan-keputusan pragmatis dan beberapa mungkin segera bergabung dalam program PTT di daerah sangat terpencil mau tidak mau akan membandingkan realitas ini. Wong di Jogja saja masih ada daerah yang sulit di jangkau apalagi di Irian, Nusa Tenggara Timur dan beberapa wilayah Indonesia lain. Kesukaran macam apa yang akan kita temukan di sana, jangankan sinyal telepon yang kebutuhan tersier, listrik pun hanya ada mulai selepas magrib hingga jam 10 malam. Atau bukan tidak mungkin di beberapa tempat tidak ada sama sekali.

image

Awal tahun 2007 saya sempat bergabung selama 2 minggu dengan kawan kawan relawan MERC untuk membantu korban banjir jakarta di Babelan, termasuk wilayah Bekasi. Apa yang ditemui disana sungguh menyedihkan. Di wilayah yang tidak seberapa jauhnya dari ibukota negara Indonesia, relatif tidak jauh juga dari karawang yang menjadi jujugan banyak dokter fresh graduate, masih ada kampung yang hari gini mayoritas warganya tidak memiliki toilet. Rutinitas defekasi mereka lakukan di sungai kecil yang berbau busuk (campuran antara limbah pabrik dan limbah rumah tangga) atau di pematang-pematang sawah. Sumur menghasilkan air tapi tidak layak minum, terlalu asin. Untuk kebutuhan sehari hari mereka harus membeli air.

Kami sempat mendatangkan alat pengolahan air hingga siap minum dari sebuah universitas di Jakarta (saya lupa nama universitasnya) namun tetap tidak bisa menjadikan air tersebut layak untuk diminum. Sebegitu mahalnya hidup yang bahkan untuk minum mereka harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat banyak untuk ukuran mereka.

Sementara waktu di lain tempat kita asyik sibuk menadahi butiran peluh yang telah berubah menjadi emas dan perak. Dinar dan Dirham. Sementara di lain tempat kita hidup dalam kelimpahan, meskipun sebagian ingat namun lebih sering sebagian kita lupa. Siapa yang hari ini ingat bahwa kita punya telinga, hidung dan tangan yang indah.

Sahabatku, setidak berhasil apapun warung yang nanti akan kita buka, atau segagal apapun karir yang nanti kita hadapi sesungguhnya tidak patut jika kita mengurangi syukur kepada Tuhan sekecil apapun.

Maka nikmat Tuhan kita yang manakah yang tidak pantas kita syukuri?

image

Yogyakarta, 28 Oktober 2007