Arsip Tag: menikah

Menikah

Dua malam yang lalu seorang sahabat dekat mengirim sms bahwa dia hampir menikah namun (untuk kesekian kalinya) gagal. Kali ini karena perbedaan latar belakang pemahaman agama keluarganya dan keluarga calon mempelai. Bukan berbeda agama, namun berbeda cara pemahaman arah pandang agama mereka.

“Aku punya keyakinan koq, Tuhan pasti sudah menyediakan bidadari untuk aku”. “Iya,” kataku. ”Tapi apa kita punya kemampuan untuk menjemput bidadari itu? Atau jangan-jangan yang mampu kita jemput adalah genderuwo wanita, karena hanya setingkat itu yang sepadan dangan kita”, aku menambahi. “Bisa jadi kau gagal karena memang kau belum yakin siap benar mau nikah” Lanjutku. Dia menjawab ”Aku juga tidak tahu. Mungkin sampeyan benar, kita memang belum yakin mau menikah. Kata orang, orang mau menikah dan membangun rumah itu sama, banyak lika likunya”. Benar juga, mana ada orang buat rumah hanya berbekal semangat membara. Tanpa pasir, semen, genteng, kayu atau minimal palu paku.

Semalam, seorang sahabat datang agak tersipu melihat calon pasangan hidupnya yang juga sahabatkmemberi undangan pernikahan mereka awal bulan depan. “Akhirnya, “Amin” mu yang buanter banget dua setengah tahun lalu mendapat jawaban”. Dia hanya tersenyum seperti meng’iya’kan.

Siang ini, sahabat saya sedang bersiap-siap mengadakan resepsi pernikahannya di Bogor. Sahabat yang sudah mantap untuk menjaga diri dan kehormatannya. Siap untuk membangun rumah dengan segala lika-likunya. Gembira untuk mendapat ‘ijab sah’ setelah setengah bulan lalu mendapat ‘ijazah’.

Mohon maaf tidak bisa memberi kado berbentuk materi apa saja, apalagi karangan bunga. Jika memaksakan diri mungkin nantinya hanya seperti menggarami air laut.

image

“Bebaskan saja sukacita meletup-letup
Pada hari ini semua bermekar penuh rindu bermusim

Aku meraba nadimu, bertahun berdebu
Aku menanti sukamu seperti hari ini
Semua sukacita meletup-letup”

Menikah, kata orang butuh persiapan matang. Terlebih kami sebagai lelaki, calon pemimpin tertinggi dalam keluarga. Pengambil keputusan tertinggi. Pendidik, juru bicara dan penyandang dana utama dalam keluarga. Sebagian mantap mengambil keputusan besar itu. Sebagian lagi terseok-seok karena hanya punya modal semangat.

Yogyakarta, 15 Februari 2015

(Re-write from 28 Oktober 2007 version special for my friend : MAJ )