Arsip Tag: hati

Ayahku itu dokter dan tukang sulap

Suatu sore sepulang dari rumah sakit aku mendengar anakku berbincang dengan sepupu-sepupunya dan eyang putri. Isi perbincangan sore itu mengenai pekerjaan orangtua masing masing. Tentu saja dikemas dengan bahasa kanak-kanak.

Ketika sampai giliran Ahmadhilla, begitu nama putri saya, dengan lantang dia berkata bahwa ayahnya adalah seorang dokter bedah tulang dan……..tukang sulap. Eyang putri tertawa mendengarnya.

Seperti itulah pandangan dia tentang ayahnya. Sebagai dokter dan juga tukang sulap. Tentu bukan tukang sulap profesional atau amatir sekalipun. Trik sulap sederhana yang bisa dikatakan trik sulap layak tampil pun tidak ada satupun saya kuasai.

Sejak kecil memang dia senang sekali jika kami bermain “sulap”. Menghilangkan benda kecil dari genggaman tangan, menggantinya dengan benda lain, mengembalikan ke benda semula, menghilangkan jari dan beberapa permainan lain.

Masing-masing ayah punya cara spesial bermain bersama anak. Demikian pula dengan kami, bermain lego, membaca koleksi bukunya, berpetualang menyusuri sawah, bermain di tepian sungai progo depan desa kami, memberi makan ayam ketawa miliknya, berenang dan berbagai permainan ala kami.

image

Apapun bentuknya, kedekatan antara ayah dan anak wajib dibangun sesuai cara kita sendiri. Hingga tadi pagi dia masih saja bangga bercerita kepada eyang putri bahwa ayahnya adalah dokter bedah tulang………………….dan tukang sulap.

Yogyakarta, Januari 2015

Rihlah Hati

image

Bengkulu, bencoolen seperti dikatakan penjajah inggris atau benkulen menurut belanda mempunyai banyak keindahan yang mengagumkan. Terletak tepat berada di pesisir barat pulau sumatera menghadap ke Samudera Hindia.

Bangsa asing sudah menginjakkan kaki di bengkulu sejak beratus tahun lampau. Istana gubernur Rafless pernah di Bengkulu sebelum akhirnya pindah karena tukar guling dengan Singapura.

Udara berangin bercampur dengan uap laut yang asin terasa nyaman, terlebih ketika bersantai di tepi pantai nan panjang, selayaknya nama pantai ini.

Boleh dikata selama sebulan bertugas di bengkulu tiada seharipun saya tidak berada di pantai. Kadang selepas subuh sebelum mengerjakan tugas apapun di RS saya sempatkan ke pantai demi menunggui secarik sinar matahari yang turun searah laut.

Selepas operasi tidak jarang saya ke pantai menikmati semilir angin laut dari sela pepohonan cemara laut. Di bangku kayu pendek dengan sebuah kelapa muda terpotong tanpa tambahan apapun.
image

Sore adalah saat paling sering untuk menikmati pantai. Keindahan sunset di bengkulu sungguh luar biasa. Saya seringkali beruntung melihat matahari bulat sempurna jatuh ke dalam samudera, masih dengan awan tipis berselaput magenta. Kemudian semakin lama laut berubah kehitaman dan langit menjadi semakin biru dengan ornamen merah oranye.

wpid-img-20140124-wa0001.jpg

Bung karno menghabiskan 4 Tahun masa pengasingan disini (1938 – 1942). Saya sempat berkunjung ke rumah pengasingan beliau. Sebagai seorang intelektual beliau mempunyai cukup banyak buku untuk mengisi masa pengasingan beliau. Tampak jelas dari rak-rak berisi puluhan buku tua milik beliau.

Meskipun dibuang oleh penjajah belanda namun beliau sebagai seorang intelektual tetap aktif menggunakan keilmuan teknis sipil dan arsitektur dengan merancang serta merenovasi beberapa rumah, termasuk diantaranya masjid jami kota Bengkulu.

Banyak orang orang besar mendapatkan inspirasi ketika berada di pengasingan. Bung Karno menulis pledoi “Indonesia Menggugat”-nya  ketika berada di penjara Sukamiskin. Lantas Buya Hamka  menyelesaikan tafsir monumental Al Azhar di tahanan Sukabumi ketika beliau disana selama 2 tahun. Karya-karya masterpiece tercipta tidak dengan cara yang mudah. Dia merupakan kulminasi intisari pemikiran sang maestro.

kutai barat

Kita butuh waktu untuk sendiri, melakukan internal correction dan rihlah hati.  Sebagai individu tentunya segala atribut kewajiban melekat pada diri kita. Tentu pula berbagai kekurangan melekat dalam melakukan kewajiban tersebut. Introspeksi tidak hanya melihat kesalahan, lebih dari itu yang terpenting adalah berani mengakui kesalahan tersebut berawal dari diri sendiri, bukan orang lain.

Mengakuinya sembari melepaskan ke-ego-an bukan sesuatu yang mudah, namun coba bayangkan jika setiap individu mau melakukan hal demikian tentu akan menjadi jauh lebih indah. Atau bukan tidak mungkin dari dasar kerendahan hati anda tersebut akan hadir sebuah masterpiece yang membanggakan.

Yogyakarta,  2014