Apa yang tidak dapat kau beli disini?
Segalanya ada disini
Asal ada uang, apa yang kau mau
Beli, beli
Segalanya ada disini
Nyawapun
Kalau kau mau
Ada
Karena disini kedai segala ada
Kami menyediakan segalanya
Jogja, awal reformasi 98
Bertuturlah alam padaku
Hikayat kedamaian ribuan windu tak terusik
Kala semilir angin pagi menyapa nuh dengan potongan kayunya
Dan desir angin malam iba melihat Yusuf
Sendiri dalam sumur
Empat ribu tahun silam
Selama itu alam setia
Pada kebenaran hakiki
Pada cahaya yang menyelubungi Muhammad malam itu.
Yogyakarta, Pre 2000
Tjahaja bulan mengirimkan rindumu tadi malam
Maaf djika kanda tiada mampu bersua lusa nanti
Front masih butuh kanda untuk bertempur
Banjak musuh musti dihadapi
Kanda tiada letih, hanja rindu ini jang bergelora
Djikalau sadja nanti perang sudah usai
Aku pasti datangi ayah bundamu
Aku katakan pada mereka : Bapak, ini saja, pedjuang bangsa,
Ingin meminang Rindu anakmu
Doakan Kanda biar tjepat pedjuangan usai
Dan republik ini berdiri
Merdeka !!!!!!
Front Merapi, 21 Djanuari 05
Suatu sore sepulang dari rumah sakit aku mendengar anakku berbincang dengan sepupu-sepupunya dan eyang putri. Isi perbincangan sore itu mengenai pekerjaan orangtua masing masing. Tentu saja dikemas dengan bahasa kanak-kanak.
Ketika sampai giliran Ahmadhilla, begitu nama putri saya, dengan lantang dia berkata bahwa ayahnya adalah seorang dokter bedah tulang dan……..tukang sulap. Eyang putri tertawa mendengarnya.
Seperti itulah pandangan dia tentang ayahnya. Sebagai dokter dan juga tukang sulap. Tentu bukan tukang sulap profesional atau amatir sekalipun. Trik sulap sederhana yang bisa dikatakan trik sulap layak tampil pun tidak ada satupun saya kuasai.
Sejak kecil memang dia senang sekali jika kami bermain “sulap”. Menghilangkan benda kecil dari genggaman tangan, menggantinya dengan benda lain, mengembalikan ke benda semula, menghilangkan jari dan beberapa permainan lain.
Masing-masing ayah punya cara spesial bermain bersama anak. Demikian pula dengan kami, bermain lego, membaca koleksi bukunya, berpetualang menyusuri sawah, bermain di tepian sungai progo depan desa kami, memberi makan ayam ketawa miliknya, berenang dan berbagai permainan ala kami.
Apapun bentuknya, kedekatan antara ayah dan anak wajib dibangun sesuai cara kita sendiri. Hingga tadi pagi dia masih saja bangga bercerita kepada eyang putri bahwa ayahnya adalah dokter bedah tulang………………….dan tukang sulap.
Yogyakarta, Januari 2015
Ranahku tersapu sembilu pagi kemarin
Dari serambi hingga tebing tinggi tanah perindu
“Kami hanyut bersama seribu duka”
Kau dimana Meulaboh?
…………..
Adakah darah yang tersapu gelombang,
hingga kau tak bisa berkata kata lagi?
Ataukah karang tlah merampas jemari kecilmu?
………….
Aku tersayat ketika ombak memecahmu
Menjadi seribu potong tangan
Adakah hitam menutupi cahaya yang singgah dirumahmu?
Kemana kau meulaboh?
…………………
Seribu anakmu tak beribu
Seratus tiga ratus hilang dari bapaknya
Bahkan ketika senja menjemput wajah-wajah tak bernyawa
Kami tak tau dimana derumu
…………
Adakah malam tlah menutupi matahari pagi itu?
Ataukah badai yang mencengkeram
Celoteh adik kepada abangnya
………….
“kemarin pagi samudera menjadi karang yang menusuk dada”
………….
Aku menangiskan duka
ketika air matamu
Menjelma menjadi sepuluhribu jantung
Yang tak lagi berdetak
Jawadwipa, 28 desember 2004
Bersama dengan beberapa kawan-kawan relawan MERC sekitar kurang lebih sebulan yang lalu saya melakukan misi sosial pengobatan gratis di ‘pedalaman’ Gunung Kidul. Perjalanan menempuh waktu tak kurang dari satu setengah jam dari perbatasan kota Yogyakarta. Melewati dataran yang tandus selain karena memang daerah bukit karang dan kapur yang minim mata air juga karena saat ini sedang berada puncaknya musim kemarau. Jalan yang dilalui cukup bagus sampai beberapa kilometer terakhir. Letak dusun yang kami tuju berada sekitar 2 kilometer dari jalan antar kecamatan. Kami harus melalui jalan berbatu tanpa aspal dan turun naik jurang kering berbatu. Memasuki perkampungan tampak sekali nuansa kekeringan yang sudah jamak ditemukan di Gunung Kidul terlebih puncak kemarau seperti sekarang.
Di wilayah ini air menjadi barang langka. Satu tangki air dihargai tak kurang dari seratus lima puluh ribu rupiah, itupun hanya cukup untuk sebulan. Anda bisa membayangkan di wilayah yang nyaris 100 persen warganya berada di bawah garis kemiskinan harus terbebani membeli air seharga 40-50 % pendapatan sebulan. Usaha pemerintah tak kurang kurangnya dikonsepkan, namun tak kurang kurangnya pula realisasi ditunda untuk kepentingan dan alasan antah berantah.
Pelayanan kesehatan kami lakukan dengan tidak terburu buru. Ada dua dokter ditambah seorang perawat, 4 orang mahasiswa kedokteran tahun keempat serta 2 orang relawan non medis yang bertugas mengurusi pendaftaran. Seperti biasanya kasus didominasi oleh hipertensi, ISPA dan beberapa penyakit umum lainnya.
Masih adanya wilayah yang sulit dijangkau dan tertinggal di Propinsi DIY inilah yang menarik. Kita, para dokter yang baru saja dilantik dengan bekal segudang idealisme, meskipun terdidik untuk mengambil keputusan-keputusan pragmatis dan beberapa mungkin segera bergabung dalam program PTT di daerah sangat terpencil mau tidak mau akan membandingkan realitas ini. Wong di Jogja saja masih ada daerah yang sulit di jangkau apalagi di Irian, Nusa Tenggara Timur dan beberapa wilayah Indonesia lain. Kesukaran macam apa yang akan kita temukan di sana, jangankan sinyal telepon yang kebutuhan tersier, listrik pun hanya ada mulai selepas magrib hingga jam 10 malam. Atau bukan tidak mungkin di beberapa tempat tidak ada sama sekali.
Awal tahun 2007 saya sempat bergabung selama 2 minggu dengan kawan kawan relawan MERC untuk membantu korban banjir jakarta di Babelan, termasuk wilayah Bekasi. Apa yang ditemui disana sungguh menyedihkan. Di wilayah yang tidak seberapa jauhnya dari ibukota negara Indonesia, relatif tidak jauh juga dari karawang yang menjadi jujugan banyak dokter fresh graduate, masih ada kampung yang hari gini mayoritas warganya tidak memiliki toilet. Rutinitas defekasi mereka lakukan di sungai kecil yang berbau busuk (campuran antara limbah pabrik dan limbah rumah tangga) atau di pematang-pematang sawah. Sumur menghasilkan air tapi tidak layak minum, terlalu asin. Untuk kebutuhan sehari hari mereka harus membeli air.
Kami sempat mendatangkan alat pengolahan air hingga siap minum dari sebuah universitas di Jakarta (saya lupa nama universitasnya) namun tetap tidak bisa menjadikan air tersebut layak untuk diminum. Sebegitu mahalnya hidup yang bahkan untuk minum mereka harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat banyak untuk ukuran mereka.
Sementara waktu di lain tempat kita asyik sibuk menadahi butiran peluh yang telah berubah menjadi emas dan perak. Dinar dan Dirham. Sementara di lain tempat kita hidup dalam kelimpahan, meskipun sebagian ingat namun lebih sering sebagian kita lupa. Siapa yang hari ini ingat bahwa kita punya telinga, hidung dan tangan yang indah.
Sahabatku, setidak berhasil apapun warung yang nanti akan kita buka, atau segagal apapun karir yang nanti kita hadapi sesungguhnya tidak patut jika kita mengurangi syukur kepada Tuhan sekecil apapun.
Maka nikmat Tuhan kita yang manakah yang tidak pantas kita syukuri?
Yogyakarta, 28 Oktober 2007