Arsip Kategori: 1. Risalah Kalbu

oretan dan pandangan penulis

My 10K Script

1. Jakarta 10 Km

image

2. Jogja 10 Km (1# Kulonprogo district)

image

3. Surabaya 10 Km

image

3. Bandung 10 Km

image

5. Kuta Bali 10 Km

image

6. Makassar 10 K
8 K +. Must stop because of very heavy rain and flood. No pic added.
image

7. Sorong 10 K
image

8.Yogyakarta 10K (#2 Yogyakarta city district)

image

9. Jogja 10K++ (#3 10K run & #1 17K run)
My 1st 17K run

image

10. Samarinda 10K

image

11. Yogyakarta 10K #4 (Kulon Progo District)

image

12. Samarinda 10K #2

image

13. Yogyakarta 10K #5

image

14. Yogyakarta 10K #6

image

15. Yogyakarta 10K #7

image

16. Belitong 10K
image

Ayahku itu dokter dan tukang sulap

Suatu sore sepulang dari rumah sakit aku mendengar anakku berbincang dengan sepupu-sepupunya dan eyang putri. Isi perbincangan sore itu mengenai pekerjaan orangtua masing masing. Tentu saja dikemas dengan bahasa kanak-kanak.

Ketika sampai giliran Ahmadhilla, begitu nama putri saya, dengan lantang dia berkata bahwa ayahnya adalah seorang dokter bedah tulang dan……..tukang sulap. Eyang putri tertawa mendengarnya.

Seperti itulah pandangan dia tentang ayahnya. Sebagai dokter dan juga tukang sulap. Tentu bukan tukang sulap profesional atau amatir sekalipun. Trik sulap sederhana yang bisa dikatakan trik sulap layak tampil pun tidak ada satupun saya kuasai.

Sejak kecil memang dia senang sekali jika kami bermain “sulap”. Menghilangkan benda kecil dari genggaman tangan, menggantinya dengan benda lain, mengembalikan ke benda semula, menghilangkan jari dan beberapa permainan lain.

Masing-masing ayah punya cara spesial bermain bersama anak. Demikian pula dengan kami, bermain lego, membaca koleksi bukunya, berpetualang menyusuri sawah, bermain di tepian sungai progo depan desa kami, memberi makan ayam ketawa miliknya, berenang dan berbagai permainan ala kami.

image

Apapun bentuknya, kedekatan antara ayah dan anak wajib dibangun sesuai cara kita sendiri. Hingga tadi pagi dia masih saja bangga bercerita kepada eyang putri bahwa ayahnya adalah dokter bedah tulang………………….dan tukang sulap.

Yogyakarta, Januari 2015

Trotoar

Seminggu terakhir sepulang dari RS saya harus berjalan kaki terlebih dahulu sejauh kurang lebih 2 km. Rutenya adalah Bulaksumur, Jetis, Tugu hingga berakhir di Mangkubumi.

Dimusim liburan Jogja macet pada banyak tempat. Tidak seperti kota besar lainnya, hingga sekarang di Jogja masih cukup jarang terdengar kata macet kecuali masa liburan seperti sekarang. Jalanan begitu padat dengan kendaraan luar daerah, terlebih di seputar perempatan Tugu hingga Malioboro dan Keraton.

image

Bagi pejalan kaki seperti saya mestinya keadaan ini menjadi menguntungkan. Saya tidak harus terjebak kemacetan di jalan yang menjadi rute pulang. Nyatanya keadaan tidak sebaik mestinya.

Trotoar tidak seramah yang saya sangka. Di sepanjang trotoar banyak dipenuhi penjual beraneka ragam. Mulai penjual gorengan, dagangan toko kasur yang dijejer separuh trotoar, angkringan, penjual terompet tahun baru hingga di beberapa tempat trotoar dijadikan tempat parkir kendaraan roda dua.

Sudah barang tentu banyak yang membahas bagaimana semestinya mengembalikan fungsi trotoar. Di negara ini, dimana masih sangat banyak yang membutuhkan sumber penghidupan untuk keluarganya lebih dari yang anda dapatkan maka cara bersikap terhadap hal demikian akan menjadi pertimbangan tersendiri.

Sesungguhnya terkadang akan menjadi sebuah dilema besar bagaimana menempatkan sesuatu kembali sebagaimana mestinya. Pertentangan seakan-akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Kita dihadapkan kepada dua kutub dimana jika kita berhadapan pada kutub satu maka disatu sisi akan membelakangi yang lain. Berdiri tengah terkadang bukan solusi yang optimal, seperti berada ditengah-tengah lalu merentangkan kedua tangan berusaha menggapai. Tidak satupun tergapai.

Bagi saya bagian paling penting adalah bagaimana wujud kepedulian kita terhadap mereka yang tidak seberuntung kita dalam banyak hal.

Melakukan hal kecil untuk menolong itu bagus, namun jika diberi kemampuan melakukan sebesar-besar usaha tentu akan memberi manfaat bagi lebih banyak orang.

Yogyakarta, penghujung 2014

CLINICAL UPDATES 2015

image

Sebagai insan kedokteran kita tentunya diwajibkan selalu mengembangkan keilmuan kita. Update secara berkala diperlukan untuk me-refresh keilmuan kita mengenai penegakan diagnosis, terapi dan sekaligus pencegahan keadaan yang bisa mengancam nyawa pasien.

Untuk itu mahasiswa FK UGM berinisiatif mengadakan seminar nasional kedokteran mengenai update terkini dunia kedokteran yang diberi title Clinical Updates. Acara ini sudah dilaksanakan secara berkala sejak tahun 2007 dan telah diikuti oleh ribuan dokter dari seluruh indonesia.

Clinical Updates pada tahun 2015 ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengupdate ilmu-ilmu kedokteran klinis hingga tata laksana terbaru terkait dengan praktik umum dan kasus-kasus emergensi. Update klinis dalam berbagai bidang akan disampaikan oleh para pakar/dokter ahli konsultan dari FK UGM dan alumni FK UGM.

Panitia sumpah dokter 2009 FK UGM mengadakan CLINICAL UPDATES 2015
(Current Managements on General Practice & Emergency Cases)

14-15 Maret 2015
Auditorium FK UGM
Sekip Utara, Yogyakarta

Berikut jadwal acara Clinical Updates 2015

Day 1

Sabtu, 14 Maret 2015

08.25-08.40 Opening Lecture
Simposium I Safe Maternal and Perinatal Care
08.40-09.05 Pregnancy at Risk: Preeclampsia/Eclampsia dr. Rukmono Siswishanto, Sp.OG (K)
09.05-09.30 How to Manage Post-Partum Haemorrhage Based on Etiology dr. Risanto Siswosudarmo, Sp.OG (K)
09.30-09.55 Responding to Neonatal Emergency in Primary Care Setting dr. Tunjung Wibowo, Sp.A (K)
09.55-10.10 Diskusi
10.10-10.25 Coffee Break

Simposium II Common Pediatric Cases Seen by General Practitioners
10.25-11.00 Diarrhea, Vomiting, Dehydration and Electrolyte Imbalance in Pediatric Patients dr. Nenny Sri Mulyani, Sp.A (K)
11.00-11.25 Encountering Pediatric Seizures in Primary Care Setting dr. Agung Triono, Sp.A
11.25-11.35 Diskusi

Simposium III Updates in Pediatric Infection Cases
11.35-12.00 The Role of General Practitioners to Ensure Coverage and Quality of Immunization for Pediatric Patients dr. Mei Neni Sp.A (K), PhD
12.00-12.25 Management of Acute Respiratory Infection: Evidence-based Medicine and Rational Use of Antibiotic dr. Amalia Setyati, Sp.A
12.25-12.35 Diskusi
12.35-13.20 ISHOMA

Simposium IV Updates in Management of Chronic Disease
13.20-13.45 Management of Hypertension and Crisis Hypertension dr. Bambang Djarwoto Sp.PD (KGH)
13.45-14.20 Management of Diabetes Melitus dr. Hemi Sinorita SpPD (K)
14.20-14.30 Diskusi
Simposium VAbdominal Pain: How to Identify and Manage in Daily Practice
14.30-14.55 Non-Surgical Approach of Abdominal Pain dr. Neneng Rahmasari Sp.PD (KGEH)
14.55-15.20 Surgical Approach of Abdominal Pain dr. Maryono Sp.B (KBD)
15.20-15.30 Diskusi

Day 2

Minggu, 15 Maret 2015

Simposium VI Altered State of Consciousness: Cause, Mechanism, Emergency Approach
08.00-08.20 Diagnostic Approach and Neurological Aspect dr. Abdul Gofir Sp.S (K)
08.20-08.40 Metabolic Aspect in Loss of Consciousness: Causes, Mechanism, and Management for General Practitioner dr. Heru Prasanto Sp.PD
08.40-09.00 Loss of Consciousness in Head Injury: Urgency to Care Patient in Emergency Setting dr. Agus Y, SpBS
09.00-09.15 DiskusiSimposium VIIUpdates in Cardiologic Cases Found in Daily Practice
09.15-09.40 Arrythmia in Daily Practice dr. Hasanah Mumpuni Sp.PD-Sp.JP
09.40-10.05 Acute Coronary Syndrome dr. Nahar Taufik Sp.JP
10.05-10.15 Diskusi
10.15-10.25 Coffee Break
Simposium VIII Patient Stabilization and Pain Management
10.25-10.45 Acute Pain Management in Emergency Setting: Single vs Multi Modal Analgetics dr. Sudadi Sp.An (KNA, KAR)
10.45-11.05 Evidence-Based Interventions on Chronic Pain dr. Yudiyanta Sp.S
11.05-11.30 Management of Shock: Clinical Evaluation, Fluid and Transfusion Therapy dr. Birowo Yudopratomo, Sp.An (KAKV)
11.30-11.40 Diskusi
Simposium IXUpdates in Psychiatric Cases Found in Daily Practice
11,40-12.00 Symptom Based Psychosomatic Cases : Early Detection in Daily Practice dr. Ronny Tri Wirasto Sp.KJ
12.00-12.20 Early Detection and Management in Aggression and Attempt to Suicide dr. Carla Raymondalexas Marchira Sp.KJ (K)
12.20-12.30 Diskusi
12.30-13.15 ISHOMASimposium XManagement of Life Threatening Cases
13.15-13.40 Clinical Management of Acute Intoxication dr.Ika Trisnawati, M.Sc., Sp.PD
13.40-14.05 Burn Injury: Assesment, Management, and Rehabilitationdr. Agus Santoso Budi Sp.BP
14.05-14.15 Diskusi
Simposium XI Imaging
14.15-14.50 Imaging on Emergency Department Cases dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K)
14.50-15.00 Diskusi
15.00-15.30 Penutup Door Prize

Harga Tiket
*Sebelum 31 Januari 2015
Dokter Muda/Mhs/Umum 375K
Dokter Umum/PPDS 425K
Dokter Spesialis 475K

*Setelah 31 Januari 2015
Dokter Muda/Mhs/Umum 425K
Dokter Umum/PPDS 475K
Dokter Spesialis 525K

Rekening:
Bank BCA Cab.Grand Indonesia
541-512-0131
a/n Gregorius Bimantoro

Info selengkapnya dan pembelian tiket bisa menghubungi web atau CP (Naila – 085640426486)
(Novita – 082231753595) atau Line (ID: clinupfkugm)

image

Sumber : 1. Naila
2. http://clinicalupdates2015.com

Note :
Clinical updates year by year

2007
image

2008
image

2010
image

2011

image

2012

image

2013
image

2014
image

Talk to patients, treat like a part of our own family

Suatu pagi di bangsal perawatan saya mendapat tugas untuk bertanggung jawab terhadap penanganan seorang pasien multiple trauma yang datang melalui Emergency Room. Remaja laki laki berusia sekitar 14 tahun itu tubuhnya tertutup perban dibeberapa bagian dan beberapa masih tampak noda darah menandakan cidera yang dialami amat berat.

Dia mengalami kecelakaan motor ketika hendak menjemput adik perempuannya sore sebelumnya. Dia menderita cidera kepala berat, trauma organ dalam dan patah tulang paha. Cidera kepala berat membuatnya dalam keadaan koma hingga beberapa minggu.  Selama itu dia menjalani operasi untuk mengobati kerusakan organ dalamnya. Penanganan patah tulang dilakukan dengan pemasangan skin traksi dan frame khusus sampai akhirnya setelah kondisi cukup stabil akan dilakukan operasi pemasangan intramedullary nail.

Kedua orang tuanya tampak pasrah menghadapi tragedi yang terjadi pada putra kesayangannya. Ibunya masih tampak berkaca-kaca. Saya berusaha tersenyum sambil memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa sayalah yang akan menjadi dokter bangsal untuk anaknya. Menceritakan betapa berat trauma yang dialami putra kesayangannya itu sembari menyampaikan apa yang telah tim kami lakukan untuk penanganan kegawat daruratannya semalam.

Sepanjang perawatan berminggu-minggu selanjutnya saya banyak berinteraksi dengan ayah dan ibunya, berbicara dari hati sembari mengawasi perkembangannya saat visite pagi.  Mengabarkan kondisi,  perkembangan terbaru dan rencana perawatan lanjutan. Ibunya beberapa kali menunjukkan kepada saya foto adik perempuannya yang berusia sekitar 6 tahun, cantik. Betapa bangga ia saat menceritakan kelincahan putrinya itu. Prestasinya mengikuti beberapa lomba modelling cilik dan menjadi juara pertama.

Kedua orang tuanya bergantian menunggui, menjaga dan mendampingi dia selama berminggu-minggu. Namun pada akhirnya dia tidak bisa bertahan, saya tidak sempat melihat akhir hayatnya sebab penanganan dari orthopedi telah selesai, dia ditangani oleh tim dokter dari spesialisasi lain. Patah tulang paha telah kami operasi ketika kondisinya cukup stabil. Namun banyaknya cidera organ dalam membuat kondisinya turun naik, sulit sekali dipertahankan. Ibunya mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada saya mengabarkan dia sudah dipanggil Tuhan, beliaupun menyampaikan terima kasih atas perawatan dan pelayanan yang tim kami berikan. Beliau menyampaikan secara tersurat rasa puas beliau dan seluruh keluarga mengenai penanganan tim kami terhadap putra tercintanya.

Kesedihan luar biasa tentu dirasakan keluarga, bagi kami pun demikian. Segala upaya telah kami curahkan, berminggu minggu tenaga dan pikiran tercurah untuk membuat stabil dan menangani semua cidera berat yang dialami. Namun Tuhan ternyata memiliki rencana yang lebih indah bagi dia dan bagi semua keluarga yang dia cintai.

image

Dalam melayani pasien selayaknya kita memberikan yang terbaik. Ajak pasien atau keluarganya berbicara dari hati ke hati, sampaikan kondisi sebenarnya, pilihan terapi dan rencana terapi terbaik menurut pertimbangan rasional kita. Ketahui apa keinginan mereka dan ajak mereka untuk menentukan pilihan terapi tersebut.

Sampaikan semua konsekuensi keadaan dan pilihan terapi hingga yang terburuk. Tentunya tetap memberikan semangat dan menyampaikan bahwa kesembuhan hanya diberikan Tuhan kepada mereka yang mengupayakan kesembuhan dengan berbagai caranya. Apa yang diberikan Tuhan akan berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan. Terlepas pada akhirnya bisa jadi tuhan menjadikan itu sebagai tabungan amal bagi mereka yang belum diberi kesembuhan.  Sebab sembuh bukan berarti yang terbaik untuk suatu penyakit.

Komunikasi dari hati adalah bagian dari sikap profesional seorang dokter.  Konsep tentang profesionalisme ini yang selalu disampaikan oleh guru saya, Profesor Armis SpB, SpOT(K). Tidak jemunya beliau mengajarkan hal ini setiap kali bertemu kami. Menanamkan bagaimana mestinya saya dan seluruh murid beliau sebagai dokter ahli bedah orthopedi menempatkan diri, bersikap perilaku profesional.

Sebaik apapun tindakan yang dilakukan oleh dokter jika tanpa disertai cara berkomunikasi yang baik kepada pasien akan membuat apa yang diusahakannya itu menjadi kurang bermakna, justru bukan mustahil dapat menimbulkan bermacam interpretasi. Kurang baik, jelek bahkan kesan sangat buruk di mata pasien.

Maka sahabatku, mari kita kembali mengingatkan diri kita masing-masing.  Sebagai seorang dokter yang diberikan anugerah setitik ilmu medis oleh Tuhan mari kita mulai belajar kembali bagaimana cara tersenyum, belajar bagaimana berbicara dari hati kepada setiap pasien. Memperlakukan mereka sebagaimana perlakuan kita terhadap ayah ibu, saudara kandung atau anak kita sendiri. Talk to patients, hear them and treat them like our close family.

Yogyakarta, 23 Desember 2014

Syukur

Bersama dengan beberapa kawan-kawan relawan MERC sekitar kurang lebih sebulan yang lalu saya melakukan misi sosial pengobatan gratis di ‘pedalaman’ Gunung Kidul. Perjalanan menempuh waktu tak kurang dari satu setengah jam dari perbatasan kota Yogyakarta. Melewati dataran yang tandus selain karena memang daerah bukit karang dan kapur yang minim mata air juga karena saat ini sedang berada puncaknya musim kemarau. Jalan yang dilalui cukup bagus sampai beberapa kilometer terakhir. Letak dusun yang kami tuju berada sekitar 2 kilometer dari jalan antar kecamatan. Kami harus melalui jalan berbatu tanpa aspal dan turun naik jurang kering berbatu. Memasuki perkampungan tampak sekali nuansa kekeringan yang sudah jamak ditemukan di Gunung Kidul terlebih puncak kemarau seperti sekarang.

image

Di wilayah ini air menjadi barang langka. Satu tangki air dihargai tak kurang dari seratus lima puluh ribu rupiah, itupun hanya cukup untuk sebulan. Anda bisa membayangkan di wilayah yang nyaris 100 persen warganya berada di bawah garis kemiskinan harus terbebani membeli air seharga 40-50 % pendapatan sebulan. Usaha pemerintah tak kurang kurangnya dikonsepkan, namun tak kurang kurangnya pula realisasi ditunda untuk kepentingan dan alasan antah berantah.

Pelayanan kesehatan kami lakukan dengan tidak terburu buru. Ada dua dokter ditambah seorang perawat, 4 orang mahasiswa kedokteran tahun keempat serta 2 orang relawan non medis yang bertugas mengurusi pendaftaran. Seperti biasanya kasus didominasi oleh hipertensi, ISPA dan beberapa penyakit umum lainnya.

Masih adanya wilayah yang sulit dijangkau dan tertinggal di Propinsi DIY inilah yang menarik. Kita, para dokter yang baru saja dilantik dengan bekal segudang idealisme, meskipun terdidik untuk mengambil keputusan-keputusan pragmatis dan beberapa mungkin segera bergabung dalam program PTT di daerah sangat terpencil mau tidak mau akan membandingkan realitas ini. Wong di Jogja saja masih ada daerah yang sulit di jangkau apalagi di Irian, Nusa Tenggara Timur dan beberapa wilayah Indonesia lain. Kesukaran macam apa yang akan kita temukan di sana, jangankan sinyal telepon yang kebutuhan tersier, listrik pun hanya ada mulai selepas magrib hingga jam 10 malam. Atau bukan tidak mungkin di beberapa tempat tidak ada sama sekali.

image

Awal tahun 2007 saya sempat bergabung selama 2 minggu dengan kawan kawan relawan MERC untuk membantu korban banjir jakarta di Babelan, termasuk wilayah Bekasi. Apa yang ditemui disana sungguh menyedihkan. Di wilayah yang tidak seberapa jauhnya dari ibukota negara Indonesia, relatif tidak jauh juga dari karawang yang menjadi jujugan banyak dokter fresh graduate, masih ada kampung yang hari gini mayoritas warganya tidak memiliki toilet. Rutinitas defekasi mereka lakukan di sungai kecil yang berbau busuk (campuran antara limbah pabrik dan limbah rumah tangga) atau di pematang-pematang sawah. Sumur menghasilkan air tapi tidak layak minum, terlalu asin. Untuk kebutuhan sehari hari mereka harus membeli air.

Kami sempat mendatangkan alat pengolahan air hingga siap minum dari sebuah universitas di Jakarta (saya lupa nama universitasnya) namun tetap tidak bisa menjadikan air tersebut layak untuk diminum. Sebegitu mahalnya hidup yang bahkan untuk minum mereka harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat banyak untuk ukuran mereka.

Sementara waktu di lain tempat kita asyik sibuk menadahi butiran peluh yang telah berubah menjadi emas dan perak. Dinar dan Dirham. Sementara di lain tempat kita hidup dalam kelimpahan, meskipun sebagian ingat namun lebih sering sebagian kita lupa. Siapa yang hari ini ingat bahwa kita punya telinga, hidung dan tangan yang indah.

Sahabatku, setidak berhasil apapun warung yang nanti akan kita buka, atau segagal apapun karir yang nanti kita hadapi sesungguhnya tidak patut jika kita mengurangi syukur kepada Tuhan sekecil apapun.

Maka nikmat Tuhan kita yang manakah yang tidak pantas kita syukuri?

image

Yogyakarta, 28 Oktober 2007

Bunga dan ayahnya

Pagi itu baru menunjukkan pukul 6 pagi namun bangsal perawatan telah ramai dengan kami para residen Orthopedi yang mempersiapkan visite besar dengan profesor kami. Bunga tengah asyik menulis dibuku kecil merah muda miliknya dengan pensil 2b hijau yang tinggal sepanjang tiga buku jari. Sibuk sekali tampaknya ia sesibuk residen bedah orthopedi disampingku menulis follow up catatan perawatan pasien hari ini. Anggap saja ia adalah bunga, seorang anak perempuan sekitar 7 tahunan yang saya jumpai di bangsal perawatan kelas 3 salah satu rumah sakit di Negeri Nusantara.

Senyum simpul tersungging di ujung bibirnya sambil tak berkedip memandang tulisan dibuku merah mudanya itu. Dua baris dari urutan terbawah telah selesai dia isi. “Mak, lihat ini, sudah hampir selesai” begitu ujarnya, tak begitu terdengar jelas karena bangsal telah penuh dengan lalu lalang kami, para dokter, perawat, keluarga pasien, dan seorang wanita penjual nasi bubur keliling   “iyo nduk, apik, rampungke yo” (iya nak, bagus, diselesaikan ya) Begitu jawab emaknya yg duduk disebelah bed pasien.

Aku sempatkan sekilas melihat apa yang ditulis bunga, 11×12=14; 3×5=8; 5×8= 11; 1×3=4. Begitu tertulis mulai dari beberapa halaman sebelumnya hingga keujung dua baris terbawah halaman merah muda pudar itu.

Aku tersenyum ketika ia menatap mataku, “adek kelas berapa?” tanyaku cepat. “satu” jawabnya amar, pelan sekali. “oo, kelas 1 smp ya”. Ibunya memotong “kelas 1 sd pak dokter, masak smp”. Bunga hanya menunduk sambil kembali asyik menulis. “hehe, iya bu, kelas satu sd” jawabku tersenyum. “adek gak sekolah?” tanyaku kembali…ia tidak menjawab, hanya gelengan kepalanya yang mengatakan bahwa ia memang tidak sekolah. “libur pak dokter, ia menunggu bapaknya dirumah sakit, kalo ayahnya belum pulang  ia juga ndak mau pulang, ia sayang sama ayahnya pak dokter”. Aku tersenyum kembali, “sudah berapa lama ayahnya di bangsal ini bu?”. “Dua bulan lebih pak dokter”.

Ayahnya seorang lelaki usia 35-an, bermata sayu dengan kulit kasar, badannya kurus, mungkin karena 2 bulan ini harus berbaring di rumah sakit, namun sisa-sisa badan yang tegap masih tampak, menunjukkan bahawa pekerjaannya demikian berat untuk menghidupi istri dan puteri kesayangannya. Istrinya bercerita dua bulan lalu ia mengalami kecelakaan saat bekerja diproyek, ketika tungkai bawah kirinya tertimpa besi yang meremukkan tulang tibia fibula disertai luka yang luas, dokter orthopaedi disini mengupayakan pengobatan terbaik, mereka melakukan beberapa kali operasi debridemen luka,pemasangan eksternal fiksasi dan terakhir  dua hari lalu mereka melakukan tindakan latissimus dorsi flap. Iba melihatnya menderita sedemikian, pandangannya yang nanar aku interpretasikan sebagai penyesalan mendalam karena membuat istri tercinta dan puteri kesayangnnya menderita, menungguinya disini berbulan-bulan.

Rasa sakit yg dirasakan tidaklah seperih hatinya yang mendalam  karena tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, dua bulan ini ia tak mampu bekerja dan pastinya masih berbulan kedepanpun demikian. Pandangannya kosong menatap rangkaian eksternal fiksasi yang meliput tungkai bawahnya, sebagian terbungkus perban elastik (elastic bandage) berwarna coklat yang sedikit longgar.

Bekerja menjadi tulang punggung keluarga adalah bagian dari kewajibannya terhadap keluarga. Apapun ia lakukan demi menghidupi keluarganya, istri dan putri kesayangannya. Bunga begitu lincah melihatnya setiap pulang kerja lalu mengajaknya bermain. Persis seperti anak perempuanku, Ahmadhilla, senangnya ia ketika melihatku pulang dari rumah sakit. Sejak kecil tingkahlakunya demikian, bahkan jika istriku berbarengan pulang kantor maka yang dihampirinya lebih dulu adalah aku. Usianya yg  beranjak mengerti seringkali melayangkan protes kecil mengapa aku sering terlambat pulang, tidak pulang bahkan jika sedang jaga Emergency Room atau ada operaai hingga hari larut.  Hampir setahun terakhir ia sering berbulan aku tinggal demi menyelesaikan jenjang akhir pendidikan dokter spesialis. Penugasan wajib kerja sarjana di pelosok negeri tercinta.

“Ayah, kenapa koq ayah pengen jadi dokter?” tanyanya suatu sore sambil makan nasi goreng yang kami buat berdua. “karena ayah ingin menolong orang”. “kenapa koq gak jadi guru aja, atau polisi?”. Aku tersenyum, sambil menjelaskan kembali dengan bahasa yang ia mengerti. Inilah bentuk protes dirinya padaku. But, this is my passion, to help others when they needed the most, berusaha seoptimal mungkin dengan keilmuan yang dipelajari bertahun-tahun mengembalikan senyuman pasien-pasien kami, seperti apa yang dilakukan sejawat dokter di rumah sakit ini terhadap ayahnya bunga. Meskipun itu butuh waktu yang panjang.

Rambutnya tampak kusut dibalik tutup kepala yang hampir terlepas, tangannya bergerak kesana kemari merapihkan barang-barang disebelah kiri kanan bed (ranjang pesakitan) pasien. Ember hitam kecil berisi sampo sachet, sabun cuci sachet, sikat gigi yg sudah bengkok ujung serabutnya dan sabun batangan seukuran genggaman bayi yang sudah lebih kecil separuh dirapihkannya. Kemudian ia rapikan letak tas besar berisi baju yg tidak disetrika. Karpet berwarna cokelat tipis disusunnya bersebelahan dibawah bed tadi. Sendok gelas dan beberapa piring kusam diletakkannya di sisi rak kecil tempat biasanya ompreng wadah makan jatah rumah sakit.

Bunga dan ibunya tidur di karpet tipis yang aku belum pernah melihatnya, namun terbayang betapa susahnya mereka tidur dibawah bed pesakitan ayah tercinta, betapa susahnya meraih kata nyenyak dengan tidur dikarpet tipis itu. Apalagi sering terasa udara dingin dari sela pintu yg terbuka untuk keluar masuk keluarga pasien, perawat dan dokter jaga yang sekali dua datang melakukan pemantauan pasien dengan kondisi kurang baik.

“Bukunya dibawa gak?” Tanyaku kemudian. “Gak bawa buku pak dokter, buku pelajarannya tertinggal dirumah, hanya buku tulis itu dan dusgrip (tempat alat tulis) yg kebawa” kata ibunya.  Tetep rajin belajar ya nak, tidak masalah salah, yang penting tetap belajar. Kewajiban belajar adalah fitrah bagi seluruh manusia, perintah Tuhan yang pertama juga berisi tentang perintah belajar.

Demikan dengan kami para dokter, mewajibkan diri untuk long life learning. Kami mewajibkan diri kami untuk selalu menuntut ilmu, selalu merasa kurang sehingga kami merasa tertantang untuk mencari dan memperbaharui keilmuan kami. Supaya kami bisa memberikan penangan yang terbaik untuk pasien kami.

Demi mengusahakan penanganan terbaik buat pasien kami menuntut diri kami untuk senantiasa memperbaharui keilmuan, kami mengenal adanya pertemuan ilmiah setiap setahun Continue Orthopaedic Education, merupakan pertemuan ilmiah tahunan yg diselenggarakan untuk kami mendengarkan kuliah para ahli dibidang masing-masing untuk me-refresh keilmuan kami, untuk memperbaharui dan menambahkannya dengan hasil penelitian terkini dan yang terbaik untuk diaplikasikan kepada pasien. Belum lagi pertemuan subspesialis dari berbagai sub keilmuan yang juga dilaksanakan setiap tahun, jika diikuti mungkin hampir setiap bulan ada pertemuan ilmiah sebagai bentuk dari long life learning kami.

………………………………………………………..

Seminggu berlalu, kembali pagi tadi aku berjumpa dengan bunga, anggap saja namanya demikian. Obrolan kecil saja, dari sekian keriuhan visite besar para dokter residen dan profesornya. Diluar dari orientasi belajarku dalam acara visite besar ini aku tersenyum padanya, ia tersenyum sambil membuang muka kearah jam dinding dan berkata pada emaknya “mak , wis jam piro iki”..(mak, sudah jam berapa sekarang ini). “hayo jam berapa?”tukasku. “jam wolu to mak?” (jam delapan mak) katanya. Si emak tak menggerakkan bola mata ygang terpaku pada kegiatannya pagi itu menyeka badan suami terrcinta. Jam menunjukkan pukul tujuh dua lima, sedikit kurang dari setengah delapan.

“Jenengmu sopo nduk”(namamu siapa) aku berjongkok di sebelahnya membuka pertanyaan. Dalam obrolan singkat itu aku ketahui bahwa namanya adalah Tya,entah nama lengkapnya siapa, bisa jadi hanya Tya. Ayahnya bekerja sebagai pembantu tukang bangunan, bukan sebagai tukangnya tapi ia hanya membantu saja, ibunya wanita sederhana, ibu rumah tangga, mereka berdua tidak pernah mengenyam sekolah. Tya, begitu ternyata nama asli anak yang selama ini aku anggap sebagai bunga, baru saja beberapa bulan bersekolah SD kelas satu. Ia tidak TK, dan tidak pula diajari oleh kedua orang tuanya.

“Boten ngertos niku dok le sinau seking pundi” (gak tau itu dok belajarnya dari mana) kata ibunya sambil menyeka bagian punggung suaminya yg berwajah hampa sedikit anemis. Beberapa bulan bersekolah dan tiba tiba suatu hari ayahnya tertimpa musibah yang menyebabnya harus pergi bersama ayah dan emaknya mencari kesembuhan buat ayah. Sudah tiga bulan lewat ia berada dirumah sakit ini, lebih lama dari waktu dia di sekolah. Terbayang betapa sedihnya ia kehilangan waktu belajar di sekolah dan betapa sedihnya ia menghabiskan waktu dibangsal perawatan kelas 3 rumah sakit ini.

1414381093444

Pagi tadi sesaat sebelum aku meninggalkan bangsal dirumah sakit ini untuk terakhir kalinya,  aku memberikan bingkisan kecil untuk Tya yang berisi pensil 2b warna hijau, buku pelajaran SD kelas satu dan sebuah buku cerita.  Sama seperti yang dipunyai oleh puteri kecilku di rumah.

Aku tidak menengok wajahnya, emaknya atau ayahnya. Cukup bagiku membayangkan kebahagiaan membuka bingkisan kecil itu bertiga. Sepanjang perjalanan aku tersenyum sendiri, ingin segera pulang bertemu putri kecilku yang terpisah beberapa ratus kilometer dari tempat ini.

Indonesia, Oktober 2014

Seminar dan workshop “kompetensi dokter umum pada penatalaksanaan kelainan sistem muskuloskeletal”

image

Bagian Orthopaedi dan Traumatologi fk ugm/rsup dr. Sardjito kembali menghadirkan seminar dan workshop mengenai “Kompetensi dokter umum pada penatalaksanaan kelainan sistem muskuloskeletal”. Workshop ini kami adakan kembali untuk kedua kalinya demi mengapresiasi banyaknya permintaan sejawat dokter yang datang dari seluruh indonesia. Workshop pertama diikuti lebuh dari 250 dokter dari berbagai daerah se-Indonesia. Animo yang begitu tinggi ini didasarkan oleh pentingnya peningkatan kemampuan sejawat dokter mengenai diagnosis dan penatalaksanaan kelainan muskuloskeletal. Kami berharap seminar dan workshop ini akan mampu memberikan edukasi yang aplikatif kepada seluruh peserta. Segera daftarkan diri anda.

Menagih Visi Misi Program Jokowi ketika menjadi presiden

Terlepas apapun pilihan politik anda namun saat ini rakyat Indonesia telah memilih Bapak Jokowi sebagai presiden Indonesia 5 tahun kedepan.

jokowi

Berikut sejumlah program yang dipaparkan Jokowi sebagai visi misinya sebagai presiden :
1. Pendidikan
Di sektor pendidikan, Jokowi menekankan pada revolusi mental. Menurutnya, revolusi mental akan efektif bila diawali dari jenjang sekolah, terutama pendidikan dasar. Menurutnya, siswa SD seharusnya mendapatkan materi tentang pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, pendidikan etika sebesar 80 persen. Sementara itu, ilmu pengetahuan cukup 20 persen saja.

“Jangan terbalik seperti sekarang. Sekarang ini anak-anak yang kecil dijejali dengan Matematika, Fisika, Kimia, IPS. Sehingga yang namanya etika, perilaku, moralitas tidak disiapkan pada posisi dasar,” kata Jokowi.

Menurut Jokowi, porsi materi ilmu pengetahuan diperbesar pada tingkat SMP. Meski porsi ilmu pengetahuan diperbesar, Jokowi mengatakan, materi pendidikan karakter, budi pekerti, dan etika harus lebih besar. Ia menggambarkannya dengan persentase 60-40 persen untuk pendidikan karakter.

Jokowi mengatakan, porsi besar untuk materi tentang ilmu pengetahuan baru diberikan di jenjang SMA. Besarnya, kata dia, mencapai 80 persen. Pada tahap SMA, porsi untuk pendidikan karakter, budi pekerti, dan akhlak cukup 20 persen saja.

Selain itu, ia juga ingin meningkatkan jumlah SMK. Menurutnya, negara-negara industri maju seperti Jepang, Korea, dan Jerman adalah negara-negara yang punya banyak SMK.

“Peningkatan jumlah SMK adalah salah satu yang penting. Karena keterampilan semua ada di sana. Karena di situ ada teknologi, di situ ada keterampilan, di situ ada skill yang dibangun,” ucap Jokowi.

Ia yakin, jika semua hal di atas dilakukan, akan muncul generasi yang memiliki sikap mental dan budaya kerja yang baik, serta penuh daya saing, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas bagi bangsa dan negara.

“Karena percuma kekayaan alam yang besar jika tidak dibarengi dengan produktivitas, serta daya saing bagi SDM yang ada di dalamnya. Tanpa revolusi mental, tanpa budaya kerja yang sudah tertanam sejak kecil, saya kira sulit juga untuk membangun sebuah daya saing dan produktivitas,” papar Jokowi.

2. Pertanian
Di sektor pertanian, Jokowi menilai, Indonesia kehilangan orientasi untuk membangun sektor ini. Indonesia, kata dia, tak pernah lagi memunculkan varietas-varietas unggul. Bahkan, menurut Jokowi, satu hektar lahan pertanian di Indonesia hanya dapat menghasilkan maksimal 4,5 ton, sementara di negara lain bisa mencapai 8-9 ton.

“Mestinya kalau sudah ditentukan ingin memajukan pangan, infrastrukturnya dibangun. Bendungan dan segala sistem irigasinya harus disediakan. Yang berkaitan dengan pupuk, pestisida, semuanya harus disiapkan. Riset harus menjadi kunci utama, dan diberi anggaran yang besar sehingga kita akan bisa memunculkan kembali varitas-varitas unggul,” katanya.

Selain itu, Jokowi juga menyoroti banyaknya lahan-lahan pertanian yang terkonversi menjadi perumahan, industri, dan pertambangan. Menurutnya, hal tersebut adalah kesalahan karena Indonesia saat ini membutuhkan banyak lahan untuk sawah dan ladang baru. Tak hanya itu, ujarnya, infrastruktur pendukung lahan pertanian seperti waduk dan bendungan juga harus diperbanyak.

“Pernah tidak mendengar kita bangun waduk dan bendungan baru? Padahal dalam perencanaan kita bisa bangun 70-an waduk per tahun. Tetapi tidak dilaksanakan karena kita kehilangan disorientasi,” ujar Jokowi.

Lebih lanjut, Jokowi juga menyoroti mahalnya ongkos produksi karena petani bergantung pada pupuk dan pestisida kimia.

“Harusnya petani disediakan pupuk dan pestisida gratis sehingga mereka tidak terbebani biaya,” katanya.

Jokowi juga menyoroti keberadaan terminal agro. Menurutnya, terminal agro sudah seharusnya berada di setiap kabupaten. Ia menilai, menambah keberadaan terminal tersebut akan dapat meningkatkan produksi di sektor pertanian, seperti yang dilakukan Thailand.

“Terminal agro jangan hanya gedung saja. Saya lihat di Dubai dan Abu Dhabi, 80 hektar lahan digunakan hanya untuk tempat penyimpanan logistik pertanian saja. Mestinya di setiap daerah ada yang seperti itu,” ujar Jokowi.

“Sebanyak apa pun panen yang melimpah ruah, tidak akan berarti kalau tidak disiapkan industi pasca panen. Inilah yang harus diluruskan, karena ketika kita menyuruh petani untuk menanam, maka harus disiapkan pula industri pasca panennnya,” katanya lagi.

3. Kelautan
Di bidang kelautan, Jokowi menyoroti kalah bersaingnya nelayan-nelayan lokal karena ketertinggalan dalam bidang teknogi dibanding nelayan-nelayan asing. Hal itu, menurutnya, menjadi salah satu penyebab melonjaknya harga ikan di pasaran.

“Kapal-kapal negara lain yang masuk ke laut kita sudah komplet. Ada kapal sepuluh, yang sembilan nangkap, yang satunya untuk pengalengan. Langsung dikalengkan. Kenapa kita tidak bisa seperti itu. Padahal sebenarnya bisa,” kata Jokowi.

Ia berjanji, jika terpilih sebagai presiden akan menyediakan kapal-kapal modern untuk para nelayan, yang disertai dengan pelatihan bagi para nelayan.

“APBN kita gede banget, hampir Rp 1.700 triliun. Berapa sih biaya beli kapal? Murah sekali. Dan berikan nelayan pelatihan, jangan yang gratisan karena itu tidak mendidik. Saya paling tidak setuju dengan yang gratisan,” ujarnya.

4. Energi
Di bidang energi, Jokowi menyoroti besarnya subsidi BBM dan subsidi listrik. Menurutnya, daripada terus-terusan memberikan subsidi BBM, lebih baik memaksimalkan gas dan batubara yang jauh lebih murah.

“Contohnya untuk listrik. Subsidi listrik itu mencapai Rp 70 triliun. Tapi kenapa listrik pakai BBM, kenapa tidak pakai batubara?” kata Jokowi.

Jokowi mencurigai, selama ini ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari besarnya subsidi BBM dan listrik. Hal itu yang dinilaiya menjadi penyebab dilakukannya kebijakan yang sebenarnya lebih banyak merugikan kas APBN itu.

“Kenapa harus kita lakukan terus menerus? Karena ada yang mengambil keuntungan besar dari sana. Dan keuntungannya itu dibagi-bagi. Saya sudah tahu. Dulu waktu di Solo belum tahu. Tapi setelah di Jakarta jadi tahu semuanya,” kata mantan Wali Kota Solo itu.

“Kalau BBM bisa dikonversi ke gas atau batubara, kita akan bisa menghemat anggaran hingga Rp 70 triliun per tahun. Jadi ada efisiensi anggaran,” lanjutnya.

5. Infrastruktur
Di bidang infrastruktur, Jokowi menyoroti masih kurangnya pengembangan infrastruktur di laut, pengembangan bandara, maupun penambahan jalur kereta api. Untuk infrastruktur laut, ia menilai, jika dapat dimaksimalkan, maka ke depannya tidak ada lagi ketimpangan harga antara daerah yang satu dengan yang lain. Ia mengistilahkan konsep pembagunan infrastruktur laut yang akan ia lakukan dengan istilah “tol laut”.

Menurutnya, tol laut adalah penyediaan kapal-kapal berukuran besar untuk pengangkutan antarpulau dalam waktu yang sesering mungkin.

“Jadi tol laut ini modalnya hanya kapal. Bukan bangun tol di atas laut. Jadi tol laut itu pengangkutan pakai kapal dari pelabuhan ke pelabuhan, tapi bolak-balik. Ini akan mempermudah manajemen distribusi logistik, sehingga harga-harganya akan lebih murah,” kata Jokowi.

Jokowi menjelaskan bahwa tol laut adalah konsep distribusi jalur laut yang menghubungkan lima pelabuhan besar, yakni Pelabuhan Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar, dan Sorong (Papua Barat).

“Jadi harus ada penyediaan kapal besar, dari Sumatera langsung ke Papua, Papua ke Sumatera. Kalau ada kapal besar, ongkos angkutnya akan menjadi kecil dan murah, karena ngangkutnya langsung banyak. Jadi tidak akan ada lagi harga semen di Jawa Rp 50 ribu, di Papua Rp 1 Juta,” ujar Jokowi.

Jokowi mencontohkan distribusi sapi dari NTT dengan yang ada di Australia. Ia menilai, secara kualitas, sapi NTT tidak kalah dibanding sapi Australia. Kekurangan yang terjadi selama ini hanya terletak pada ketiadaan kapal pengangkut sapi yang berukuran besar.

“Kalau dari NTT, ngangkutnya pakai kapal kecil-kecil. Sebenarnya sapi di sana tidak kalah kualitasnya dibanding sapi Australia. Tapi ongkos biaya angkutnya yang mahal, bisa sampai 50-60 persen. Kiriman sapi dari Australia, sekali angkut bisa sampai 30 ribu sapi di dalam satu kapal. Kapal besar itu yang kita tidak punya,” katanya.

“Kalau ada tol laut ini, akan mempermudah distribusi. Dari pulau besar ke pulau besar pakai kapal besar. Nanti ke pulau yang agak kecil pakai kapal sedang. Dilanjutkan lagi dengan pakai kapal kecil ke pulau-pulau kecil. Jadi, bukan kapal kecil dari Papua ke Jawa yang belum tentu bisa sampai ke Jawa, karena di tengah jalan kena ombak langsung terguling. Hilang semen, hilang sapinya,” jelas Jokowi .

Sementara itu, untuk pengembangan bandara, Jokowi mengaku akan menerapkan konsep kerja sama dengan investor swasta. Menurutnya, ide tersebut muncul tak lepas dari permasalahan lambannya pengembangan Bandara Soekarno-Hatta, yang berpengaruh pada semakin karut-marutnya jadwal penerbangan.

“Seharusnya kalau APBN tidak sanggup, serahkan saja ke swasta. Tidak masalah. Asal hitung-hitungannya jelas dan biaya pelayanan nantinya tidak membebani masyarakat. Kalau diserahkan ke investor, semua bandara akan bisa dibagun baru seluruhnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jokowi juga menyoroti seputar infrastruktur jalur kereta. Menurutnya, sudah seharusnya dilakukan penambahan jalur kereta di Jawa, sembari membangun jalur kereta di kawasan-kawasan tambang di Sumatera dan Kalimantan.

“Pengangkutan batubara, nikel, dan bauksit jangan sampai menggunakan jalan raya. Karena selain mahal, juga akan merusak jalan. Dan itu kewajiban negara,” kata Jokowi.

6. Administrasi birokrasi
Jokowi menutup pemaparan visi dan misinya dengan program pembenahan di bidang administrasi dan birokrasi. Ia berjanji, bila terpilih, akan segera menerapkan sistem elektronik dan jaluronline dalam hal pengadaan barang dan jasa di seluruh institusi pemerintah, termasuk dalam hal pengawasannya. Sistem tersebut adalah sistem yang saat ini diterapkannya di lingkungan pemerintah provinsi DKI Jakarta.

“Kita harus menerapkan e-budgeting, e-purchasing, e-catalogue,e-audit, pajak online, IMB online. Kita online-kan semua. Jadi tidak ada lagi ‘ketema-ketemu’, supaya ‘amplop-amplopan’ hilang,” katanya.

Source : http://nasional.kompas.com/read/2014/05/15/0705215/Ini.Visi.Misi.Jokowi.kalau.Jadi.Presiden.

 

 

Berikut sembilan poin dalam 9 Program Nyata Jokowi-JK  :
1. Meningkatkan profesionalisme, menaikkan gaji dan kesejahteraan PNS, TNI dan Polri secara bertahap selama lima tahun. Program renumerasi PNS akan dituntaskan di tingkat pusat dan diperluas sampai level daerah.
2. Mensejahterakan desa dengan cara mengalokasikan dana desa rata-rata Rp1,4 miliar per desa dalam bentuk program bantuan khusus dan menjadikan perangkat desa jadi PNS secara bertahap.
3. Meningkatkan anggaran penanggulangan kemiskinan termasuk memberi subsidi Rp1 juta per bulan untuk keluarga pra sejahtera sepanjang pertumbuhan ekonomi di atas 7%.
4. Program kepemilikan tanah pertanian untuk 4,5 juta kepala keluarga. Pembangunan/perbaikan irigasi di 3 juta ha sawah. Pembangunan 25 bendungan, 1 juta ha lahan pertanian baru di luar jawa dan pendirian bank petani dan UMKM serta penguatan Bulog.
5. Perbaikan 5.000 pasar tradisional dan membangun pusat pelelangan, penyimpanan dan pengolahan ikan.
6. Menurunkan pengangguran dengan menciptakan 10 juta lapangan kerja baru selama lima tahun. Bantuan dana Rp10 juta per tahun untuk UMKM/koperasi. Mendorong, memperkuat dan mempromosikan industri kreatif dan digital sebagai salah satu upaya mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.
7. Layanan kesehatan gratis rawat inap/rawat jalan dengan Kartu Indonesia Sehat, 6.000 puskesmas dengan fasilitas rawat inap serta air bersih untuk seluruh rakyat.
8. Membantu meningkatkan mutu pendidikan pesantren guna meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Meningkatkan kesejahteraan guru-guru pesantren sebagai bagian komponen pendidik bangsa.
9. Mewujudkan pendidikan seluruh warga negara termasuk anak petani, nelayan, butuh termasuk difabel dan elemen masyarakat lain melalui Kartu Indonesia Pintar.

 

Source : 

http://www.solopos.com/2014/07/03/pilpres-2014-9-program-nyata-jokowi-janji-naikkan-kesejahteraan-pns-516971

http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2072281/9-program-nyata-jokowi-jk-bila-terpilih-pada-pilpres-2014

http://wartaekonomi.co.id/berita31622/inilah-sembilan-program-nyata-jokowijk.html

 

Picture source :

http://cdn.metrotvnews.com/dynamic/content/2014/07/04/260963/PqMSry97eP.jpg?w=700

A Letter from Gaza by Mads Gilbert MD

Dearest friends,

The last night was extreme. The “ground invasion” of Gaza resulted in scores and carloads with maimed, torn apart, bleeding, shivering, dying – all sorts of injured Palestinians, all ages, all civilians, all innocent.

The heroes in the ambulances and in all of Gaza’s hospitals are working 12-24 hour shifts, grey from fatigue and inhuman workloads (without payment all in Shifa for the last 4 months), they care, triage, try to understand the incomprehensible chaos of bodies, sizes, limbs, walking, not walking, breathing, not breathing, bleeding, not bleeding humans. HUMANS!

Now, once more treated like animals by “the most moral army in the
world” (sic!).

My respect for the wounded is endless, in their contained determination in the midst of pain, agony and shock; my admiration for the staff and volunteers is endless, my closeness to the  palestinian “sumud” gives me strength, although in glimpses I just want to scream, hold someone tight, cry, smell the skin and hair
of the warm child, covered in blood, protect ourselves in an endless embrace -but we cannot afford that, nor can they.

Ashy grey faces – Oh NO! Not one more load of tens of maimed and bleeding, we still have lakes of blood on the floor in the ER, piles of dripping, blood-soaked bandages to clear out – oh – the cleaners, everywhere, swiftly shovelling the blood and discarded tissues, hair, clothes,cannulas – the leftovers from death -all taken away … to be prepared again, to be repeated all over. More then 100 cases came to Shifa in the last 24 hrs. Enough for a large well trained hospital
with everything, but here – almost nothing: no electricity, water, disposables, drugs, OR-tables, instruments, monitors – all rusted and as if taken from museums of yesterday’s hospitals. But they do not complain, these heroes. They get on with it, like warriors, head on, enormously resolute.

And as I write these words to you, alone, on a bed, my tears flow, the warm but useless tears of pain and grief, of anger and fear. This is not happening!

An then, just now, the orchestra of the Israeli war-machine starts its gruesome symphony again, just now: salvos of artillery from the navy boats just down on the shores, the roaring F16, the sickening drones (Arabic ‘Zennanis’, the hummers), and the cluttering Apaches. So much made in and paid by the US.

Mr. Obama – do you have a heart?

I invite you – spend one night – just one night – with us in Shifa. Disguised as a cleaner, maybe. I am convinced, 100%, it would change history. Nobody with a heart AND power could ever walk away from a night in Shifa without being determined to end the slaughter of the Palestinian people. But the heartless and merciless have done their calculations and planned another “dahyia” onslaught on Gaza.
The rivers of blood will keep running the coming night. I can hear they have tuned their instruments of death.

Please. Do what you can. This, THIS cannot continue.

Mads Gilbert MD PhD
Professor and Clinical Head
Clinic of Emergency Medicine
University Hospital of North Norway

mads-gilbert-at-al-shifa-hospital

Source :  http://www.middleeastmonitor.com/articles/middle-east/12920-letter-from-gaza-by-a-norwegian-doctor