Arsip Kategori: 2. Rerindu

Sekumpulan Puisi dan Cerpen

Daun yang gugur saat lepas tengah malam

Daun yang gugur saat lepas tengah malam
Dalam harum-haruman, maka debur ombaklah
               yang memecah paras ayunya
Bulan? Dia sudah lelah menangisi cinta kayu
               kepada api yang tak kunjung padam

Tak perlu lagi bertanya kepada heningnya malam
Sebab pencinta sedang bermesra dengan Sang Bijaksana
Maka hening katamu adalah riuh kidung kemesraannya

      Yogya menjelang subuh, 28 april 2005

image

Rehat

image

Aku bersama secangkir teh kosong
Membaca waktu yang terlampaui
Sepanjang dari sini
Lalu ke barat

Aku mencoba mengeja jejak tertinggal
Dihembusan nafas yang terbentang
Searah kicau burung senja

Bagai angin menggelorakan samudera
Aku karam tujuh ribu kaki disana

                Yogya, 13 januari 2003

Jakarta

image

Bulan temaram menggantung di ujung siang
Sewarna lembayung berselaput awan
Putih dan abu-abu

Aku berjalan melintas kerontang
Wajah lelah rindu rumah
Percis mega yang juga lembayung

Baju berdebu capek menahan dua juta manusia
Membulatkan tekad bertemu kekasihnya
Sore ini.

Jakarta, Pertengahan 2000

Dimana Engkau Meulaboh

Ranahku tersapu sembilu pagi kemarin

Dari serambi hingga tebing tinggi tanah perindu

“Kami hanyut bersama seribu duka”

Kau dimana Meulaboh?

…………..

Adakah darah yang tersapu gelombang,

hingga kau tak bisa berkata kata lagi?

Ataukah karang tlah merampas jemari kecilmu?

………….

Aku tersayat ketika ombak memecahmu

Menjadi seribu potong tangan

Adakah hitam menutupi cahaya yang singgah dirumahmu?

Kemana kau meulaboh?

…………………

Seribu anakmu tak beribu

Seratus tiga ratus hilang dari bapaknya

Bahkan ketika senja menjemput wajah-wajah tak bernyawa

Kami tak tau dimana derumu

…………

Adakah malam tlah menutupi matahari pagi itu?

Ataukah badai yang mencengkeram

Celoteh adik kepada abangnya

………….

“kemarin pagi samudera menjadi karang yang menusuk dada”

………….

Aku menangiskan duka

ketika air matamu

Menjelma menjadi sepuluhribu jantung

Yang tak lagi berdetak

             Jawadwipa, 28 desember 2004

image

Renungan untukmu

1005277_10200858627341029_1508921217_n

Semurni apa telaga yang jadi dambaanmu?

Tidakkah cukup embun-Nya dipesisir malam,

menghapus desah kesahmu yang lelah mencari

…..

Enggankah kau jika saja kau tahu,

matahari tak datang demi sujudnya pohon,

dan air dan seuntai melati?

………

Setulus apa syair yang kau minta dariku?

Tidakkah cukup mutiara kesejukan dinuranimu yang indah itu

Menyentuh jiwa yang bahkan kau tidak pernah tahu siapa ia.

………

Melangkah saja terus bersama kerinduanmu

Sebab ilalang tak pernah bertanya pada gembala : “untuk apa ragaku?”

Dan akupun tak pernah butuh tepuk tanganmu

Jogja, 6 Januari 2005

Anggap Saja Aku Adalah Kembara

kutai barat

“Anggap saja aku adalah kembara

mengangkasa ditelan awan putih

Atau kulit kerang tengah berdansa dengan ombak”

Detik tak pernah mempermainkan kita

Peluh dan keluh-lah yang selama ini menghantu

Dari bayang bayang kelabu matahari tak letih 

bersinar

Hanya kita seringkali merasa lelah,  kenapa tak jua

tiba di kedamaian

Detik tak pernah berbohong dimana arah tujuan

Lelah dan penat-lah yang selama ini membelenggu

Dari sela karang gempita ombak tak letih

penghibur hati yang patah

Hanya kita seringkali merasa rapuh, kenapa tak ada

tempat bersandar

“Anggap saja aku adalah kembara

mengangkasa ditelan awan putih

Atau kulit kerang tengah berdansa dengan ombak”

Satu lalu satu silih berganti bunga melayu

berteman putik yang meranggas

Yogya, 23 september 2005