Arsip Tag: ahmadhil

Patah Tulang Paha (Femur Fracture)

Patah tulang paha atau fraktur femur berbeda dengan patah tulang lainnya. Jika dibiarkan tanpa pengobatan yang tepat fraktur femur sangat mungkin tidak akan menyambung (nonunion) atau jika sangat beruntung menyambung tetapi dalam posisi yang tidak anatomis (malunion). Karakteristik paha dengan adanya otot (muscle belly) yang besar, demikian pula adanya kekuatan tarikan otot (muscle contractions) yang kuat menyebabkan pemendekan dan ketidakstabilan (unstable) posisi patahan tulang sehingga sulit untuk mencapai proses penyambungan tulang (bone healing). Jika ditangani secara tepat sesuai standar prosedur penanganan maka kemungkinan tulang akan menyambung (union) sebesar 90% dengan kemungkinan membaik tanpa adanya infeksi sebesar 99%.1

Tulang paha berfungsi sebagai penopang tubuh. Pada tulang tersebut melekat banyak otot yang memiliki peran dalam mempertahankan postur berdiri, berjalan, berlari, duduk, berubah posisi dari jongkok ke berdiri dan berbagai fungsi lain. Malunion akan menyebabkan distribusi tenaga axial loading tidak merata. Terjadinya pergeseran anatomical axis dan mechanical axis yang nantinya berakibat buruk tidak hanya pada sebagian sendi (hip & knee joint) namun juga akan berakibat pada tulang belakang (spine).

image

Satu waktu seorang remaja pria datang kepada saya, kira-kira 16-an tahun usianya. Dia murid kelas 2 SMU di sebuah kota, bertubuh tinggi berperawakan atletis cocok dengan hobinya bermain basket. Ibu bapaknya guru SMU dan salah satunya adalah guru Biologi. Dia datang dengan jalan pincang dan lutut kanan yang tidak bisa ditekuk sempurna. Setengah tahun sebelumnya dia mengalami kecelakaan motor. Oleh ayahnya dia dibawa ke pengobat alternatif patah tulang (bone setter) terkemuka di kota tersebut.

Hingga berbulan sesudahnya keadaan tidak semakin membaik. Setelah dilakukan pemeriksaan X-ray (ronsen) ternyata dia mengalami patah tulang paha yang tidak menyambung (nonunion fracture of supracondyler femur). Menghadapi kasus patah tulang terabaikan (neglected fracture) seperti demikian tim dokter bedah tulang tidak bisa memberi harapan maksimal kepada mereka. Kemungkinan besar range of movement tidak akan kembali normal kalaupun ketidakseimbangan panjang kaki (LLD/leg legth discrepancy) dapat diminimalisir. Keinginannya yang kuat untuk dapat bermain basket dan menjadi atlet sepertinya akan sulit terwujud. Akan sangat berbeda jika patah tulang yang dulu dialaminya segera ditangani. Kecacatan yang mungkin saja bisa dicegah dengan prinsip terapi orthopedi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan moral.

Sangat disayangkan orangtua yang terpelajar itu masih percaya dengan pengobatan non medis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Semoga semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya membawa problem tulang dan anggota gerak badan (muskuloskeletal) kepada tim dokter bedah tulang. Terlebih dengan adanya jaminan kesehatan oleh pemerintah diharapkan akan semakin banyak pasien yang bisa tertangani, terlepas dengan segala kekurangan yang tentunya diharapkan terus kita perbaiki bersama-sama.

Yogyakarta, Mei 2015

Referensi :

1. http://www.orthobullets.com/trauma/1040/femoral-shaft-fractures

Seminar dan workshop Orthopaedi Jogja Ketiga : “Kompetensi Dokter Umum pada Penatalaksanaan Kelainan Sistem Muskuloskeletal”

Bagian Orthopaedi dan Traumatologi FK UGM/RSUP dr. Sardjito kembali menghadirkan seminar dan workshop mengenai “Kompetensi dokter umum pada penatalaksanaan kelainan sistem muskuloskeletal”. Seminar dan workshop ini kami adakan kembali untuk ketiga kalinya demi mengapresiasi banyaknya permintaan sejawat dokter yang datang dari seluruh indonesia.

image

Workshop pertama diikuti lebih dari 250 dokter dari berbagai daerah seIndonesia. Workshop kedua pada akhir tahun 2014 diikuti tidak kurang dari 300 peserta dari berbagai wilayah indonesia.

Animo yang begitu tinggi ini didasarkan oleh pentingnya peningkatan kemampuan sejawat dokter mengenai diagnosis dan penatalaksanaan kelainan muskuloskeletal.

Kami berharap seminar dan workshop ini akan mampu memberikan edukasi yang aplikatif kepada seluruh peserta. Segera daftarkan diri anda.

Harta raya ?

Seorang suami bekerja keras sejak awal pagi hingga petang tentunya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Mencari pekerjaan dengan mengandalkan apa saja yang dia punya. Terkadang hanya bermodal selembar ijazah pas-pasan, berbekal keterampilan ala kadarnya, atau tenaga sekuat kuli panggul. Semua itu demi mengasapi dapur istri yang sedang hamil setengah tua.

Seorang ayah memeras pikir dan berpeluh tenaga tentu demi kebutuhan sandang pangan anak anaknya. Mencukupi kebahagiaan istri dan anaknya. Sebagian bahkan berputus asa lalu memilih jalan yang salah, jauh dari nilai kebenaran.

“Harta bukan segalanya, Pa’ Dok”, demikian kata pak Yakobus, seorang muslim tulen asli dari kampung itu. “Kekayaan belum jaminan kebahagiaan, kekayaan sesungguhnya ada dihati”, ujarnya lagi.

Kelimpahan materi disebut-sebut dapat membawa kebahagiaan. Kita bisa membeli apapun yang kita mau. Travelling ke segala penjuru yang kita mau. Berwisata kuliner ke semua level restoran apa saja. Memiliki apapun semahal apapun itu.

“Tapi bener lo Pa’ Dok, kekayaan terbesar ada didalam hati kita” begitu tandasnya. Sepersekian detik saya mencoba memahami apa yang Pak Yakobus katakan dan memang tepat sekali apa yang beliau sampaikan. “Benar Pak, setuju. Saya sepakat dengan bapak” sambil tersenyum saya katakan kalimat setuju pendapatnya itu.

image

“Mas”, pak Her enggan memanggil saya dengan sebutan Pa’Dok seperti biasa panggilan orang-orang di kampung itu kepada saya. Sayapun lebih suka demikian. “Kekayaan itu penting. Tapi tidak boleh menjadi tujuan utama”, begitu istilah yang ia gunakan.

“Apa sih tujuan dibalik kekayaan yang kita usahakan, Mas”, kata Pak Her sembari memotong-motong seekor ikan putih (GT) 10 kiloan yang dibelinya dari pemancing siang tadi. Peluh meleleh disebelah kanan dahinya, tidak sampai menetes ke potongan buncis yang tergeletak diatas nampan sudah ia usap dengan punggung tangannya. Demi keluarga dan kesejahteraan masyarakat dengan berlandaskan nilai-nilai agama. “Itu Mas, ya itu yang semestinya kita pikirkan. Sehingga kekayaan tidak membelenggu kita”. Saya tersenyum sambil mengatakan “demikian pula keinginan saya, Pak Her”.

Masing-masing kita tentu punya pandangan dan pendapat berbeda tentang harta, menjadi kaya dan kekayaan sejati. Terserah anda mengambil saripatinya dari mana saja. Pelajaran hidup dapat kita ambil dari mana saja dan dari siapapun. Mereka yang lebih dulu merasakan pahit getir kehidupan punya banyak kisah yang bisa kita petik. Adakalanya pengalaman baik namun selingkali pengalaman buruk dijadikan pelajaran bagi orang lain agar tidak ikut mengalaminya. Pak Yakobus dan pak Her yang saya temui di kampung itu memberikan pelajaran hidup kepada saya. Pelajaran bahwa kekayaan bukan segalanya.

Saya teringat sejarah rasulullah. Ketika menikahi Siti Khadijah pada usia 25 tahun beliau memberi mahar sebanyak 400 dinar1 atau setara 800 juta rupiah nilai saat ini2. Dalam riwayat lain dikatakan12.500 dirham atau setara 875 juta rupiah nilai saat ini2. Ketika menikah di usia 25 tahunan mahar yang saya berikan kepada istri tidaklah sampai satu perseratus dari mahar rasulullah kepada Khadijah.

Bagaimana dengan anda ?

Yogyakarta, April 2015
(Rewrite 2008 manuscript)

Reff :

1. http://www.al-islam.org/articles/khadijah-daughter-khuwaylid-wife-prophet-muhammad-yasin-t-al-jibouri

2. Ahmad Khoiron M. 2009. Inner Beauty Istri-istri Nabi Muhammad SAW. Qultum Media

3. http://www.wakalanusantara.com

Syair Breveter

SYAIR BREVETER
: bertujuh

Januari dua ribu sepuluh,
Bertambah tambah bahagia keluarga
mendengar berita gempitanya kita menjadi bagian keluarga orthopedi gajahmada.

Lima tahun lalu kita memulai cita cita ini
Satu demi satu langkah
Kita tonggakkan dalam dada :
“Apa kelak terjadi adalah tempaan guru guru
Supaya kita menjadi tegar kokoh seperti karang
Berhati singa,
bermata elang,
Dan bertangan bidadari”

Tak mudah melalui lima tahun pendidikan
Mulai dari titik terendah, menjadi karet pada roda yang berputar kencang
Terantuk batu,
Terkena kotoran, paku,
Ludah

mencari satu demi satu ilmu
menanamnya dihati hingga menghujam terpatri

Kepada keluarga dan orang tua
Betapa doa-doa panjang mereka
Memberi nafas
Dan melapangkan hati

Kepada cinta belahan jiwa
Betapa mereka telah berkorban
Diantara malam tanpa kami
Diantara tangisan anak anak
hatinya menangis tanpa kami tahu

Menjaga buah hati
Tanpa mengeluh betapa rapuh
dia.

Kepada guru guru kami
Betapapun penuh hari mereka
Selalu kami ganggu
Dengan beribu pertanyaan tentang pasien

Betapa bimbingan mereka tiada henti hentinya
Bukan jarang kami menyakiti hatinya dengan kebodohan kami
Dengan kekakuan tangan tangan kami
Dan mata yang belum lagi bisa melihat detail

Betapapun mereka tak pernah berkata letih mendidik kami
Terus dan terus saja mendidik kami
Tak lelah
Sampai saatnya mereka berkata : “Muridku, kami bangga hari ini engkau menjadi ahli orthopedi nusantara”

Bagi kami
Sebuah kehormatan dapat menjadi seperti hari ini
Kebanggaan
Sekaligus awal tanggung jawab luar biasa besar

Sebab kelak sampai kami tak mampu lagi mengangkat tangan ini
maka kewajiban dharma bakti ilmu ini ada pada kami.

Mempergunakannya menolong sesama
Dan amal guru guru kami tetap mengalir kepada mereka

Terima kasih guru besar dan guru-guru kami
Semoga tercurah segala kemuliaan kepada mereka
Semoga balasan amalan kebaikan akan selalu melimpahi mereka

Doakan kami agar teguh menjunjung budi pekerti
Moral
Dan prinsip keilmuan diatas segala gala

Yogyakarta,  27 April 2015

Jam

الوقت كالسيف yang artinya “Waktu itu bagaikan pedang”. Demikian syair atau pepatah yang sangat terkenal dari bangsa Arab, Secara tepat saya tidak terlalu paham apa makna sebenarnya. Namun karena itu adalah pepatah Arab dan bukannya Hadist atau ayat Al Qur’an maka tidak salah saya atau anda mencoba menginterpretasikannya sesuai pandangan pribadi kita masing masing.

Berbeda jika itu adalah hadist atau ayat Al Qur’an. Tidak pantas rasanya saya atau sesiapa menginterpretasikan sendiri tanpa dasar keilmuan tafsir yang mumpuni. Penguasaan kaidah bahasa arab, pengetahuan sejarah turunnya ayat (asbabunnuzul), periwayatan hadist, pendapat para sahabat, tafsir para ulama dan masih banyak lainnya.

Sudah sering kita mendengar pembahasan tentang waktu dan pentingnya memanfaatkan waktu. Pemanfaatan waktu membutuhkan presisi. Jika dahulu manusia menentukan waktu berdasarkan jam matahari dengan mengukur panjang bayangan untuk menentukan perkiraan waktu maka di jaman sekarang kita sangat familiar dengan jam.

Sejak ribuan tahun lalu bangsa mesir membagi waktu sehari menjadi dua periode 12 jam(1), mereka menggunakan prinsip jam matahari dengan batu besar (obelisk) sebagai acuan. Di berbagai belahan dunia kuna pengukuran waktu menggunakan metode berbeda-beda. Sebagian ada yang menggunakan lilin, stick, pasir, air dan pendulum. Jam portabel (watch) ditemukan sekitar awal abad 15 oleh pembuat jam Jerman bernama Peter Henlein (1485-1542)(2). Perkembangan teknik pembuatan jam dengan bahan dan metode berbeda semakin maju dari generasi ke generasi. Penggunaan sistem mekanik Balance Spring, Lever, penggunaan Quartz dan sekarang era jam digital yang terhubung dengan perangkat elektronik canggih.

Jam tangan bagi sebagian orang menjadi bagian tak lepas dari keseharian. Seperti ada yang kurang jika tidak memakai jam. Tanpa jam manajemen waktu bisa berantakan. Jadwal meeting dengan klien bisa terbengkalai, kontrak kerja jadi terlambat, rapat koordinasi organisasi terhambat, konsultasi pasien terganggu, bisa jadi jadwal operasi pasien tertunda gegara jam.

Tingkat presisi jam seseorang juga berlainan. Ada yang sengaja memajukan jam 5 menit, 10 menit, 15 menit dengan alasan: ” biar nanti tidak terburu-buru”. Ada yang benar- benar tepat dengan menyesuaikan standar waktu Greenwich Mean Time (GMT) yang dikonversi, adapula yang berkiblat kepada pemerintah (jam TVRI) atau menyesuaikan dengan jam stasiun TV swasta tertentu. “Biar gak ketinggalan sinetron”, kata seorang ibu. “Jam ini saya sesuaikan dengan stasiun televisi berita supaya tepat waktu menonton siaran berita dan debat politik”, kata seorang aktivis mahasiswa.

Lain pula dengan anda, jam yang anda gunakan mungkin sudah sesuai dengan jam kampus atau tempat kerja. Demi mengejar ketepatan waktu kuliah, supaya tidak terlambat absen masuk kerja atau akan terkena pemotongan gaji beberapa persen.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu gemar memakai jam. Sebagai gantinya penunjuk jam bisa melihat layar telepon seluler. Melihat jam sekaligus melihat apakah ada pesan masuk yang belum terbaca. Anda bisa mencoba cara lain, semisal ketika berada di perjalanan anda bisa berjalan perlahan lalu lihat kiri kanan ke dalam bangunan warung toko atau rumah yang terbuka. Dengan cara itu anda akan mudah melihat jam dan segera mengetahui waktu.

Suatu ketika saya bertanya kepada seorang sahabat yang saya lihat memakai jam berwarna keperakan dengan ornamen kuning. “Sahabat, jam berapa sekarang?”. “Maaf Dhil, jam saya ini sudah lama mati, cuman sekedar asesoris” jawabnya tersipu. Oalah, hahaha.

Yogyakarta, 21 April 2015

image

Ref:

1. Http://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_timekeeping_devices

2. Http://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_watches

Orthopedi dan HIV AIDS

Suatu ketika saya mendapatkan kasus seorang banci/bencong yang terluka akibat tertabrak kereta api. Ia tiba di UGD dalam keadaan kesakitan teramat sangat. Teriakan suara bass-nya memenuhi separuh ruangan UGD kontras dengan dandanannya yang menor.

Saat itu menjelang subuh, entah dalam kondisi mabuk atau apa, dia terjatuh (atau terpeleset) dijalur kereta api sekitar stasiun Lempuyangan. Tangan kanannya ‘tersenggol’ kereta api. Tidak jelas bagaimana dan bagian kereta api mana yang mengenainya. Tangan kanannya hancur sebatas setengah lengan bawahnya.

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh rekan serta pengasuh dari perkumpulan bencong pasien ini positif menderita HIV AIDS. Melihat kondisi tangan kanannya itu tim memutuskan untuk segera melakukan operasi debridement emergency dengan standar penanganan pasien HIV AIDS sambil dilakukan tes konfirmasi objektivitas status penyakitnya. Tak lama berselang segera dilakukan operasi debridemen dan fiksasi. Operasi berlangsung dengan lancar, tim masih menaruh harapan bagian tubuh yang rusak itu dapat terselamatkan. Beberapa hari kemudian harapan itu pupus, tim harus melakukan dilakukan operasi kedua diruangan operasi elektif untuk tindakan amputasi dan stump plasty.

Sepekan setelah operasi yang kedua pasien sudah dalam kondisi yang cukup baik. Luka mengering sesuai harapan tim. Tidak didapatkan tanda tanda infeksi lokal ataupun sistemik, dan pasien memang positif menderita HIV AIDS.

Persiapan operasi baik di ruang operasi emergency dan ruang operasi elektif dilakukan dengan sangat teliti, waktu yang diperlukan untuk operasi lebih singkat dari persiapan operasi itu sendiri. Persiapan ruangan dan segala prosedur prevensi yang sesuai dengan standar prosedur operasional untuk pasien HIV AIDS.

image

HIV secara klinis pertama kali teridentifikasi tahun 1981(1). Difase awal ini para peneliti menggunakan terminologi 4H. Pada bulan september tahun 1982 CDC (centers for disease control and prevention) mulai menggunakan terminologi AIDS(1) untuk penyakit ini. Meski demikian dipercaya HIV AIDS pertama kali muncul tahun 1959 yang dibuktikan dari sampel darah seseorang asal Congo(2).

Apakah boleh memilih untuk melakukan operasi pasien dengan HIV AIDS atau tidak? Ketika berhadapan dengan pasien yang terindikasi pengidap HIV AIDS penting untuk memegang kaidah “ultimate self protection“. Tentunya demi keselamatan pasien, pencegahan transmisi penyakit dan lebih utama lagi demi keselamatan diri serta keluarga.

Paul M. Arnow(3) tahun 1987 melakukan study terhadap 325 dokter spesialis orthopedi di Amerika Serikat yang merupakan anggota asosiasi dokter orthopedi amerika (AAOS/American Academy of Orthopaedic Surgeons) mengenai pandangan dan pengalaman mereka dalam penanganan pasien dengan HIV AIDS. Enam puluh sembilan persen dari responden setuju bahwa etis jika seorang dokter bedah orthopedi menolak melakukan operasi dengan pertimbangan keselamatan diri dan keluarga(3).

Profesi sebagai dokter bedah orthopedi memiliki resiko cukup tinggi tertular HIV AIDS. Ketika melakukan operasi mereka berhadapan dengan peralatan bedah dasar yang tajam, peralatan khusus bedah orthopedi yang memiliki bagian runcing atau fragmen tulang yang dapat melukai mereka.

Obalum(4) pada tahun 2009 melaporkan bahwa sebagian dokter bedah orthopedi di Nigeria masih mengabaikan faktor proteksi diri, diantaranya berupa penggunaan double gloving, kacamata, aprons, dan boots yang kesemuanya direkomendasikan sebagai alat proteksi. Dalam laporan penelitian yang sama Obalum juga menyatakan bahwa 89,3 % dokter bedah orthopedi yang menjadi responden penelitiannya tetap bersedia melakukan operasi terhadap pasien dengan HIV AIDS.

Arnow(3) menyimpulkan bahwa meskipun kebanyakan dokter bedah orthopedi percaya bahwa mereka tidak bisa dipaksa untuk melakukan operasi dan secara etika dapat menolak melakukan operasi jika kesehatan mereka terancam, namun mereka hampir selalu bersedia mengobati/melakukan operasi pasien dengan HIV pada kondisi operasi tersebut akan mendatangkan manfaat (beneficial) bagi pasien(3).

Dhar(5) tahun 2006 melakukan literature review dari berbagai sumber mengenai tindakan dan penanganan kasus orthopedi pada pasien dengan HIV AIDS. “HIV – positive patients should be treated on the merits of injuries and in the context of available resources and expertise. Regular medical attention, prophylactic antibiotic therapy, strict operating theatre discipline and early evaluation and treatment of possible infection and use of anti retroviral therapy are especially important in this setting“, tulisnya.

Sahabatku, prinsipnya serupa seperti instruksi yang selalu kita dengar dipesawat sebelum take off, pakailah masker oksigen terlebih dahulu sebelum memakaikan masker oksigen kepada anak anda.

In flight BPN-JOG, Maret 2015

References :
1. http://en.m.wikipedia.org/wiki/HIV/AIDS
2. http://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_HIV/AIDS
3. Paul M. Arnow, et al. Orthopedic Surgeons’ Attitudes and Practices concerning Treatment of Patients with HIV Infection. Public Health Reports (1974-) Vol. 104, No. 2 (Mar. – Apr., 1989), pp. 121-129. Published by: Association of Schools of Public Health. Article Stable URL:  http://www.jstor.org/stable/46286

4. Obalum, D.C. et al. Concerns, attitudes, and practices of orthopaedic surgeons towards management of patients with HIV/AIDS in Nigeria . Int Orthop. 2009 Jun; 33(3): 851–854.  Published online 2008 May 21.doi:  10.1007/s00264-008-0576-1

5. Dhar, D. HIV Infection and Orthopaedics: Current scenario and review of literature. The Internet Journal of Orthopedic Surgery. 2006 Volume 5 Number 1.

Tahajjud

Matahari belum bangun ketika aku berkeluh kesah kepada kekasihku

Hembusan semilir dan burung burung malam
Menjadi ‘amiiin’ satu satu kalimat ini

Mungkin
Kau juga masih terlelap
Dengan mimpi tentang buah hati

Biar saja,
Dalam hening aku bertemu damai
Dalam gelap aku berkeluh tentang silap

Kalimantan, November 2008

image

Motivasi

“Intinya, hidup ini orang perlu motivasi” begitu dia katakan kepada saya. Perawakannya tidak terlalu tinggi dengan badan yang cukup proporsional. Raut menampakkan keyakinan.

“Kita biasa dalam kondisi merasa tidak mungkin menjalani sesuatu” ia melanjutkan pembicaraan. ” Merasa tidak mampu, semakin kita berlepas dari apa yang mungkin bisa kita raih” sambil menikmati pemandangan dua ekor penyu seukuran meja tamu yang asyik makan rumput laut tepat dibawah kayu penyangga jetti. “Bagi saya,” katanya kemudian “semua harus dimulai dengan ‘bismillah’, ketidakmungkinan harus dilawan. Berusaha maksimal menjadi utama, hasil itu tidak penting, itu urusan Tuhan”. Perkataannya semenyala api semangat dimatanya.

Manusia, sebagaimana tersurat dalam kitab panduan hidup yang Tuhan turunkan dikatakan memiliki hati yang bisa terbolak balik. Kadang dipenuhi keyakinan terkadang diluapi keraguan. Kadang termotivasi untuk menjadi lebih baik namun kadang pula seperti menjalani hidup tanpa arah.

Mungkin yang dibutuhkan adalah selalu menumbuhkan motivasi. Entah dari siapa saja. Kadang melalui peristiwa kecil terkadang kita perlu berinvest pada motivator terkemuka untuk menumbuhkannya.

Lamat lamat adzan magrib terdengar dari RT 3. Kami berpisah ketika dia memutuskan kembali ke penginapan untuk bersiap menunaikan sholat di masjid.

Aku masih duduk sebentar di ujung jetti melihat laut kemerahan yang dibatasi matahari tiga perempat dan langit biru gelap tanpa awan.

Pulau Derawan, 20 November 2008

image