Lelarian Sepi
Diantara rerimbun
Dan riuh rerumput
Padang lumpur
Nafas yang putus putus
ditengah tanjakan tanah lengket
Bebatu
Lalu tepi hutan bakau
Diakhir semilir
pasir
Balikpapan, 22102017
Sekumpulan Puisi dan Cerpen
A very short story by hilmimuhammad
Sudah lama sejak sebelum menikah aku berjualan jamu. Emak dulu juga berjualan jamu. Simbah juga menjual jamu sejak jaman sebelum merdeka dulu. Kata simbah, orang pertama dikeluargaku menjadi penjual jamu adalah mbah buyutnya simbah. Namun simbah juga gak yakin, bisa jadi simbahnya mbah buyutnya simbah sudah berjualan jamu, begitu katanya suatu ketika. Ketiga anak perempuan emak menjadi penjual jamu. Termasuk aku. Dia cerita kalau mungkin saja aku adalah keturunan ketujuh atau kesepuluh yang berjualan jamu.
Entah kangmas tertarik padaku karena aku penjual jamu, kesederhanaanku atau karena yang lain. Kangmas tidak pernah cerita. Yang jelas aku tidak cantik, tidak seperti kembang desa itu. Wajahku bulat menyunggi lesung pipit dengan kulit sewarna coklat terbakar matahari. Tidak ada yang istimewa dariku.
Kami menikah secara sederhana di desa kami delapan tahun yang lalu. Sejak itu kehidupan kami selalu diisi dengan kelapangan hati betapapun kesusahan yang kami hadapi. Kangmas orang yang penyabar dan ulet bekerja. Pekerjaan apapun dia lakoni asalkan halal. Akupun mencoba bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami.
Tak seberapa lama setelah menikah kami berdua memutuskan untuk merantau ke kota. Meninggalkan desa dan sanak keluarga untuk “Mencari penghidupan lebih baik”, begitu kira-kira kata kangmas. Dengan bekal seadanya kami pergi ke kota dekat pelabuhan yang sudah sejak lama ramai. Toko-toko dan pabrik besar ada disini. Banyak rumah tembok dengan pagar tinggi dan gonggongan anjing penjaga. Mobil-mobil bagus dengan kursi empuk dan udara sejuk walau udara diluar panas menyengat.
Aku berjualan jamu seperti leluhurku. Banyak yang menjadi langganan jamuku. Ibu rumah tangga, bapak-bapak tua, anak kecil, emak, bulek penjual sayur, anak sma, mahasiswa mahasiswi kos-kosan, pekerja bengkel deket kontrakan. Satu dua tiga atlet sepeda yang sering berhenti mencegatku untuk minum segelas beras kencur. “Mbak ayu, kalo habis minum jamumu itu badanku rasanya mak wesss, mancal sepeda jadi buanterrrr”, begitu kata mereka
Kangmas berjualan bakso. Ia membuat sendiri baksonya dari daging sapi giling. Kangmas tidak pernah mencampurkan bumbu penyedap rasa apapun. Semua alami tanpa penyedap buatan. enak dan lumayan laris meskipun lebih banyak saingannya. Pelanggannya pun lumayan. Abang ojek pangkalan, serombongan anak smp, tukang tambal ban depan gang, gadis penjaga toko pakaian, satpam bank dan beberapa pegawai kantoran yang suka menyantap semangkok bakso sebelum pulang selepas kerja.
Suatu ketika diawal musim hujan tahun keempat kami merantau ke kota, anakku sakit demam tinggi. Sebelumnya tak pernah dia sakit seperti ini, sejak lahir selalu sehat. Entah kenapa saat itu banyak anak-anak menderita sakit demam. Beberapa diantaranya harus dirawat di rumah sakit umum. Anakkun masuk rumah sakit hampir sepuluh hari, entah apa sakitnya aku bingung penjelasan dokter. Setiap dokter menjelaskan aku dan kangmas hanya manggut-manggut bercampur sedih. Kami berdua tak paham. Hanya saja apapun yang terjadi kami pasrahkan pengobatan anak kami kepada dokter ahli. Dia sudah belajar bertahun-tahun tentang pengobatan yang sesuai dengan ilmu terkini. Kami tak percaya sedikitku dengan dukun dan apapun namanya.
Sejak ia sembuh, lama aku merenung sendiri sebelum aku akhirnya memutuskan berhenti jualan jamu. Tanpa sepengetahuan kangmas, namun ia tak pernah protes atau menanyakan kenapa. Pelanggan kebingungan. Banyak yang mencariku, menanyakan kenapa aku tidak berjualan jamu lagi. Kinerja mereka menurun, prestasi jeblok dan turun drastis, beberapa atlet langganan aku dengar prestasinya turun. Kabar terakhir mereka gagal masuk seleksi tim nasional.
Suatu ketika -tak lama berselang- kangmas tiba-tiba saja, tanpa sepengetahuanku, memutuskan berhenti jualan bakso. Sore itu ia tidak pergi ke kios daging sapi untuk kulakan daging giling dan malamnyapun ia segera tidur, tidak seperti biasanya. Paginya kangmas bilang kalau ingin melanjutkan berjualan jamu saja. “Mas, koq jual jamu? Mana ada Pak jamu, adanya Mbok jamu, Mas, sudah sampeyan jualan bakso saja”, kataku.
“Nggak, aku mau jualan jamu”, kata kangmas singkat. Aku tak banyak bertanya lagi karena aku tau betapa kukuhnya ia jika mempunyai keinginan. Tidak ada gunanya merubah keputusannya kecuali keinginammya sendiri.
Seminggu berlalu, kangmas asyik belajar membuat jamu. Selama ini kangmas tidak pernah ikut mencampuri aku membuat jamu, seperti pula aku tak pernah mencampuri urusannya membuat bakso.
Ia meracik jamu dengan takaran seperti leluhur kami, memasak dengan cara yang sama pula. Dicicipinya sendiri, berulang-ulang. Dibuatnya lagi racikan jamu dengan takaran seperti para leluhur lalu dicicipinya lagi, begitu berulang-ulang.
Beras putih bersih tanpa aroma, akar rimpang kencur kunyit, gula asam jawa, pandan, jahe dan garam gula diolah dicampur dengan takaran sederhana, hanya genggaman tangan, cuilan atau ukuran panjang ruas jari saja patokannya. Seperti yang diajarkan ibuku dari leluhur kami.
Sampai suatu pagi kangmas dengan wajah ceria bilang begini: ” Bune, mulai hari ini aku siap jualan jamu beras kencur, doakan laris buat rejeki keluarga kita yo”. “Iya, Mas, semoga laris jualan jamunya Kangmas”, jawabku sambil tersenyum.
—–++++——
Katanya, banyak orang suka jamu suamiku. mereka menyukai rasanya yang segar. Pejabat, pegawai, buruh proyek pembangunan, polisi lalu lintas, pengamen di terminal sampai tahanan di penjara selatan perempatan suka. Sampai – sampai ada yang pesan botolan untuk dibawa oleh-oleh.
Aku jadi sering mendengar cerita dari orang-orang tentang enaknya jamu buatan kangmas. Belum pernah mereka bertemu dengan penjual jamu yang menjual jamu seenak beras kencur kangmas. Aromanya wangi, rasanya menyegarkan dan selalu dalam keadaan hangat.
Katanya, rasa jamu beras kencur kangmas lebih enak dibandingkan jamu buatanku. Lebih seger dan benar-benar mengisi tenaga. Padahal bahan yang kami pakai sama, cara membuatnya sama. Memang kangmas berhari-hari mencoba meramu takarannya sendiri. Bisa jadi itu yang membuat jamunya lebih berasa.
“Bahannya beras putih bersih tanpa aroma, akar rimpang kencur kunyit, gula asam jawa, pandan, jahe dan garam gula”, kataku menjawab pertanyaan seseorang di warung kelontong dekat rumah. Dia bertanya lagi : “Cara bikinnya gimana to Yu?”. “Caranya ya seperti itu tadi, kalo mau jelas ya tanya saja sama kangmas”, kataku sambil berlalu menutup perbincangan dengannya.
Jogja – Samarendah, Februari 2016
A very short story by Hilmimuhammad
Sebuah menara kayu tua berada tepat sebelah danau nampak tegak walau atapnya telah rusak separuh. Udara berembun sejak sebelum subuh turun perlahan. Namakan saja kabut yang mengambang yang bersahabat pada permukaannya.
Menara yang selama bertahun-tahun tersapu hujan tak membuat kayu penyangganya rapuh. Banyu malah membuatnya bertambah membatu. Kerang yang menempel bertumpuk tumpuk bukannya membuat lapuk namun mengeraskannya.
Pada sebelahnya terdapat gubuk tua dengan atap genteng lempung dengan halaman tanah luas berumput tebal. Tergeletak beberapa batu karang lumayan besar yang tertutup lumut separuh.
Enam pemuda datang beberapa saat sebelum senja. Sejak pertama mereka ragu melangkah masuk ke gubuk. Mereka datang karena mendapatkan surat. Pada alamat asalnya tercantum : Pak Tua, sebuah desa dekat lembah dengan danau yang selalu berkabut.
Sapaan dengan suara rendah dan santun kakek berbaju kelabu seakan-akan memaksa mereka masuk. Walau telah cukup jauh datang namun mereka tetap enggan untuk masuk.
“Masuk masuk”, sapaan kakek memecah keengganan mereka. Wajahnya cerah nampak berumur. Kerut-kerutan wajahnya menunjukkan pengalaman asam garam.
“Maaf Pak Tua, apakah benar ada surat oleh bapak ?”, Kata pemuda berbaju magenta. Perkataannya perlahan tampak menjaga agar tetap tenang.
“Betul anak muda, aku yang mengundang kau dan mereka, masuk-masuk.” Kata kakek tua. “Ayo masuklah, ada teh hangat, kacang dan ketela rebus panenan kebun untuk sahabat-sahabat semua, ayo”. Suasana tak seburam sebelumnya. Bapak tua menyambut hangat melegakan.
Mereka melangkah masuk satu-satu, pemuda berambut lurus, pemuda berbaju magenta, pemuda berambut sebahu, pemuda bercelana pendek, pemuda gemuk berwajah bulat dan terbelakang adalah pemuda dengan ransel merah yang masuk.
Termakan umur dan renta menerjang jaman gubuk tua tetap tegak menantang deru debu yang datang bertahun tahun searah lembah. Perabotannya sudah layak separuhnya lapuk. Tentu warnanya telah pudar sejak lama. Sama dengan tehel buram berwarna merah pudar menutup jejak-jejak kasar yang pernah datang dan keluar. Plester dengan cat terkelupas pada banyak tempat merusak latar pemandangan alam belakang gubuk.
Pemuda bercelana pendek dan pemuda berambut sebahu menatap gambar cat kanvas pemandangan yang tergantung. Tentang pemburu yang membawa senjata laras panjang dengan beruang, macan tutul dan menjangan buruannya tewas tergeletak. Sedangkan elang berparuh krem terang bertengger pundaknya. Betul-betul serupa dan nyata. Dekatnya tergantung sebuah tulang kepala rusa lengkap dengan dua tanduk menjulangnya.
Percakapan berlanjut. Perkenalan satu-satu, bercakap tentang maksud dan tujuan sebenarnya. Kakek tua menunjukkan sebuah buku tua yang bersampul merah delima terbungkus rajutan bulu hewan. Sampulnya nampak sangat tua.
Kakek tua berkata, “Berbulan lalu aku temukan sebuah buku tua dalam bufet lapuk yang tergeletak rusak dekat puncak menara. Dalamnya tentang legenda anak-anak pahlawan. Anehnya, ada alamat anda pada halaman pamungkas: kepada Para Pemuda, kampung cempaka dekat stasiun kereta senja” lanjut kakek tua.
“Kenapa ada alamat pada halaman belakangnya, Pak?, kata salah satu pemuda gemuk yang berwajah bulat. Mereka heran apa alasannya.
“Saya sudah bertanya-tanya ada apa sebenarnya” kata kakek tua. “Namun tetap saja semacam sayembara yang sukar terpecahkan” lanjutnya.
Keheranan para pemuda bertambah. Mereka berkasak kusuk mempertanyakan ada apa sebenarnya. “Maka kau bawa saja buku tersebut, cobalah saja bawa ke perpustakaan terhebat punya negara, naga-naganya mereka tahu ada apa kandungannya” ungkap bapak tua.
Satu-satu mereka menatap buku yang bersampul merah tersebut. Mereka buka, pemuda berambut sebahu menatap lembaran dan lembarannya. Aneh memang, tak satunya tahu apa kandungannya.
“Sebentar anak muda, aku ke dapur dulu, ayo makan saja semuanya “, kata kakek kepada para pemuda seraya melepas tumpuannya pada bangku kayu lalu beranjak ke belakang.
Bahasanyapun mereka tak paham, huruf yang tercantum tak pernah mereka temukan sebelumnya. “Kenapa kakek tua tersebut tahu tentang legenda anak-anak pahlawan?”, kata pemuda dengan ransel merah. “Entahlah, akupun tak tau, jangan2 semua hanya karangannya saja”, pemuda berambut lurus menjawab, “atau sebenarnya ada maksud jahat” lanjutnya.
Setengah jam kakek tua tak datang juga, lenyap tanpa bekas. Mereka sudah gusar lalu sesaat keadaan berubah senyap. Gelas teh segera saja berembun dan uap kacang memudar sejak tengah-tengah pertemuan. Lampu menyala temaram dengan suara “tengggggggg …. tengggggggg …. tenggggggg”, serupa dengan suara ngengat berputar putar.
Tanpa aba-aba mereka secepatnya keluar gubuk tua berjalan tergesa menuju dua kendaraan yang sebelumnya membawa mereka datang. Bergegas pulang keheranan bercampur takut dengan membawa buku tua yang tak mereka paham. Kendaraan segera melaju kencang, debu berterbangan bak jutaan kunang-kunang.
Lamat-lamat pada kejauhan tampak kakek tua bergegas keluar semak-semak menuju dermaga. Sebuah kapal telah menunggunya sejak subuh. Sekejap mata kakek sudah berada dalam palka kapal, memegang kayu pembatas lalu berucap :
“Tugasku hanya mengantarkan kepada mereka, selanjutnya terserah kau..”
Bujangan bertubuh kekar yang membawa kapal tersenyum penuh makna. Telapak tangan kanan terkepal bergemeretak. Kapal segera melaju kencang ke arah surya yang tenggelam tuntas.
Samarendah, bulan satu tahun enam belas
[A very short poet by hilmimuhammad]
Jendela tertutup rapat
Pintu telah lama berkarat
Labah-labah asyik mematri kawat nyamuk Diatasnya debu
Semilir yang kau ceritakan
Datang dari sela pintu
Yang membasuh cermin tembaga
Tak pernah ada
Ini belenggu yang mengganggu
Rantai di kaki leher dahi
Sempit.
Sudahlah pecah
Biar sepoi-sepoi memecah pengap
Biar isis
Yogyakarta, bulan satu enam belas
A very short story by hilmimuhammad
Suara gesekan sapu lidi dengan aspal setia menemani lelaki itu bekerja. “Srek…sreek…sreeek” seperti alunan musik merdu. Denting kerikil dan baut yang terbentur kaleng bekas seperti piano dimainkan prelude e minor. Klakson mobil seperti terompet orkestra klasik.
Sudah 15 tahun lelaki itu bekerja menjadi penyapu jalan. Mulai selepas tengah malam sampai lepas matahari terbit sempurna. Istirahat saat subuh dan melepas dingin dengan segelas kopi. Begitu rutinitas setiap hari, setiap minggu, bulan.
Dahulu, sebelum bekerja sebagai penyapu jalan ia hanya lelaki pengangguran putus harapan. Puluhan lamaran pekerjaan ia kirim namun hasilnya nihil. Sulit sekali mencari pekerjaan. “Ekonomi sedang pahit, Pak. Kami tak butuh tambahan tenaga”, alasan banyak perusahaan.
Hingga suatu siang saat berjalan kaki sepulang dari interview -yang hanya untuk menolaknya- ia melihat lembaran koran bekas. Dipojok kiri bawah tertulis lowongan menjadi penyapu jalan. Persyaratannya : “Mau bekerja sebagai penyapu jalan dari jam 12 malam sampai jam 8 pagi”. Sejak saat itu ia menjadi petugas penyapu jalan.
Banyak benda pernah ia temukan sepanjang menyapu jalan. Dompet, kunci, sekrup, mur, uang receh, uang kertas, kartu hotel, topi, sepatu anak-anak, dan paku berbagai jenis. Ada paku payung, paku triplek, paku baja, paku kayu ukuran kecil hingga paku seukuran jari kelingking dewasa, sering sekali ada.
Awalnya lelaki penyapu itu heran mengapa banyak paku dijalanan. Ia tidak tahu jawabannya sampai suatu waktu beberapa orang mengitimidasinya. “Sudah ! Jangan lagi kau pungut paku-paku itu!! Kampret !!! Awas, lain kali kulihat kau pungut ku hajar sampai kau tak bangun !!!!”, kata salah satunya dengan pandangan penuh kebencian. Mereka adalah sindikat penebar paku. Namun ia tak bergeming dari pekerjaannya, tak peduli teror lelaki penyapu itu terus bekerja setiap hari, setiap minggu, bulan dan tahun.
Sekali ia hampir diserempet oleh pengendara mobil. Mobil sedan hitam mengkilat melaju seperti kerasukan menyalip mobil lain dari sebelah kiri. Lelaki itu jatuh terhempas oleh kencangnya angin. Untung ia tak luka sama sekali. Jika beberapa centimeter saja ia berdiri agak ke tengah jalan niscaya akan ditabrak dengan sangat keras. Tuhan masih menyayangi lelaki penyapu itu.
Pernah juga ia dimaki oleh preman kampung yang sedang mabuk-mabukan dipertigaan jalan. Mereka terganggu oleh suara kaleng yang disapunya. Ia didatangi dan dimaki, lelaki itu hanya diam dan menatap tajam. Preman lain yang belum mabuk mencoba melerai. “Bro, ngapain lu urusin tuh cecunguk sapu lidi, biarin aja, ni minumanmu keburu dingin”, sambil menyodorkan botol dengan bau menyengat.
Tukang sapu itu pernah ditawari pekerjaan lain dengan gaji lebih besar. Namun ia tidak pernah berpikiran meninggalkan pekerjaan sebagai penyapu jalan. Ia mencintai sepenuh hati pekerjaannya.
Bagi dia gaji yang diterima selama ini sudah cukup. Ia sudah bisa hidup dengan nyaman. Ia tidak perlu listrik di rumah. Ia bisa memakai lampu dari minyak kelapa . Toh, halaman rumah terang benderang oleh lampu penerang jalanan yang berdiri diatas tiang tinggi. Jika pintu depan dibuka cahayanya menerangi hampir ke seluruh isi rumah.
Hari bulan tahun berjalan. Ia terus bekerja. Mengulang rutinitas yang sama setiap musim. Hingga suatu ketika lelaki itu didatangi oleh beberapa pria. Mereka mengabarkan jika pemerintah akan memberinya penghargaan atas pengabdiannya bertahun-tahun.
“Saya tidak pantas pake jas pak, jas untuk orang kaya. Saya baju seragam kuning ini saja cukup” katanya ketika seseorang mengatakan bahwa ia harus memakai jas pada acara pemberian penghargaan. “Tapi pak, ini hanya untuk acara malam penghargaan saja, hanya sebentar koq“, seseorang itu berkilah. “Akan datang banyak pejabat, orang penting dan wartawan dari penjuru negeri, bapak pakai jas sebentar saja karena ini acara resmi”, kata seseorang yang lain.
Lelaki itu tetap berusaha menolak. Namun akhirnya dengan bujuk rayu dan berbagai alasan dia terpaksa mau memakai jas untuk acara penghargaan. Maka didatangkan pembuat jas terbaik di kota dengan bahan terbaik yang ada. Dasinya terbuat dari sutera warna kuning.
Ketika malam penghargaan tiba ia dijemput dengan mobil sedan oleh para panitia. Mobil sedan persis seperti yang hampir menyerempetnya dulu. Sedan berwarna hitam mengkilat dengan lampu merah menyala.
Banyak orang penting dan pejabat yang hadir. Diiringi musik menggelegar memekakkan telinga. Ia merasa tidak nyaman, gerah, bising dimana-mana dengan bau parfum menyengat. Mereka tertawa terbahak oleh sebab yang tidak bisa ia pahami. Bising sampai berdenging, semakin lama semakin membuatnya seperti sendiri. Menjauh lalu perlahan semua menjadi sepi, hanya terdengar “srek..sreek…sreeek” suara sapu lidi yang bergesekan dengan aspal. Merdu bercampur semilir angin malam.
“Ayo makan, Pak” suara dari seseorang dari samping tiba-tiba membelah lamunannya. Seseorang itu berdiri mendahului menuju barisan makanan diatas meja.
Makanan yang entah apa namanya ada di depan lelaki itu. Ia tak bisa mengenali makanan apapun kecuali nasi putih yang masih mengepul dan kerupuk di toples besar tanpa tutup.
“Koq makannya hanya nasi kerupuk, Pak? ” tanya seseorang lagi. “Iya Pak, gak apa apa, saya cukup ini saja”.
Jam 12 malam. Pesta penghargaan belum selesai. Mereka masih asyik terbahak oleh sebab yang tidak bisa ia pahami. “Sudah saatnya aku bekerja” guman lelaki itu. Tanpa berpamitan ia bergegas keluar menghilang dalam kegelapan malam. Piagam dan medali penghargaan tergeletak begitu saja di pelataran gedung.
Sejak itu setiap selepas tengah malam hingga lepas matahari terbit sempurna selalu tampak seorang tukang sapu berbaju jas lengkap dengan dasi kuning sutera. Menyusuri jalanan utama, jalan di tepian sungai sampai jalan sepi di lereng pegunungan.
Samarendah, 28 Desember 2015
A very short story by Hilmimuhammad
Kelahiran bayi mungil telah mencerahkan seisi rumah yang sudah lama suram. Lahir normal dengan panjang 50 cm dan berat 3,5 kilogram. Berkulit sawo bersih, bermata putih jernih dengan iris kecoklatan yang tengahnya hitam legam. Badannya padat berisi tapi tidak gemuk membikin siapapun yang memandangnya merasa senang.
Sejak lahir bayi itu selalu tersenyum. Ketika digoda oleh sanak keluarga, ayah bunda, eyang kakung putri selalu senyum. Sehabis mandi, bangun tidur atau saat lapar ia tetap tersenyum, kadang tertawa. Pembeda saat lapar atau senang hanya lengkingan dan panjang tawanya. Belum pernah sekalipun ia menangis, paling mentok ia hanya diam sambil mulutnya sedikit membuka, tangan dan kaki digerak-gerakkan kencang lalu tersenyum kembali.
Tetangga yang datang menengok menanyakan kepada ayah bunda kebenaran berita yang mereka dengar. Saat aqiqoh para sanak keluarga dan tamu undangan menggunjingkan kebenaran kabar burung tentang bayi yang selalu tersenyum itu. Sebelum akhirnya mereka menyaksikan kebenaran beritanya dengan mata kepala mereka lalu menyebarkan lagi berita seperti burung-burung.
Mendekati usia tiga bulan lengking tawanya semakin menghebohkan seisi rumah. Senyumannya semakin menawan. Rumah penuh sesak oleh tamu pelawat yang datang silih berganti siang malam ingin membuktikan kebenaran kabar itu. Keluarga dekat, keluarga jauh, tetangga dekat, tetangga kampung sebelah berdatangan.
Keluarga memutuskan untuk memindahkan bayi ke pendopo supaya mudah dilihat dan dikunjungi ramai pelawat. Bayi itu diletakkan di dalam kotak tidur kecil berpagar sewarna biru laut yang terbuat dari kayu nangka tua. Tamu pelawat tak henti berdatangan, semakin hari semakin banyak. Bayi itu tetap tersenyum kepada siapapun yang datang Sesekali tertawa melengking membuat girang sejumlah pelawat.
Sekumpulan pemuda kampung mendapat berkah rejeki melalui uang jasa parkir. Mereka pemuda pengangguran yang biasanya nongkrong di pos ronda yang tidak pernah lagi dipakai ronda dengan ditemani gitar yang senarnya putus satu, kartu remi dan kopi pahit. Para pemuda itu sekarang selalu cerah karena jadi punya mata pencaharian dadakan.
Karena membludaknya pelawat maka atas persetujuan keluarga besar bayi itu dipindahkan ke balai kecamatan. Ruang balai pertemuan kecamatan disiapkan untuk kenyamanan bayi. Semua kebutuhan bayi diangkut dari pendopo lengkap dengan kotak bayi berwarna biru laut. Dibuatlah antrian melingkar-lingkar dari rumput jepang warna warni. Petugas pamong tampak kewalahan mengatur alur pelawat. Penjual makan dan minum dadakan mengalahkan pasar tiban dipengkolan jalan.
Beberapa hari berselang dengan berbagai pertimbangan diputuskan untuk memindahkan bayi ke pendopo kabupaten. Tiga layar berukuran besar diletakkan dihalaman pendopo. Kegaduhan semakin meluas terjadi. Pewarta dari dalam dan luar daerah semakin banyak berdatangan, menyaksikan senyum bayi itu lalu membawa pulang kebenaran berita untuk disampaikan kepada rakyat melalui media masing-masing.
Pemerintah kabupaten kewalahan setelah hanya bertahan melayani puluhan ribu pelawat dalam beberapa hari saja. Bupati mengajukan usul agar bayi segera dipindahkan ke istana kerajaan. Sang raja dengan bijaksana menyetujui dan memerintahkan agar disiapkan bangunan semi permanen yang nyaman dengan jalur antrian lebih baik dari rumput jepang. Pelawat tumpah ruah masih dengan antrian yang mengular. Mereka rela berpanas-panas demi melihat dia yang selalu tersenyum.
Bayi itu seperti menjadi nabi baru. Semua ingin melihatnya. Membuktikan kebenaran kabar burung-burung tentang bayi yang selalu tersenyum. Berita ini sudah melebihi bencana semburan gunung api yang meratakan abunya ke semua atap kota beberapa tahun lalu. Bandara penuh sesak seperti pasar. Terjadi lonjakan penumpang melebihi libur tahun baru. Stasiun kereta dijejali arus kedatangan pelawat dari kota-kota lain. Terminal angkutan darat penuh, melebihi liburan lebaran. Jalur buka tutup menuju istana yang diberlakukan hanya mampu mengurai sedikit kemacetan. Angkutan darat tambahan tumpah ruah mengisi ruang-ruang parkir.
Tajuk utama koran nasional berulangkali memuat foto bayi itu dengan berbagai judul. “Bayi yang selalu tersenyum”, “Bayi Ajaib Tersenyum”, “Si Mungil Dengan Mukjizat Senyum”, “Bayi Anugerah Tuhan Membawa Kembali Senyum”, “Senyum Telah Datang”, dan banyak lainnya. Liputan media elektronik seakan tidak ada habisnya. Trending topik dunia maya melebihi berita apapun. Televisi tidak lagi menyiarkan berita kriminal, skandal dan koruptor. Berita selebriti hilang sama sekali. Berita konspirasi hanya sekedar running text, siaran olahraga hanya diputar lebih tengah malam, tidak ada siaran langsung acara apapun selain bayi itu.
Sekitar usianya yang kelima bulan lebih sedikit datang melawat rombongan presiden, para menteri dan petinggi perwakilan rakyat. Diiringi pengawalan khusus rombongan mobil kepresidenan itu datang ke istana untuk langsung bertemu sang bayi. Presiden yang selama itu tidak pernah tersenyum seketika tersenyum ketika bertatapan dengan sang bayi. Demikian pula para petinggi negara dan tokoh nasional.
Atas persetujuan petinggi perwakilan rakyat maka presiden memutuskan untuk memboyong bayi yang selalu tersenyum itu ke ibukota negara. Dibuatkan protokoler khusus untuk mengakomodir ribuan pelawat yang ingin melihat. Menyebarluaskan kabar datangnya sang bayi yang selalu tersenyum yang mampu membuat mereka yang melihatnya menjadi tersenyum.
—————————-
Sesungguhnya senyum bangsa ini sudah lama punah. Senyuman telah sekian lama menjadi legenda. Lebih setengah abad menghilang. Sejak itu tidak ada lagi saksi mata yang melihat senyuman. Sudah tidak terhitung laporan palsu menyatakaan melihat senyuman. Setelah di konfirmasi itu hanya omong kosong. Berita kosong yang dihembuskan oleh angin dibawa kencang oleh badai lalu diturunkan ke telinga-telinga manusia oleh semilir angin dari sela rumput.
Ratusan mungkin telah ribuan peneliti gagal menemukan penyebab punahnya senyum. Bahkan sejak empat dekade terakhir kepunahan senyum merata di seluruh penjuru mata angin.
Orang yang terakhir tersenyum diabadikan dalam sebuah ruangan musium ibukota negara. Sayang senyuman terakhirnya gagal terdokumentasi. Hanya biografi dan pernak pernik dia yang ditampilkan sebagai pengingat dan pemberi motivasi.
Menurut apa yang disampaikan dalam laporan resmi para ahli perguruan tinggi kebanggaan negara disebutkan bahwa terakhir kali senyum terdeteksi 65 tahun lalu. Tempatnya disebuah desa kecil ujung benua. Desa damai di sebuah lembah sempit di tepi teluk kecil yang menghadap ke samudera. Disanalah tinggal seorang pemuda yang selalu tersenyum kemana saja ia pergi. Hingga akhirnya pada suatu sore tiba-tiba ia menghilang di ujung tebing. Sejak itu tidak ada lagi orang yang pernah tersenyum.
———————————-
Setiap orang yang melihat langsung senyuman bayi itu menjadi mampu tersenyum. Orang-orang tua yang usianya diatas 80 tahun dulu pernah tersenyum sekarang kembali tersenyum. Mereka mengingat ingat kembali bagaimana dulu mereka biasa tersenyum. .
Anak-anak muda bisa tersenyum. Mereka canggung bagaimana senyum dengan benar. Seumur-umur belum pernah mereka tersenyum, jadi sekarang mereka belajar tersenyum mirip seperti ketika mereka pertama-tama belajar berjalan. Belajar memahami kapan dan bagaimana mestinya senyum.
Bayi yang selalu tersenyum itu telah menjadi virus tanpa antivirus. Menyebar seperti benih ilalang yang dibawa angin. Menjadi kebenaran kabar burung seperti kebenaran hujan yang merata semakin lama semakin meluas. Seperti wabah dijaman Musa as.
Sebentar lagi seluruh dunia akan terjangkit senyum. Siap-siap saja.
Jogjakarta – Samarendah, 29 Desember 2015
A very short story by hilmimuhammad
Setiap pagi pukul setengah tujuh ia datang tepat di seberang warung kelontong. Sepeda motor bebek empat silinder miliknya sudah lama lusuh namun tidak berbau amis meskipun sehari-hari menemani mengangkut ikan dagangan dari tempat pelelangan berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya.
Pukul tiga dinihari, Paklek sudah beranjak dari tempat tidur. Ditinggalkan anak perempuannya berusia sekitar empat tahun terlelap mendekap boneka beruang coklat muda. Istrinya selalu lebih dulu bangun, memanaskan air dengan ceret kecil berwarna perak lalu membuatkan secangkir kopi tanpa gula.
Ikan yang diambil paklek dari tempat pelelangan tidak terlalu beragam. Hanya beberapa kakap merah berukuran sedang, tongkol, ekor kuning, kembung, trekulu dan udang.
Terkadang ada pesenan khusus dari ibu-ibu. “Paklek, besok bawain cumi-cumi 3 kilo ya, aku mau buat calamari goreng untuk acara arisan, cariin yang gak terlalu kecil, tapi jangan yang gede. Pastiin masih segar gak pake freezer segala, yang baru datang dari laut, aku gak mau lo kalo gak seger dan gak murah”, begitu percakapan terakhir mereka sehari sebelumnya. “Siyaaap, Bu”, selalu itu jawabannya, sampai-sampai banyak ibu pelanggan yang menjulukinya “Paklek Siap”.
Lama sebelum ia datang, bahkan ketika orang pertama belum melewati jalanan menuju masjid di ujung gang, seekor kucing berwarna kuning dengan beberapa garis putih duduk mendekat diteras dekatnya berhenti. Terkadang dijilatnya punggung kaki lalu dieluskan ke muka. Berulangkali. Tak ada yang tahu dari mana asal kucing itu.
Paklek menyandarkan motornya dengan penyangga tambahan terbuat dari kayu yang ujungnya berbentuk cekungan seperti huruf “V”. Dibuatnya sendiri untuk memastikan motor yang membawa barang dagangannya berdiri tegak dengan beban keranjang kiri dan kanan.
Kucing gemuk berwarna abu tiba-tiba saja sudah meringkuk dibawah keranjang gerobak sebelah kanan. Kedua kaki depan rapat rata di dada, dengan pandangan santai tidak ada kesan siaga sama sekali. Tidak seperti mata kucing yang mengincar mangsa.
Abu sangat yakin akan dapat makanan lezat dari paklek penjual ikan seperti biasanya. Bahkan tikus gemuk yang sesekali berlarian melewati got tidak dipedulikan. Bisa jadi Abu jijik memakannya. Bagaimana tidak, tikus got menghabiskan sepanjang usianya diseputaran lubang-lubang got. Lahir, bermain, dewasa dan beranak pinak lagi disana.
Sejak mengenal ikan paklek sepertinya Abu kehilangan selera terhadap tikus. Hanya sesekali saja Abu makan tikus. Terakhir sebulan lalu Abu terlihat memangsa tikus rumah yang terjatuh dari plafon beberapa meter didepan moncongnya, secara reflek Abu menyambar gumpalan daging hidup berbulu itu. Menggigitnya. Tikus memberontak kencang tapi malah membuat gigitan Abu makin kencang. Tidak lama berselang Abu kembali meringkuk menyisakan potongan ekor, kepala dan kulit tikus. Tanpa ekspresi.
Beberapa ibu mulai membuka pintu rumahnya, mengambil sandal dan berjalan menuju penjual ikan itu. Setiap pagi paklek menjadi idola ibu-ibu. Ibu tua yang kenyang pengalamanan rumah tangga, ibu paruh baya yang ditinggal suami sampai ibu muda yang baru beberapa bulan menikah semua mengidolakan paklek.
Untuk lauk ikan mereka bergantung kepada paklek Siap. Jika hendak membeli sayuran maka ibu-ibu cukup berjalan menuju warung kecil dekat masjid. Disana selalu siap sayuran lengkap dengan tahu tempe dan telur ayam ras. Mereka kurang mengidolakan tahu tempe. Sayup mereka bergosip jika rasanya tidak sip, entah karena kualitas kedelainya atau karena cara membuatnya yang kurang baik.
Suami dan anak-anak mereka menyukai masakan ikan yang dibeli dari paklek. Selalu segar, begitu kira-kira ungkapan para suami. Paklek memang punya langganan penjual dipelelangan ikan. Ia selalu kulakan dari penjual itu saja. Penjual yang selalu mengambil dari nelayan langganannya, yang selalu melaut pada jam dimana ikan-ikan terbaik keluar dari rumponnya.
Nelayan yang selalu pulang begitu mendapatkan ikan-ikan terbaik. Tidak berusaha mendapatkan ikan lebih banyak namun dengan kualitas rendah.Nelayan yang selalu pulang setelah mendapat ikan terbaik sebanyak biasanya saja. Membawanya sesegera mungkin ke tempat pelelangan ikan lalu dibawa paklek untuk dijual.
Kucing hitam legam berjalan hati-hati. Melangkah sedikit lalu mengibaskan kakinya satu satu. Jalanan penuh lumpur membuat malas sesiapa saja yang melalui. Sejak dulu daerah sini memang tergenang air satu dua jam jika turun hujan lalu perlahan berangsur surut menyisakan genangan lumpur diatas jalan cor.
Hitam berjalan perlahan. Pandangannya mendahului menyusuri jalanan seperti sedang merumuskan pola matematis terbaik untuk melewati jalan lumpur sekering mungkin. Melangkah hati-hati kemudian mengibaskan kakinya, depan dan belakang bergantian.
Lembayung langit sudah lama hilang berbeda tipis dengan datangnya Kuning. Secarik sinar matahari turun melewati sela-sela rumah kayu kearah punggung paklek Siap yang mulai berkeringat. Satu persatu ibu-ibu mulai kumpul disekeliling paklek.
“Palek, setengah kilo kembung aja”, ibu berperawakan gemuk dengan daster hijau pendek. “Siap, Bu”, kata paklek dengan sigap mengambil beberapa ekor ikan kembung, meletakkannya di atas timbangan, menukar kembali dengan ikan kembung yang lain untuk mendapatkan kombinasi setengah kilo paling pas yang tidak merugikan pembeli dan dirinya.
Ikan kembung diletakkan satu persatu ke atas telenan yang terbuat dari kayu coklat muda. Paklek mulai menyiangi ikan. Ketiga kucing mulai mendekat lalu duduk dengan posisi seragam. Duduk dengan kaki belakang sementara kaki depan lurus hampir menempel dengan badan tegak. Sisik, insang, isi usus dan potongan sirip oleh paklek biasanya menjadi jatah santapan lezat ketiganya.
Setiap pagi, seminggu, berbulan bulan sudah begitu, sejak badan Hitam dan Abu kurus kering seperti pasien TBC yang belum mendapat pengobatan intensif hingga terlihat sekarang yang menggemaskan siapa saja.
Kuning bukanlah penikmat sarapan lezat dari paklek sejak dulu. Kuning baru sebulan dua bulan ini bergabung. Dulu sebelum Kuning ada kucing berwarna tiga. Namun suatu pagi hari -jauh sebelum jalanan ramai- Kuning sudah mendekam tepat di posisi dimana kucing tiga warna biasa berada. Kemana perginya Belang tidak ada yang tahu pasti, misterius semisterius datangnya Kuning.
Ada yang bilang Belang sudah diadopsi oleh mahasiswa yang mengotrak di kamar kos gang depan bersamaan dengan kepindahannya yang entah kemana. Ada pula yang bilang Belang bosan dengan menu ikan maka memutuskan untuk pergi ketempat lain. Ada yang bilang Belang dikalahkan Kuning dalam sebuah pertarungan sengit tepat selepas tengah malam berjam-jam hingga menjelang subuh.
Sudah pembeli keempat membawa pergi ikan dagangan paklek. Sisa ikan semakin menumpuk di dalam cawan plastik. Belum ada tanda-tanda akan diberikan kepada ketiga kucing. Matahari semakin terik. Secarik sinar samar tadi sudah berubah menjadi terik yang menghangatkan sekujur tubuh paklek sampai membentuk bayangan didinding toko kelontong seberang jalan yang masih belum buka. Butiran keringat menetes dari dahinya.
Pembeli terakhir adalah ibu muda yang datang tergopoh-gopoh.
“Paklek, masih punya ikan apa?”, katanya. “Cuman ada ekor kuning sekilo kurang dikit, Bu”, Paklek membuka tutup kotak sebelah kiri. Didalammya terbagi menjadi 3 kotak kecil. Semua kosong kecuali kotak kecil berisi beberapa ikan ekor kuning berukuran wajar. “Ya udah deh aku ambil, bersihin sekalian ya”. Dengan sigap paklek mengambil porsi terakhir dagangan hari ini. Ditimbangnya semua lalu dipindahkan satu persatu ke atas telenan untuk disiangi.
Paklek Siap akan beranjak pergi, disimpunnya pisau dan telenan. Semua potongan sisa ikan, insang, isi perut ikan belanjaan pelanggannya ke dalam kantung kresek biru muda. Diambilnya ember kecil, mengambil air dari selokan untuk menyirami bekas jejak kaki pembeli dan siangan ikan yang jatuh. Tapi nihil.
Standar kayu sudah ia ambil kembali dan diselipkan diantara dua keranjang. Semua sudah beres. Paklek stater motornya pulang kembali ke rumah.
Ketiga ekor kucing tadi memandangi kresek biru muda dimotor paklek yang berlalu. Tanpa bersuara mereka mulai berpencaran ke rumah berteras kayu, warung kelontong dan rumah besar bercat merah diseberang jalan.
Aku kembali menyeruput separuh cangkir kopi papua arabika pahit yang sudah mulai kehilangan hangatnya. Ditemani keriuhan suara anak-anak berseragam putih merah berlarian masuk kelas persis sebelah rumah.
Jogjakarta – Samarendah, 27 Desember 2015
Hujan pertama musim ini
Datang bersama aroma reranting arang
Menyiram bumi tuaku
Yang terbakar oleh anaknya
Hujan pertama musim ini
Tengadah matahari tiada lagi
Selain lembayung memudar
Yang tertutup oleh asap anaknya
Hujan pertama yang datang musim ini
Telah lama dinanti
Membawa bahagia
Datang bersama si cantik anakku
Samarinda-Yogyakarta, Oktober 2015
SYAIR BREVETER
: bertujuh
Januari dua ribu sepuluh,
Bertambah tambah bahagia keluarga
mendengar berita gempitanya kita menjadi bagian keluarga orthopedi gajahmada.
Lima tahun lalu kita memulai cita cita ini
Satu demi satu langkah
Kita tonggakkan dalam dada :
“Apa kelak terjadi adalah tempaan guru guru
Supaya kita menjadi tegar kokoh seperti karang
Berhati singa,
bermata elang,
Dan bertangan bidadari”
Tak mudah melalui lima tahun pendidikan
Mulai dari titik terendah, menjadi karet pada roda yang berputar kencang
Terantuk batu,
Terkena kotoran, paku,
Ludah
mencari satu demi satu ilmu
menanamnya dihati hingga menghujam terpatri
Kepada keluarga dan orang tua
Betapa doa-doa panjang mereka
Memberi nafas
Dan melapangkan hati
Kepada cinta belahan jiwa
Betapa mereka telah berkorban
Diantara malam tanpa kami
Diantara tangisan anak anak
hatinya menangis tanpa kami tahu
Menjaga buah hati
Tanpa mengeluh betapa rapuh
dia.
Kepada guru guru kami
Betapapun penuh hari mereka
Selalu kami ganggu
Dengan beribu pertanyaan tentang pasien
Betapa bimbingan mereka tiada henti hentinya
Bukan jarang kami menyakiti hatinya dengan kebodohan kami
Dengan kekakuan tangan tangan kami
Dan mata yang belum lagi bisa melihat detail
Betapapun mereka tak pernah berkata letih mendidik kami
Terus dan terus saja mendidik kami
Tak lelah
Sampai saatnya mereka berkata : “Muridku, kami bangga hari ini engkau menjadi ahli orthopedi nusantara”
Bagi kami
Sebuah kehormatan dapat menjadi seperti hari ini
Kebanggaan
Sekaligus awal tanggung jawab luar biasa besar
Sebab kelak sampai kami tak mampu lagi mengangkat tangan ini
maka kewajiban dharma bakti ilmu ini ada pada kami.
Mempergunakannya menolong sesama
Dan amal guru guru kami tetap mengalir kepada mereka
Terima kasih guru besar dan guru-guru kami
Semoga tercurah segala kemuliaan kepada mereka
Semoga balasan amalan kebaikan akan selalu melimpahi mereka
Doakan kami agar teguh menjunjung budi pekerti
Moral
Dan prinsip keilmuan diatas segala gala
Yogyakarta, 27 April 2015
Matahari belum bangun ketika aku berkeluh kesah kepada kekasihku
Hembusan semilir dan burung burung malam
Menjadi ‘amiiin’ satu satu kalimat ini
Mungkin
Kau juga masih terlelap
Dengan mimpi tentang buah hati
Biar saja,
Dalam hening aku bertemu damai
Dalam gelap aku berkeluh tentang silap
Kalimantan, November 2008