Arsip Tag: jamu

Beras Kencur

image

A very short story by hilmimuhammad

Sudah lama sejak sebelum menikah aku berjualan jamu. Emak dulu juga berjualan jamu. Simbah juga menjual jamu sejak jaman sebelum merdeka dulu. Kata simbah, orang pertama dikeluargaku menjadi penjual jamu adalah mbah buyutnya simbah. Namun simbah juga gak yakin, bisa jadi simbahnya mbah buyutnya simbah sudah berjualan jamu, begitu katanya suatu ketika. Ketiga anak perempuan emak menjadi penjual jamu. Termasuk aku. Dia cerita kalau mungkin saja aku adalah keturunan ketujuh atau kesepuluh yang berjualan jamu.
Entah kangmas tertarik padaku karena aku penjual jamu, kesederhanaanku atau karena yang lain. Kangmas tidak pernah cerita. Yang jelas aku tidak cantik, tidak seperti kembang desa itu. Wajahku bulat menyunggi lesung pipit dengan kulit sewarna coklat terbakar matahari. Tidak ada yang istimewa dariku.

Kami menikah secara sederhana di desa kami delapan tahun yang lalu. Sejak itu kehidupan kami selalu diisi dengan kelapangan hati betapapun kesusahan yang kami hadapi. Kangmas orang yang penyabar dan ulet bekerja. Pekerjaan apapun dia lakoni asalkan halal. Akupun mencoba bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami.

Tak seberapa lama setelah menikah kami berdua memutuskan untuk merantau ke kota. Meninggalkan desa dan sanak keluarga untuk “Mencari penghidupan lebih baik”, begitu kira-kira kata kangmas. Dengan bekal seadanya kami pergi ke kota dekat pelabuhan yang sudah sejak lama ramai. Toko-toko dan pabrik besar ada disini. Banyak rumah tembok dengan pagar tinggi dan gonggongan anjing penjaga. Mobil-mobil bagus dengan kursi empuk dan udara sejuk walau udara diluar panas menyengat.

Aku berjualan jamu seperti leluhurku. Banyak yang menjadi langganan jamuku.  Ibu rumah tangga, bapak-bapak tua, anak kecil, emak, bulek penjual sayur, anak sma, mahasiswa mahasiswi kos-kosan, pekerja bengkel deket kontrakan. Satu dua tiga atlet sepeda yang sering berhenti mencegatku untuk minum segelas beras kencur. “Mbak ayu, kalo habis minum jamumu itu badanku rasanya mak wesss, mancal sepeda jadi buanterrrr”, begitu kata mereka

Kangmas berjualan bakso. Ia membuat sendiri baksonya dari daging sapi giling. Kangmas tidak pernah mencampurkan bumbu penyedap rasa apapun. Semua alami tanpa penyedap buatan. enak dan lumayan laris meskipun lebih banyak saingannya. Pelanggannya pun lumayan. Abang ojek pangkalan, serombongan anak smp, tukang tambal ban depan gang, gadis penjaga toko pakaian, satpam bank dan beberapa pegawai kantoran yang suka menyantap semangkok bakso sebelum pulang selepas kerja.

Suatu ketika diawal musim hujan tahun keempat kami merantau ke kota, anakku sakit demam tinggi. Sebelumnya tak pernah dia sakit seperti ini, sejak lahir selalu sehat. Entah kenapa saat itu banyak anak-anak menderita sakit demam. Beberapa diantaranya harus dirawat di rumah sakit  umum. Anakkun masuk rumah sakit hampir sepuluh hari, entah apa sakitnya aku bingung penjelasan dokter. Setiap dokter menjelaskan aku dan kangmas hanya manggut-manggut bercampur sedih. Kami berdua tak paham. Hanya saja apapun yang terjadi kami pasrahkan pengobatan anak kami kepada dokter ahli. Dia sudah belajar bertahun-tahun tentang pengobatan yang sesuai dengan ilmu terkini. Kami tak percaya sedikitku dengan dukun dan apapun namanya.

Sejak ia sembuh, lama aku merenung sendiri sebelum aku akhirnya memutuskan berhenti jualan jamu. Tanpa sepengetahuan kangmas, namun ia tak pernah protes atau menanyakan kenapa. Pelanggan kebingungan. Banyak yang mencariku, menanyakan kenapa aku tidak berjualan jamu lagi. Kinerja mereka menurun, prestasi jeblok dan turun drastis, beberapa atlet langganan aku dengar prestasinya turun. Kabar terakhir mereka gagal masuk seleksi tim nasional.

Suatu ketika -tak lama berselang- kangmas tiba-tiba saja, tanpa sepengetahuanku, memutuskan berhenti jualan bakso. Sore itu ia tidak pergi ke kios daging sapi untuk kulakan daging giling dan malamnyapun ia segera tidur, tidak seperti biasanya. Paginya kangmas bilang kalau ingin melanjutkan berjualan jamu saja. “Mas, koq jual jamu? Mana ada Pak jamu, adanya Mbok jamu, Mas, sudah sampeyan jualan bakso saja”, kataku.

“Nggak, aku mau jualan jamu”, kata kangmas singkat. Aku tak banyak bertanya lagi karena aku tau betapa kukuhnya ia jika mempunyai keinginan. Tidak ada gunanya merubah keputusannya kecuali keinginammya sendiri.

Seminggu berlalu, kangmas asyik belajar membuat jamu. Selama ini kangmas tidak pernah ikut mencampuri aku membuat jamu, seperti pula aku tak pernah mencampuri urusannya membuat bakso.

Ia meracik jamu dengan takaran seperti leluhur kami, memasak dengan cara yang sama pula. Dicicipinya sendiri, berulang-ulang. Dibuatnya lagi racikan jamu dengan takaran seperti para leluhur lalu dicicipinya lagi, begitu berulang-ulang.

Beras putih bersih tanpa aroma, akar rimpang kencur kunyit, gula asam jawa, pandan, jahe dan garam gula diolah dicampur dengan takaran sederhana, hanya genggaman tangan, cuilan atau ukuran panjang ruas jari saja patokannya. Seperti yang diajarkan ibuku dari leluhur kami.

Sampai suatu pagi kangmas dengan wajah ceria bilang begini: ” Bune, mulai hari ini aku siap jualan jamu beras kencur, doakan laris buat rejeki keluarga kita yo”. “Iya, Mas, semoga laris jualan jamunya Kangmas”, jawabku sambil tersenyum.

                     —–++++——

Katanya, banyak orang suka jamu suamiku. mereka menyukai rasanya yang segar. Pejabat, pegawai, buruh proyek pembangunan, polisi lalu lintas, pengamen di terminal sampai tahanan di penjara selatan perempatan suka. Sampai – sampai ada yang pesan botolan untuk dibawa oleh-oleh.

Aku jadi sering mendengar cerita dari orang-orang tentang enaknya jamu buatan kangmas. Belum pernah mereka bertemu dengan penjual jamu yang menjual jamu seenak beras kencur kangmas. Aromanya wangi, rasanya menyegarkan dan selalu dalam keadaan hangat.

Katanya, rasa jamu beras kencur kangmas lebih enak dibandingkan jamu buatanku. Lebih seger dan  benar-benar mengisi tenaga. Padahal bahan yang kami pakai sama, cara membuatnya sama. Memang kangmas berhari-hari mencoba meramu takarannya sendiri. Bisa jadi itu yang membuat jamunya lebih berasa.

“Bahannya beras putih bersih tanpa aroma, akar rimpang kencur kunyit, gula asam jawa, pandan, jahe dan garam gula”, kataku menjawab pertanyaan seseorang di warung kelontong dekat rumah. Dia bertanya lagi :  “Cara bikinnya gimana to Yu?”. “Caranya ya seperti itu tadi, kalo mau jelas ya tanya saja sama kangmas”, kataku sambil berlalu menutup perbincangan dengannya.

Jogja – Samarendah, Februari 2016