Pada tahun 1741, Nicholas Andry, seorang profesor dari Universitas Paris mempublikasikan buku yang menjelaskan mengenai berbagai metode dalam pencegahan dan pengobatan kelainan bentuk pada anak. Dia mengkombinasikan dua kata dari bahasa latin, yaitu orthos atau lurus dan paidios atau anak, menjadi satu kata “orthopedics”. Inilah yang menjadi nama salah satu spesialisasi keilmuan bedah.
Gangguan bentuk yang terjadi pada anak baik itu sejak lahir (congenital) atau dapatan (aquired) apapun penyebabnya dapat berakibat besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak. Bukan hanya berdampak terhadap anak itu sendiri namun juga terhadap orang tuanya.
Anak tidak sama dengan orang dewasa. Anak akan mengalami masa tumbuh kembang dimana respon anak terhadap adanya cidera, infeksi dan deformitas akan berbeda dibandingkan dengan orang dewasa.
Kelainan pada kaki berupa clubfoot termasuk yang paling sering dijumpai. Diperkirakan 1 dari 1000 kelahiran akan mengalami kelainanan ini. Pada umumnya jika ditangani secara tepat dengan teknik ponseti hasilnya cukup menjanjikan.
Kasus cerebral palsy misalnya, sebuah gangguan otak non progresif yang disebabkan berbagai faktor, baik itu sebelum lahir, saat lahir ataupun setelah lahir hingga usia 2 atau 3 tahun yang menyebabkan gangguan fungsi anggota gerak. Spektrum penyakit cerebral palsy cukup luas dapat mempengaruhi tulang belakang (spine), gangguan kognitif dan bersifat sentral. Pada keadaan tetraplegic untuk kebutuhan dasar hidup anak akan sangat bergantung kepada orang tuanya.
Orthopaedi Pediatrik berusaha mendalami dan mengkhususkan keimuan mengenai segala gangguan sistem muskuloskeletal anak untuk dapat mencegah deformitas lebih lanjut, mengembalikan bentuk dan fungsi demi meningkatkan kualitas hidup penderita (quality of live).
Yogyakarta, 2015



