Kesibukan menjadi rutinitas yang dihadapi oleh tim jaga emergency bagian orthopaedi. Setiap hari mereka menangani kasus kecelakaan lalu lintas. Jumlah kecelakaan lalu lintas hingga sekarang termasuk sangat banyak, namun berapakah jumlah pastinya? Entahlah. Apakah tidak tercatat di kepolisian? yang kami hadapi demikian, tidak setiap pasien yang mengalami kecelakaan lalu lintas melapor, dilaporkan atau diketahui oleh kepolisian dengan berbagai alasan. Salah satunya semisal kejadian kecelakaan tunggal yang dialami oleh anak dibawah usia minimal mendapatkan ijin mengemudi. Pihak keluarga merasa bimbang untuk melapor. Bisa jadi keluargalah yang akan disalahkan karena lalai dalam mengawasi sehingga anak dibawah umur mengendarai kendaraan.
Pasien kebanyakan berada direntang usia produktif. Berbagai faktor menjadi penyebab terjadi kecelakaan. Beberapa karena kesalahan sendiri (single traffic accident) akibat kondisi diri dan kendaraan yang kurang fit, karena kelalaian orang, bertabrakan dengan kendaraan lain (collition) dan sebagainya.
Waktu menunjukkan pukul 02.30 selepas tengah malam. Suasana UGD riuh dengan suara suara erangan, tangisan dan komando petugas emergency yang berjaga malam itu. Beberapa pasien tergeletak di bed perawatan, beberapa tampak lunglai sementara satu dua pasien dikelilingi tim medis, sigap sekali mereka bekerja, tidak ada tanda tanda lelah atau mengantuk.
Lelaki dewasa itu tergeletak dengan luka menganga di lutut kanannya, besar sekitar 10 centi dengan tulang menonjol keluar, pecah, dan serat serat otot yg robek tidak beraturan bercampur kerikil, pasir dan potongan rerumput hijau kuning. Darah membasahi celananya yang sengaja digunting oleh petugas. Tidak tampak darah mengalir kencang, bagian ujung kaki teraba hangat dan tidak pucat. Sepertinya pembuluh darah utama kaki kanannya itu aman.
Patah tulang dengan luka terbuka kotor seperti itu hanya salah satu dari sekian hal rutin yang ditemui setiap hari. Patah tulang terbuka dapat menyebabkan infeksi lokal sekitar luka (infected wound) maupun infeksi sistemik (sepsis) . Infeksi sistemik dapat berujung kepada kematian. Infeksi lokal bisa berlanjut lama dan lebih jauh ke dalam tulang, infeksi ini yang disebut sebagai chronic osteomyelitis.
Osteomyelitis kronis termasuk salah satu yang sulit untuk disembuhkan, diperlukan berbagai tindakan termasuk operasi seperti pembersihan (debridemen), membuang nanah yang berada di dalam tulang sekaligus membuang tulang yang mati (sequestrectomy). Bagian jaringan lunak (otot dan sekitarnya) yang terinfeksi dan menjadi jalur keluarnya nanah hingga kulit (sinus track) dibuang. Penanaman cangkok tulang (cancellous bone graft) disertai butir butir antibiotik (antibiotic beads) dilakukan sebagai bagian upaya eradikasi holistik bakteri penyebab osteomyelitis. Sering dijumpai pasien memerlukan berkali-kali operasi disertai pengobatan antibiotik suntik (injeksi) dan minum (oral) dengan jangka lama. Tingkat kambuhan (rekurensi) penderita osteomyelitis cukup tinggi yaitu mencapai 30 %.
Sesungguhnya Tuhan menurunkan penyakit itu beserta obatnya, namun karena keterbatasan ilmu manusia maka ada penyakit yang diketahui obatnya dan ada pula yang tidak diketahui (1). Belum diketahui tepatnya. Untuk itulah ilmu pengetahuan berkembang, penelitian demi mencari obat suatu penyakit terus menerus dilakukan oleh ilmuwan yang ahli dibidang tersebut.
Ketika sakit maka berobatlah kepada yang ahli sesuai keilmuannya (2). Sebagai dokter sudah barang tentu berkewajiban mengusahakan yang terbaik kepada setiap pasien, mengaplikasikan ilmu medis yang dipelajari belasan tahun lamanya, memberi semangat pasien untuk memperoleh kesembuhan.
Sahabatku, sakit adalah ujian bagi manusia. Kesembuhan dari suatu penyakit tentu hanya milik Tuhan semata (3). Jika belum diberi kesembuhan maka sakit tersebut adalah tabungan amalan ikhlas bagi yang kuat dan sabar menjalaninya.
Yogyakarta, 8 Februari 2015
Catatan kaki :
(1)
إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ وَأَنْزَل لَهُشِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ و جَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ
“ Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya.” (HR Ahmad 4/278 dan yang lainnya, shahih)
(2)
تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ
“Berobatlah, karena tiada satu penyakit yang diturunkan Allah, kecuali diturunkan pula obat penangkalnya, selain dari satu penyakit, yaitu ketuaan.” (HR. Abu Dawud (IV/125 no. 3855) dari Usamah bin Syarikradhiyallahu ’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy (hal. 461 no. 2039)).
(3)
وَ إِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” [QS Asy Syu’ara: 80]

