Arsip Tag: puisi

ISIS

[A very short poet by hilmimuhammad]

Jendela tertutup rapat
Pintu telah lama berkarat
Labah-labah asyik mematri kawat nyamuk Diatasnya debu

Semilir yang kau ceritakan
Datang dari sela pintu
Yang membasuh cermin tembaga
Tak pernah ada

Ini belenggu yang mengganggu
Rantai di kaki leher dahi
Sempit.

Sudahlah pecah
Biar sepoi-sepoi memecah pengap
Biar isis

Yogyakarta, bulan satu enam belas

image

Tahajjud

Matahari belum bangun ketika aku berkeluh kesah kepada kekasihku

Hembusan semilir dan burung burung malam
Menjadi ‘amiiin’ satu satu kalimat ini

Mungkin
Kau juga masih terlelap
Dengan mimpi tentang buah hati

Biar saja,
Dalam hening aku bertemu damai
Dalam gelap aku berkeluh tentang silap

Kalimantan, November 2008

image

Adam

Bertuturlah alam padaku
Hikayat kedamaian ribuan windu tak terusik
Kala semilir angin pagi menyapa nuh dengan potongan kayunya
Dan desir angin malam iba melihat Yusuf
Sendiri dalam sumur
Empat ribu tahun silam

Selama itu alam setia
Pada kebenaran hakiki
Pada cahaya yang menyelubungi Muhammad malam itu.

Yogyakarta, Pre 2000

image

Bulan Kemerahan

Bulan kemerahan diujung dua kelapa
Menantang lembayung yang menyurutkan warna bunga
Menjadi satu bahasa

Dua kuntum bunga yang tersisa
Berdiri tegak diatas gelombang
Menantang bulan kemerahan
Dan lembayung diujung teluk

Suak Timah, 23 Februari 2005

image

Sadjak Pedjuang dan Seputjuk Rindu Buat Patjarnja

Tjahaja bulan mengirimkan rindumu tadi malam
Maaf djika kanda tiada mampu bersua lusa nanti
Front masih butuh kanda untuk bertempur
Banjak musuh musti dihadapi
Kanda tiada letih, hanja rindu ini jang bergelora

Djikalau sadja nanti perang sudah usai
Aku pasti datangi ayah bundamu
Aku katakan pada mereka : Bapak, ini saja, pedjuang bangsa,
Ingin meminang Rindu anakmu

Doakan Kanda biar tjepat pedjuangan usai
Dan republik ini berdiri
Merdeka !!!!!!

Front Merapi, 21 Djanuari 05

image

Malam malam

Malam malam bermain bintang
Menyanyi rerindu sesiapa
Menusuk ditengkuk

Jalanan lengang
Di titik nadir terbatuk
Di udara tamak dan bengis
Namun sepi mati

Maksiat bertebar seperti kunang kunang
Bersama peluh dunia

Kemari,
Didepanku seorang anak tertunduk
Kelaparan

YK, 1 September 2000

image