Arsip Tag: kutai barat

Kebakaran !!

Jum’at malam menjelang kemarau. Berita di media sudah mulai terisi reportase peristiwa kebakaran. Tiba-tiba suara sirene meraung jauh lebih keras dari sirene ambulans yang biasa terdengar. Beberapa mobil besar berwarna merah melaju kencang menembus padatnya jalan raya.

Suara sirene dan klakson tak henti-hentinya dibunyikan. Petugas yang bergelantungan disisi kanan kiri berteriak nyaring sekali hingga serak “minggeer-minggeer, hoooi, minggeeeer!!!”, berulang-ulang. Bisa dipahami, keberadaan mereka darurat dibutuhkan terlebih tepat semalam sebelumnya kebakaran melanda kota ini menjadi sebab 2 anak kecil meninggal.

Menolong kebakaran pernah saya alami ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran. Sepulang kuliah saya melewati kebakaran toko yang cukup besar, ketika itu nampaknya petugas pemadam kekurangan tenaga (masih awal kejadian, regu pemadam kebakaran sebagian belum tiba). Saya memberanikan diri membantu sebisanya hingga akhirnya petugas yang berkompeten datang.

Semasa menjalankan Wajib Kerja Sarjana (WKS) dokter spesialis pernah pula menyaksikan uletnya pemadaman kebakaran bekerja. Bagaimana mereka ber’tarung’ memadamkan api secepat mungkin, melokalisir kebakaran yang melanda rumah warga tidak menyebar ke lebih banyak rumah disekitarnya. Bupati dan para petinggi pemerintah di daerah itu segera datang untuk memberi dukungan moral dan bantuan langsung. Bupati memerintahkan untuk melakukan evakuasi korban kebakaran ke bangunan pertokoan milik pemerintah yang baru selesai dibangun.

image

Sejarah pemadam kebakaran diawali pada abad ke 3 atau 2 sebelum masehi oleh Ctesibus dari Alexandria yang membuat pompa tangan1,2 untuk digunakan sebagai alat bantu pemadam kebakaran. Brigade pemadam kebakaran yang terorganisir pertama kali dibentuk oleh
Marcus Licinius Crassus dari kerajaan Romawi pada abad 1 sebelum masehi yang kemudian dikembangkan lebih baik oleh kaisar Nero2. Brigade pemadam kebakaran modern terbentuk pada sekitar abad 16 di Perancis oleh François du Mouriez du Périer2. Demikian terus berkembang hingga sekarang ini.

Kesibukan pemadam kebakaran ketika melaksanakan tugaskan sedikit banyak mirip dengan keadaan di unit gawat darurat (UGD) rumah sakit. Jika di UGD petugas medis emergency berjibaku dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa pasien maka petugas pemadam kebakaran berjibaku dengan limitasi waktu untuk menyelamatkan rumah sehingga tidak menyebar kesemakin banyak rumah atau aset lain yang mungkin sekali menimbulkan korban jiwa.

Selesai tulisan ini dibuat bertambah lagi 2 kebakaran dikota yang sama hanya berselang beberapa hari. Semoga cukup sampai sekian.

Reference :
1. http://www.afirepro.com/history.html
2. https://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_firefighting

Picture source :
http://www.rsc.org/chemistryworld/2015/05/industry-body-accused-over-links-discredited-us-fire-safety-group

Deep Borneo Expedition

image

Akhir juni lalu saya mengikuti program pelayanan kesehatan ke daerah sangat terpencil dan perbatasan Kalimantan Timur. Tujuan akhirnya adalah desa terhulu dari sungai mahakam yaitu desa Long Apari.

Menuju kampung terhulu ini kami menyusuri sungai mahakam menggunakan speedboat yang ditempuh kurang lebih 2 hari perjalanan dari Sendawar, ibukota Kabupaten Kutai Barat. Lamanya perjalanan ini selain karena medan yang berat  kamipun harus singgah di beberapa perkampungan suku dayak untuk mengadakan layanan pengobatan dan mengikuti acara adat setempat.

image

image

Berangkat dari desa Tering kami menyusuri hutan hujan kalimantan yang sudah banyak terpangkas oleh kepentingan ekonomi, semakin ke hulu semakin kami menyaksikan hutan hujan kalimantan yang belum terjamah.

Keindahan alam sepanjang sungai mahakam sungguh luar biasa. Di beberapa bagian tampak air terjun yang sepertinya sudah ribuan tahun menemani silih berganti pepohonan tumbang dimakan waktu. Dinding-dinding batu dan beberapa jeram yang cukup untuk menyiutkan nyali membuat lupa bahwa kami masih berada di jantung kalimantan. Betul, jika melihat peta kalimantan maka kami berada tepat di tengah-tengah pulau kalimantan.

La19

La20

Tidak banyak teman-teman rumah sakit Sendawar yang pernah sampai ke desa Long Apari sekalipun mereka adalah penduduk asli daerah hulu mahakam. Sulitnya perjalanan dan harus melewati beberapa riam serta mahalnya biaya transport adalah penyebabnya.

Screenshot_2014-12-14-13-24-14_1

Tim medis kami terdiri dari beberapa dokter umum dan spesialis, diantaranya adalah sahabat-sahabat saya, om Herman, penata anestesi senior di RSUD di Kutai Barat, dokter Ervan, seorang dokter intership dari Jakarta dan tentunya dokter Musrah Muzakkar SpOG. Beliau seorang dokter ahli kandungan paling ganteng di Kutai Barat yang dulu ketika dokter umum sempat pula mengabdi di daerah pedalaman ini, tepatnya di kampung Long Pahangai.

Beliau mengabdi sebagai dokter puskesmas di Long Pahangai selama sekitar 2 tahun. Beliau bahkan telah diangkat anak oleh salah satu tetua kampung dan mendapat nama dayak “Ding Higang”.

Sebelum sampai di dusun paling hulu dari sungai mahakam ini kami tiba di kampung Tiong Ohang. Sebuah kampung yang cukup ramai dengan sumber listrik berasal dari masing-masing rumah.

Untuk menuju perkampungan ini kami melewati riam udang dan riam panjang. Kedua riam ini memiliki ciri khas yaitu pada keadaan air besar maka riam udang akan menjadi sangat mengerikan sedangkan riam panjang akan relatif, sekali lagi relatif bersahabat. Namun jika air surut maka riam panjang menjadi sangat menggila. Biasanya penduduk lokal memilih untuk berjalan kaki menyusuri bebatuan besar di tepian sungai untuk melewatinya. Hanya motoris (pengemudi) speedboat atau longboat (kapal kayu panjang dan ramping bermesin speedboat) yang membawa melewati riam tersebut.

Masyarakat Tiong Ohang beruntung memiliki seorang tenaga kesehatan yang sudah cukup lama mengabdi disana, beliau adalah dokter Audrey yang sudah mengabdi dikampung ini sekitar 6 tahun. Medan yang berat dan kendala transportasi serta komunikasi tidak mengurangi semangat pengabdian beliau. Berbagai suka duka sudah beliau alami selama bertugas bertahun di pedalaman terlalu panjang untuk ditulis menjadi satu dua buah cerita.

Indonesia merupakan sebuah negara besar yang dianugerahi Tuhan dengan kesuburan dan keindahan alam luar biasa mengagumkan. Begitu banyak ragam keindahan yang membuat saya sama sekali tidak meragukan kekuasaan Tuhan. Meyakini sepenuhnya bahwa Tuhan telah memberikan anugerah tak ternilai bagi kita dan tanah air Indonesia Raya.

Teringat 6 tahun lalu ketika menjalankan tugas pengabdian sebagai dokter tidak tetap daerah terpencil di Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur,  saya juga pernah berpetualang hingga ke wilayah sangat terpencil yaitu pulau Maratua. Pulau Maratua terletak di laut sulawesi termasuk pula salah satu pulau terluar indonesia yang berbatasan dengan Malaysia. Menuju ke pulau Maratua saya harus melalui lautan sulawesi yang bergelombang dengan transportasi menggunakan speedboat ukuran menengah. Meskipun ombaknya tidak sebesar ombak laut selatan namun cukup menciutkan nyali.

Screenshot_2014-12-14-13-39-14_1

Petualangan ke daerah sangat terpencil seperti ini berlanjut ketika saya bertugas di Bengkulu sebagai bagian dari rotasi luar kota pada pendidikan spesialis saya. Ketika itu saya bersama dr.Meirizal SpOT yang sama-sama penggemar petualangan mengikuti kegiatan bakti sosial pegobatan ke Pulau Enggano. Untuk menuju pulau ini kami menggunakan kapal feri dengan jarak tempuh lebih kurang 12 jam.

Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar indonesia yang berada di samudera Hindia, berbatasan dengan India. Dari Kota bengkulu pulau ini berjarak sekitar 156 km atau 90 mil laut. Terbayang pula bagaimana penduduk pulau Enggano ketika mengalami kegawat daruratan medis apapun bentuknya akan sulit sekali menuju ke kota Bengkulu. Melintasi Samudera Hindia sejauh 150 kilometer bukanlah sesuatu yang mudah.

enggano 2

Semalam berada di kampung tiong ohang keesokan harinya kami bersiap menuju desa terhulu dari sungai mahakam ini. Kami harus melalui sebuah riam yang sangat menantang. Namanya adalah riam dua belas. Riam ini selalu ganas dalam keadaan apapun. Tidak terlalu panjang, namun bebatuan besar dengan arus deras sulit sekali untuk dilalui.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam kami tiba di desa Long Apari. Desa kecil yang terletak di persimpangan sungai mahakam dengan anak sungainya, sungai mahakam yang lebar itu disini menjadi tidak lebih dari beberapa meter, hampir seukuran anak sungainya. Yang membedakan adalah warna sungai utama yg kecoklatan dan arusnya yang sangat deras sedangkan anak sungainya mengalir air yang jernih tidak seberapa deras sehingga dasar sungai bisa terlihat jelas.

Di desa Long Apari kami mengadakan pengobatan sesuai bidang kami. Sebuah momen langka bagi mereka untuk dapat memeriksakan kesehatan diri dan keluarga mereka. Wanita hamil diperiksa oleh dokter Musrah dengan USG, alat yang barangkali baru sekali itu mereka jumpai. Sebagian mendatangi dokter Bambang (ahli penyakit dalam, direktur RSUD Harapan Insan Sendawar, Kutai Barat), dokter Jaya (ahli kesehatan jiwa),  dokter Teguh (dokter gigi sekaligus kepala dinas kesehatan kabupaten Mahakam Hulu) dan saya.  Bagi kami ini adalah momen langka, terlebih bagi saya mungkin hanya sekali inilah diberi kesempatan melihat kehidupan masyarakat asli di desa terdalam hulu sungai mahakam. Membantu mereka dengan ilmu yang telah saya pelajari bertahun tahun.

Dalam perjalanan yang singkat beberapa kali kami menjumpai pasien yang harus dirujuk. Dua kali pula tim kami harus memberikan perawatan intensif di desa yang berbeda. Betapa sesungguhnya kebutuhan akan pelayanan medis merupakan kebutuhan mendasar yang perlu diberikan kepada masyarakat pedalaman.

Sementara diperkotaan tempat banyak orang terpelajar dan penuh fasilitas kesehatan masih ada saja dan semakin berkembang mereka yang menentang pengobatan secara medis sembari berkata bahwa itu diluar anjuran agama, sedangkan disini masyarakat pedalaman begitu merindukan pengobatan oleh tenaga medis.

Terlepas dari semua polemik itu kami sangat menikmati ekspedisi ke ujung paling hulu dari sungai Mahakam. Sembari menikmati perjalanan pulang yang panjang aku bertanya-tanya dalam hati daerah sangat terpencil mana lagi yang akan menjadi tujuan expedisi selanjutnya. Insyaallah.

image

Indonesia, Desember 2013