Arsip Tag: harta

Harta raya ?

Seorang suami bekerja keras sejak awal pagi hingga petang tentunya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Mencari pekerjaan dengan mengandalkan apa saja yang dia punya. Terkadang hanya bermodal selembar ijazah pas-pasan, berbekal keterampilan ala kadarnya, atau tenaga sekuat kuli panggul. Semua itu demi mengasapi dapur istri yang sedang hamil setengah tua.

Seorang ayah memeras pikir dan berpeluh tenaga tentu demi kebutuhan sandang pangan anak anaknya. Mencukupi kebahagiaan istri dan anaknya. Sebagian bahkan berputus asa lalu memilih jalan yang salah, jauh dari nilai kebenaran.

“Harta bukan segalanya, Pa’ Dok”, demikian kata pak Yakobus, seorang muslim tulen asli dari kampung itu. “Kekayaan belum jaminan kebahagiaan, kekayaan sesungguhnya ada dihati”, ujarnya lagi.

Kelimpahan materi disebut-sebut dapat membawa kebahagiaan. Kita bisa membeli apapun yang kita mau. Travelling ke segala penjuru yang kita mau. Berwisata kuliner ke semua level restoran apa saja. Memiliki apapun semahal apapun itu.

“Tapi bener lo Pa’ Dok, kekayaan terbesar ada didalam hati kita” begitu tandasnya. Sepersekian detik saya mencoba memahami apa yang Pak Yakobus katakan dan memang tepat sekali apa yang beliau sampaikan. “Benar Pak, setuju. Saya sepakat dengan bapak” sambil tersenyum saya katakan kalimat setuju pendapatnya itu.

image

“Mas”, pak Her enggan memanggil saya dengan sebutan Pa’Dok seperti biasa panggilan orang-orang di kampung itu kepada saya. Sayapun lebih suka demikian. “Kekayaan itu penting. Tapi tidak boleh menjadi tujuan utama”, begitu istilah yang ia gunakan.

“Apa sih tujuan dibalik kekayaan yang kita usahakan, Mas”, kata Pak Her sembari memotong-motong seekor ikan putih (GT) 10 kiloan yang dibelinya dari pemancing siang tadi. Peluh meleleh disebelah kanan dahinya, tidak sampai menetes ke potongan buncis yang tergeletak diatas nampan sudah ia usap dengan punggung tangannya. Demi keluarga dan kesejahteraan masyarakat dengan berlandaskan nilai-nilai agama. “Itu Mas, ya itu yang semestinya kita pikirkan. Sehingga kekayaan tidak membelenggu kita”. Saya tersenyum sambil mengatakan “demikian pula keinginan saya, Pak Her”.

Masing-masing kita tentu punya pandangan dan pendapat berbeda tentang harta, menjadi kaya dan kekayaan sejati. Terserah anda mengambil saripatinya dari mana saja. Pelajaran hidup dapat kita ambil dari mana saja dan dari siapapun. Mereka yang lebih dulu merasakan pahit getir kehidupan punya banyak kisah yang bisa kita petik. Adakalanya pengalaman baik namun selingkali pengalaman buruk dijadikan pelajaran bagi orang lain agar tidak ikut mengalaminya. Pak Yakobus dan pak Her yang saya temui di kampung itu memberikan pelajaran hidup kepada saya. Pelajaran bahwa kekayaan bukan segalanya.

Saya teringat sejarah rasulullah. Ketika menikahi Siti Khadijah pada usia 25 tahun beliau memberi mahar sebanyak 400 dinar1 atau setara 800 juta rupiah nilai saat ini2. Dalam riwayat lain dikatakan12.500 dirham atau setara 875 juta rupiah nilai saat ini2. Ketika menikah di usia 25 tahunan mahar yang saya berikan kepada istri tidaklah sampai satu perseratus dari mahar rasulullah kepada Khadijah.

Bagaimana dengan anda ?

Yogyakarta, April 2015
(Rewrite 2008 manuscript)

Reff :

1. http://www.al-islam.org/articles/khadijah-daughter-khuwaylid-wife-prophet-muhammad-yasin-t-al-jibouri

2. Ahmad Khoiron M. 2009. Inner Beauty Istri-istri Nabi Muhammad SAW. Qultum Media

3. http://www.wakalanusantara.com