Petasan atau mercon banyak digunakan dalam perayaan nasional dan budaya di seluruh dunia. Baik itu peringatan hari kemerdekaan, tahun baru, hari besar keagamaan atau peringatan kebudayaan setempat.
Ledakan petasan atau mercon yang mengakibatkan cedera pada tangan masih sering dijumpai di Indonesia. Kejadian ini mengalami peningkatan selama perayaan hari libur nasional terutama selama perayaan Idulfitri dan tahun baru.
Pengetahuan tentang pola cedera akibat petasan disertai pemahaman mendasar tentang sifat kerusakan/ destruction morphology pada anggota tubuh akibat petasan dapat membantu dokter dalam melakukan penanganan terhadap korban.
Beberapa penelitian mengenai cidera akibat petasan menyebutkan bahwa insiden tinggi terjadi pada usia anak dan remaja. Di Australia berkisar 88% yang menjadi korban petasan adalah usia dibawah 18 tahun. Di Selandia Baru 68% dari korban adalah anak di bawah usia 15 tahun.
Cedera bervariasi mulai dari luka kecil atau minor injury hingga cedera yang menghancurkan sebagian besar anggota tubuh dan membutuhkan operasi rekonstruksi yang rumit.
Pada tahun 2012 kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan analisa kasus cidera akibat petasan atau mercon yang datang ke rumah sakit pendidikan tempat kami mengikuti pendidikan spesialis orthopaedi dan traumatologi. Kasus kami dapatkan selama periode seminggu perayaan Idul Fitri ditahun tersebut.
Selama kurun waktu 1 minggu tersebut kami menjumpai 8 pasien akibat petasan atau mercon. Seluruhnya laki-laki. Separuh dari korban berusia kurang dari 20 tahun. Semua pasien memegang petasan dengan tangan yang dominan digunakan/ dominant hand kecuali 1 pasien terkena lemparan petasan saat sedang mengendarai sepeda motor. Dari 7 pasien yang memegang petasan 2 diantaranya terluka ketika mencoba untuk mengambil kembali petasan yang urung meledak.
Sebagian besar lokasi kejadian berada disekitar rumah pasien / neighborhood (7 dari 8 kasus). Peristiwa terjadi antara jam18:00 hingga 24:00.
Bagian yang paling banyak mengalami cidera adalah ibu jari tangan kanan, telunjuk dan telapak tangan sisi ibu jari. Kombinasi umum dari cedera tersebut adalah jari-jari, ibu jari- jari tengah-jari manis; ibu jari-telunjuk-jari tengah; telapak tangan-ibu jari dan telunjuk. Tidak ada cedera pada sistem organ lain yang ditemukan secara bersamaan
Semua pasien dan orang tuanya memahami bahaya petasan dan sudah tahu bahwa petasan dilarang tapi mengaku tidak mengetahui peraturan/undang-undang mengenai petasan atau mercon.
Pemerintah, meskipun merupakan pihak yang memiliki kewajiban terhadap pelanggaran peraturan, terlalu lumrah untuk disalahkan. Fungsi pengawasan dari orang tua dan masyarakat juga menjadi faktor tak terpisahkan. Pencegahan dan pemahaman masyarakat perlu dibina. Bagaimanapun juga kesadaran setiap orang dalam memahami bahaya penggunaan petasan dan mercon menjadi bagian penentu utama.
Beberapa pasien bisa kembali sekolah atau bekerja, namun apakah akan sama seperti sediakala? mungkin iya mungkin juga tidak. Tergantung tingkat keparahan awal dan rekonstruksi yang dilakukan.
Bagai piring yang pecah lalu diperbaiki, apakah akan seindah piring baru? Saya rasa sahabat semua bisa menjawabnya.
Yogyakarta, tahun baru 2015

