Title : Sendiri
Place : GL Zoo, 2015
Gear : My lovely DSLR Nikon D40 (2006) at 200 mm zoom level with aperture priority
Arsip Tag: ahmadhil
Ayahku itu dokter dan tukang sulap
Suatu sore sepulang dari rumah sakit aku mendengar anakku berbincang dengan sepupu-sepupunya dan eyang putri. Isi perbincangan sore itu mengenai pekerjaan orangtua masing masing. Tentu saja dikemas dengan bahasa kanak-kanak.
Ketika sampai giliran Ahmadhilla, begitu nama putri saya, dengan lantang dia berkata bahwa ayahnya adalah seorang dokter bedah tulang dan……..tukang sulap. Eyang putri tertawa mendengarnya.
Seperti itulah pandangan dia tentang ayahnya. Sebagai dokter dan juga tukang sulap. Tentu bukan tukang sulap profesional atau amatir sekalipun. Trik sulap sederhana yang bisa dikatakan trik sulap layak tampil pun tidak ada satupun saya kuasai.
Sejak kecil memang dia senang sekali jika kami bermain “sulap”. Menghilangkan benda kecil dari genggaman tangan, menggantinya dengan benda lain, mengembalikan ke benda semula, menghilangkan jari dan beberapa permainan lain.
Masing-masing ayah punya cara spesial bermain bersama anak. Demikian pula dengan kami, bermain lego, membaca koleksi bukunya, berpetualang menyusuri sawah, bermain di tepian sungai progo depan desa kami, memberi makan ayam ketawa miliknya, berenang dan berbagai permainan ala kami.
Apapun bentuknya, kedekatan antara ayah dan anak wajib dibangun sesuai cara kita sendiri. Hingga tadi pagi dia masih saja bangga bercerita kepada eyang putri bahwa ayahnya adalah dokter bedah tulang………………….dan tukang sulap.
Yogyakarta, Januari 2015
Trotoar
Seminggu terakhir sepulang dari RS saya harus berjalan kaki terlebih dahulu sejauh kurang lebih 2 km. Rutenya adalah Bulaksumur, Jetis, Tugu hingga berakhir di Mangkubumi.
Dimusim liburan Jogja macet pada banyak tempat. Tidak seperti kota besar lainnya, hingga sekarang di Jogja masih cukup jarang terdengar kata macet kecuali masa liburan seperti sekarang. Jalanan begitu padat dengan kendaraan luar daerah, terlebih di seputar perempatan Tugu hingga Malioboro dan Keraton.
Bagi pejalan kaki seperti saya mestinya keadaan ini menjadi menguntungkan. Saya tidak harus terjebak kemacetan di jalan yang menjadi rute pulang. Nyatanya keadaan tidak sebaik mestinya.
Trotoar tidak seramah yang saya sangka. Di sepanjang trotoar banyak dipenuhi penjual beraneka ragam. Mulai penjual gorengan, dagangan toko kasur yang dijejer separuh trotoar, angkringan, penjual terompet tahun baru hingga di beberapa tempat trotoar dijadikan tempat parkir kendaraan roda dua.
Sudah barang tentu banyak yang membahas bagaimana semestinya mengembalikan fungsi trotoar. Di negara ini, dimana masih sangat banyak yang membutuhkan sumber penghidupan untuk keluarganya lebih dari yang anda dapatkan maka cara bersikap terhadap hal demikian akan menjadi pertimbangan tersendiri.
Sesungguhnya terkadang akan menjadi sebuah dilema besar bagaimana menempatkan sesuatu kembali sebagaimana mestinya. Pertentangan seakan-akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Kita dihadapkan kepada dua kutub dimana jika kita berhadapan pada kutub satu maka disatu sisi akan membelakangi yang lain. Berdiri tengah terkadang bukan solusi yang optimal, seperti berada ditengah-tengah lalu merentangkan kedua tangan berusaha menggapai. Tidak satupun tergapai.
Bagi saya bagian paling penting adalah bagaimana wujud kepedulian kita terhadap mereka yang tidak seberuntung kita dalam banyak hal.
Melakukan hal kecil untuk menolong itu bagus, namun jika diberi kemampuan melakukan sebesar-besar usaha tentu akan memberi manfaat bagi lebih banyak orang.
Yogyakarta, penghujung 2014
Renungan untukmu
Semurni apa telaga yang jadi dambaanmu?
Tidakkah cukup embun-Nya dipesisir malam,
menghapus desah kesahmu yang lelah mencari
…..
Enggankah kau jika saja kau tahu,
matahari tak datang demi sujudnya pohon,
dan air dan seuntai melati?
………
Setulus apa syair yang kau minta dariku?
Tidakkah cukup mutiara kesejukan dinuranimu yang indah itu
Menyentuh jiwa yang bahkan kau tidak pernah tahu siapa ia.
………
Melangkah saja terus bersama kerinduanmu
Sebab ilalang tak pernah bertanya pada gembala : “untuk apa ragaku?”
Dan akupun tak pernah butuh tepuk tanganmu
Jogja, 6 Januari 2005
Akibat ledakan petasan pada tangan (hand blast injury)
Petasan atau mercon banyak digunakan dalam perayaan nasional dan budaya di seluruh dunia. Baik itu peringatan hari kemerdekaan, tahun baru, hari besar keagamaan atau peringatan kebudayaan setempat.
Ledakan petasan atau mercon yang mengakibatkan cedera pada tangan masih sering dijumpai di Indonesia. Kejadian ini mengalami peningkatan selama perayaan hari libur nasional terutama selama perayaan Idulfitri dan tahun baru.
Pengetahuan tentang pola cedera akibat petasan disertai pemahaman mendasar tentang sifat kerusakan/ destruction morphology pada anggota tubuh akibat petasan dapat membantu dokter dalam melakukan penanganan terhadap korban.
Beberapa penelitian mengenai cidera akibat petasan menyebutkan bahwa insiden tinggi terjadi pada usia anak dan remaja. Di Australia berkisar 88% yang menjadi korban petasan adalah usia dibawah 18 tahun. Di Selandia Baru 68% dari korban adalah anak di bawah usia 15 tahun.
Cedera bervariasi mulai dari luka kecil atau minor injury hingga cedera yang menghancurkan sebagian besar anggota tubuh dan membutuhkan operasi rekonstruksi yang rumit.
Pada tahun 2012 kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan analisa kasus cidera akibat petasan atau mercon yang datang ke rumah sakit pendidikan tempat kami mengikuti pendidikan spesialis orthopaedi dan traumatologi. Kasus kami dapatkan selama periode seminggu perayaan Idul Fitri ditahun tersebut.
Selama kurun waktu 1 minggu tersebut kami menjumpai 8 pasien akibat petasan atau mercon. Seluruhnya laki-laki. Separuh dari korban berusia kurang dari 20 tahun. Semua pasien memegang petasan dengan tangan yang dominan digunakan/ dominant hand kecuali 1 pasien terkena lemparan petasan saat sedang mengendarai sepeda motor. Dari 7 pasien yang memegang petasan 2 diantaranya terluka ketika mencoba untuk mengambil kembali petasan yang urung meledak.
Sebagian besar lokasi kejadian berada disekitar rumah pasien / neighborhood (7 dari 8 kasus). Peristiwa terjadi antara jam18:00 hingga 24:00.
Bagian yang paling banyak mengalami cidera adalah ibu jari tangan kanan, telunjuk dan telapak tangan sisi ibu jari. Kombinasi umum dari cedera tersebut adalah jari-jari, ibu jari- jari tengah-jari manis; ibu jari-telunjuk-jari tengah; telapak tangan-ibu jari dan telunjuk. Tidak ada cedera pada sistem organ lain yang ditemukan secara bersamaan
Semua pasien dan orang tuanya memahami bahaya petasan dan sudah tahu bahwa petasan dilarang tapi mengaku tidak mengetahui peraturan/undang-undang mengenai petasan atau mercon.
Pemerintah, meskipun merupakan pihak yang memiliki kewajiban terhadap pelanggaran peraturan, terlalu lumrah untuk disalahkan. Fungsi pengawasan dari orang tua dan masyarakat juga menjadi faktor tak terpisahkan. Pencegahan dan pemahaman masyarakat perlu dibina. Bagaimanapun juga kesadaran setiap orang dalam memahami bahaya penggunaan petasan dan mercon menjadi bagian penentu utama.
Beberapa pasien bisa kembali sekolah atau bekerja, namun apakah akan sama seperti sediakala? mungkin iya mungkin juga tidak. Tergantung tingkat keparahan awal dan rekonstruksi yang dilakukan.
Bagai piring yang pecah lalu diperbaiki, apakah akan seindah piring baru? Saya rasa sahabat semua bisa menjawabnya.
Yogyakarta, tahun baru 2015
#10# Derawan, keunikan gugusan pulau di timur berau
Derawan merupakan sebuah gugusan kepulauan yang sangat cantik. Pulau derawan menjadi pusat aktifitas dari kepulauan ini. Keunikannya menjadikan pulau ini sebagai destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Keanekaragaman biota lautnya benar-benar luar biasa indah. Laut yang masih terjaga oleh tradisi masyarakat bajau memberikan harapan besar kelestarian alam bawah laut yang mempesona dunia.

Setiap hari saya selalu dapat menyaksikan penyu berukuran besar. Jika siang hari mereka mencari makan tumbuh laut yg berada disekitar pantai dangkal, beberapa bahkan cukup jinak untuk dapat diajak bermain. Jika malam hari penyu-penyu naik untuk bertelur disisi pantai yang gelap.
Kepulauan derawan memiliki beragam keindahan. Di pulau derawan sendiri yang menjadi sentra kegiatan wisata kepulauan ini memiliki fasilitas yang sangat memadai. Selama tinggal di derawan sering sekali saya bertemu dengan wisatawan manca negara, mereka sangat puas dengan fasilitas yang ada. Dari banyak tamu yang cukup akrab diantaranya wisatawan dari polandia, perancis, belanda dan amerika. Umumnya mereka backpackers dan memang datang ke derawan untuk menikmati keunikan alam kepulauan ini.
Merupakan sebuah kebahagiaan luar biasa bagi saya pernah setahun mengabdi sebagai dokter di pulau penuh keindahan ini. Tidak pernah ada kekecewaan dan kesedihan selama mengabdi disana. Ramah tamah penduduk selalu membuat saya merasa sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat pulau Derawan.
Welcome to my island, the ultimate beauty of Nusantara.
Indonesia, 2014
Jalan Kau
Ketika segalanya tak berjalan semestinya
Aku bertanya kepada keheningan senja dipelupuk hari
Dan panasnya dadaku
Andaikan ada satu keberhasilan abadi datang
Diantara seribu kegagalan sesaat
Mana yang aku pilih
Apa aku akan meraihnya
Ataukah kembali buta
Atau memang aku sudah buta sejak pertama kali
Yk, 2 November 1999
#4# Bunga Air
Rihlah Hati
Bengkulu, bencoolen seperti dikatakan penjajah inggris atau benkulen menurut belanda mempunyai banyak keindahan yang mengagumkan. Terletak tepat berada di pesisir barat pulau sumatera menghadap ke Samudera Hindia.
Bangsa asing sudah menginjakkan kaki di bengkulu sejak beratus tahun lampau. Istana gubernur Rafless pernah di Bengkulu sebelum akhirnya pindah karena tukar guling dengan Singapura.
Udara berangin bercampur dengan uap laut yang asin terasa nyaman, terlebih ketika bersantai di tepi pantai nan panjang, selayaknya nama pantai ini.
Boleh dikata selama sebulan bertugas di bengkulu tiada seharipun saya tidak berada di pantai. Kadang selepas subuh sebelum mengerjakan tugas apapun di RS saya sempatkan ke pantai demi menunggui secarik sinar matahari yang turun searah laut.
Selepas operasi tidak jarang saya ke pantai menikmati semilir angin laut dari sela pepohonan cemara laut. Di bangku kayu pendek dengan sebuah kelapa muda terpotong tanpa tambahan apapun.

Sore adalah saat paling sering untuk menikmati pantai. Keindahan sunset di bengkulu sungguh luar biasa. Saya seringkali beruntung melihat matahari bulat sempurna jatuh ke dalam samudera, masih dengan awan tipis berselaput magenta. Kemudian semakin lama laut berubah kehitaman dan langit menjadi semakin biru dengan ornamen merah oranye.
Bung karno menghabiskan 4 Tahun masa pengasingan disini (1938 – 1942). Saya sempat berkunjung ke rumah pengasingan beliau. Sebagai seorang intelektual beliau mempunyai cukup banyak buku untuk mengisi masa pengasingan beliau. Tampak jelas dari rak-rak berisi puluhan buku tua milik beliau.
Meskipun dibuang oleh penjajah belanda namun beliau sebagai seorang intelektual tetap aktif menggunakan keilmuan teknis sipil dan arsitektur dengan merancang serta merenovasi beberapa rumah, termasuk diantaranya masjid jami kota Bengkulu.
Banyak orang orang besar mendapatkan inspirasi ketika berada di pengasingan. Bung Karno menulis pledoi “Indonesia Menggugat”-nya ketika berada di penjara Sukamiskin. Lantas Buya Hamka menyelesaikan tafsir monumental Al Azhar di tahanan Sukabumi ketika beliau disana selama 2 tahun. Karya-karya masterpiece tercipta tidak dengan cara yang mudah. Dia merupakan kulminasi intisari pemikiran sang maestro.
Kita butuh waktu untuk sendiri, melakukan internal correction dan rihlah hati. Sebagai individu tentunya segala atribut kewajiban melekat pada diri kita. Tentu pula berbagai kekurangan melekat dalam melakukan kewajiban tersebut. Introspeksi tidak hanya melihat kesalahan, lebih dari itu yang terpenting adalah berani mengakui kesalahan tersebut berawal dari diri sendiri, bukan orang lain.
Mengakuinya sembari melepaskan ke-ego-an bukan sesuatu yang mudah, namun coba bayangkan jika setiap individu mau melakukan hal demikian tentu akan menjadi jauh lebih indah. Atau bukan tidak mungkin dari dasar kerendahan hati anda tersebut akan hadir sebuah masterpiece yang membanggakan.
Yogyakarta, 2014












