Arsip Kategori: 1. Risalah Kalbu

oretan dan pandangan penulis

Minyak Patah Tulang

Ibu itu duduk tertunduk disebelahku. Menyampaikan keputusan keluarga besarnya yang teguh pada keyakinan mereka membawa anaknya keluar RS, menolak perawatan oleh tim bedah tulang.

Dia tidak mengatakan pasti hendak bagaimana. Penuh keraguan dia seperti tercekat ingin berkata “Dok, aku tak rela anakku dibawa ke pengobat alternatif dengan minyak patah tulang antah berantah !!!! “. Matanya mulai berair disebelahku mulutnya hanya berkata lirih sekali, “Begitulah…. Pak”.

image

Hanya dalam waktu sebulan ini tim bedah tulang di RS kami telah mengoperasi 4 kasus patah tulang terlantar (neglected fracture) yang sudah diberi minyak antah berantah dengan pantangan antah berantah pula.

Pertama, seorang ibu datang dengan patah tulang paha yang menangis tersedu berharap kakinya bisa kembali bisa untuk menopang tubuhnya. Sudah setengah tahun ini ia menderita patah tulang yang membuatnya menjadi pengguna kursi roda. Kasus demikian bukanlah kasus patah tulang yang sederhana, untuk mendapatkan hasil optimal perlu ditangani secara tepat (baca : http://atomic-temporary-1247914.wpcomstaging.com/2015/05/01/patah-tulang-paha-femur-fracture/ )

Kedua, seorang lelaki berperawakan gagah dengan tulang selangka patah  yang beberapa minggu lalu di”paksa” oleh entah siapa untuk menerima setetes minyak dalam mulutnya. Ia percaya kekuasaan Alloh dalam menyembuhkan penyakit yang Dia turunkan, namun tidak dengan cara-cara antah berantah. Ketika kecelakaan terjadi ia sulit mengambil sendiri keputusan, ditengah kebingungan dan rasa nyeri hebat orang-orang disekitarnya bersuara lantang, “Bawa aja ke ‘sana’, jangan ke Rumah Sakit”. Entah kemana suara lantang itu sekarang.

Ketiga, seorang remaja yang datang dengan pergelangan kaki bengkok kearah dalam (shorten, varus & internal rotate) setelah mendekati 2 bulan tanpa pengobatan medis (neglected ankle fracture). Awalnya dia datang ke IGD namun orangtuanya memutuskan untuk menolak tindakan medis dan mencoba-coba pengobatan antah berantah. Padahal semua tindakan yang akan dilakukan terhadap anaknya bebas biaya sedikitpun.

Lalu keempat, baru saja tadi sore tim kami selesai melakukan operasi terhadap ibu paruh baya yang datang ke poli 2 hari lalu dengan tangan terikat kayu dan mengeluh nyeri tak tertahankan selama berbulan bulan. Tiga bulan sebelumnya ia mengikuti saran entah siapa untuk berobat antah berantah itu.

Entah sampai kasus keberapa lagi nanti yang akan tim kami hadapi jika ditambah sejumlah pasien yang sudah dijadwal operasi namun tiba-tiba “hilang” karena memaksa pulang dan lebih memilih pengobatan antah berantah.  Semoga saya keliru. Semoga mereka pindah ke RS dengan pelayanan prima yang jauh lebih baik dari pelayanan kami.

Tidak perlu menjadi orang pintar ataupun dikatakan “pintar” untuk bisa melihat tulang yang patah. Kita sudah diberi pengetahuan yang jelas bagaimana melihat dan menangani patah tulang bukan dengan cara ajaib antah berantah namun dengan keilmuan sesuai sunnatulloh  (baca :  http://atomic-temporary-1247914.wpcomstaging.com/2015/01/31/versus-bone-setter/ ) serta melalui kerjasama luar biasa dengan rekan rekan perawat terbaik yang ada (baca : http://atomic-temporary-1247914.wpcomstaging.com/2015/02/09/orthopedic-nurses/ ).

Perlahan saya mencoba menyampaikan tentang rencana tindakan beserta alasan melakukan tindakan tersebut. Menyampaikan dengan bahasa sesederhana mungkin, mengulang beberapa kali dan meminta ibu bertanya jika kurang jelas. Ia hanya menyeka tetes air ditepi matanya yang memerah. Sedikit mengembalikan posisi kacamata, “Iya Dok…tapi” ujarnya sambil melirik kearah keluarganya yang menatap tajam kearah saya dan dia.  

Tidak semua kasus tulang patah memerlukan tindakan operasi pemasangan pen atau implan tulang, banyak pula bisa dikerjakan tanpa operasi pemasangan pen atau implan tulang (conservatif treatment) semisal casting, traction, sling, bandage.  Namun jika memang harus dilakukan operasi (operatif treatment) maka pilihan itu bisa dipertanggung jawabkan dihadapan siapa saja.

Tentu saja setiap dokter akan berusaha semaksimal mungkin membantu pasien dengan segala keterbatasan yang ada, menempatkannya sebagaimana seandainya pasien itu adalah keluarga sendiri ( baca : http://atomic-temporary-1247914.wpcomstaging.com/2014/12/23/talk-to-patient-treat-like-close-family/ ).

Ibu itu berpaling dengan langkah gontai menuju ruang perawatan anaknya. Keluarganya sedang bersiap-siap untuk membawa pulang. Entah mau dibawa kemana.

Semoga saya keliru. Semoga keluarganya membawa anak malang itu ke Rumah Sakit lain yang lebih baik untuk bertemu dengan senior-senior dokter ahli bedah tulang terbaik.

Mahakam, Oktober 2015

Pedalling Samarinda-Kota Bangun

Minggu pagi, 31 mei 2015, rencana pedalling muter kota samarinda saja. Sesampainya di tepian mahakam lihat sekumpulan orang dari grup roadbike, iseng-iseng mampir dan kenalan. Langsung diajakin gabung pedalling menuju Kota Bangun (+-120Km)….weh, tanpa persiapan apapun kecuali botol minuman separuh terisi dan perut keroncongan saya beranikan untuk bergabung. Akhirnya drop out juga di kilometer 96, padahal tinggal 24 Km dari titik akhir di Kota Bangun.

image

Review :
1. Rute : A. Samarinda- Tenggarong via Loa Janan. Jalan sebagian besar sudah baik, sedang dilakukan semenisasi dibeberapa bagian terutama menjelang masuk tenggarong. Tanjakan sedikit, lumayan buat pemanasan.
B. Tenggarong-Kota Bangun. Jalan bagus sekali dan tidak ramai. Tanjakan lumayan buat latihan memperkuat dengkol. Lebih berat dari jalur balikpapan samarinda. Ada satu dua bagian yang sedang dilakukan perbaikan.

2. Cuaca diawal sangat bersahabat. Namun selepas jam 10.30 cuaca berubah semakin panas, terik matahari menguapkan air, benar-benar inilah matahari katulistiwa. Desir angin ketika rolling tidak cukup untuk menurunkan suhu badan. Di kilometer 80 sudah mandi dengan 2 botol air mineral tetap saja kepanasan. Sepertinya efek gelombang panas di India sampai dikalimantan

3. Barengan para maestro roadbike Kaltim membuat perjalanan jadi menyenangkan, namun akhirnya harus drop out juga di kilometer 96 setelah berjuang melawan dehidrasi dan hipoglikemi berat karena persiapan kalori yang tidak memadai. Beberapa rekan lainnya juga tumbang karena hawa panas yang luar biasa.

4. Tempat istirahat memadai untuk mengisi perbekalan air dan tenaga.

Kesimpulan :

Jalur roadbike yang menyenangkan, jalanan sudah bagus dan tidak terlalu padat. patut dicoba buat uji kekuatan dengkul anda.

image

image

image

image

image

Kebakaran !!

Jum’at malam menjelang kemarau. Berita di media sudah mulai terisi reportase peristiwa kebakaran. Tiba-tiba suara sirene meraung jauh lebih keras dari sirene ambulans yang biasa terdengar. Beberapa mobil besar berwarna merah melaju kencang menembus padatnya jalan raya.

Suara sirene dan klakson tak henti-hentinya dibunyikan. Petugas yang bergelantungan disisi kanan kiri berteriak nyaring sekali hingga serak “minggeer-minggeer, hoooi, minggeeeer!!!”, berulang-ulang. Bisa dipahami, keberadaan mereka darurat dibutuhkan terlebih tepat semalam sebelumnya kebakaran melanda kota ini menjadi sebab 2 anak kecil meninggal.

Menolong kebakaran pernah saya alami ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran. Sepulang kuliah saya melewati kebakaran toko yang cukup besar, ketika itu nampaknya petugas pemadam kekurangan tenaga (masih awal kejadian, regu pemadam kebakaran sebagian belum tiba). Saya memberanikan diri membantu sebisanya hingga akhirnya petugas yang berkompeten datang.

Semasa menjalankan Wajib Kerja Sarjana (WKS) dokter spesialis pernah pula menyaksikan uletnya pemadaman kebakaran bekerja. Bagaimana mereka ber’tarung’ memadamkan api secepat mungkin, melokalisir kebakaran yang melanda rumah warga tidak menyebar ke lebih banyak rumah disekitarnya. Bupati dan para petinggi pemerintah di daerah itu segera datang untuk memberi dukungan moral dan bantuan langsung. Bupati memerintahkan untuk melakukan evakuasi korban kebakaran ke bangunan pertokoan milik pemerintah yang baru selesai dibangun.

image

Sejarah pemadam kebakaran diawali pada abad ke 3 atau 2 sebelum masehi oleh Ctesibus dari Alexandria yang membuat pompa tangan1,2 untuk digunakan sebagai alat bantu pemadam kebakaran. Brigade pemadam kebakaran yang terorganisir pertama kali dibentuk oleh
Marcus Licinius Crassus dari kerajaan Romawi pada abad 1 sebelum masehi yang kemudian dikembangkan lebih baik oleh kaisar Nero2. Brigade pemadam kebakaran modern terbentuk pada sekitar abad 16 di Perancis oleh François du Mouriez du Périer2. Demikian terus berkembang hingga sekarang ini.

Kesibukan pemadam kebakaran ketika melaksanakan tugaskan sedikit banyak mirip dengan keadaan di unit gawat darurat (UGD) rumah sakit. Jika di UGD petugas medis emergency berjibaku dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa pasien maka petugas pemadam kebakaran berjibaku dengan limitasi waktu untuk menyelamatkan rumah sehingga tidak menyebar kesemakin banyak rumah atau aset lain yang mungkin sekali menimbulkan korban jiwa.

Selesai tulisan ini dibuat bertambah lagi 2 kebakaran dikota yang sama hanya berselang beberapa hari. Semoga cukup sampai sekian.

Reference :
1. http://www.afirepro.com/history.html
2. https://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_firefighting

Picture source :
http://www.rsc.org/chemistryworld/2015/05/industry-body-accused-over-links-discredited-us-fire-safety-group

Audax de east borneo

Nyoba nyusuri jalan raya balikpapan samarinda sendirian dengan Road Bike Polygon Helios C4 , Alhamdulillah lancar meskipun dengan tertatih-tatih. Total jarak tempuh 122,5 Km dalam waktu 5 jam 50 menit. Istirahat 2 kali di kilometer 55 (+- 20 menit) dan kilometer 85 (+- 35 menit)
.
image

image

image

image

image

  

image

Review :

1. Bulan mei, hujan sudah mulai menghilang. Alhamdulillah hujan juga (beberapa menit setelah masuk rumah hujan sampe berjam-jam)

2. Trek balikpapan samarinda cenderung lebih bersahabat dibanding samarinda -balikpapan. Mungkin karena para bos keburu-buru ngejar jam penerbangan pesawat.

3. Ruas jalan masih ada 50% yang jalurnya kecil terutama memasuki hutan lindung bukit suharto hingga loa janan. Harus sangat berhati-hati.

4. Dibeberapa titik ada tanah turun yang menyebabkan level aspal jadi berbeda. Ada pula beberapa bagian aspal yang bergelombang.

5. Tanjakan lumayan bikin dengkul tambah perkasa, ditambah lagi rasa khawatir diseruduk mobil, bis dan truk karena jalan kecil dan lumayan rame.

6. Masih tentang tanjakan. Kontur tanah balikpapan dan samarinda tipikal berbukit-bukit. Dari balikpapan sampai samboja (bukit suharto) Km 60 jalan naik turun bukit namun cenderung lurus. Memasuki km 61 tanjakan berkelok dengan titik tertinggi 176 meter (strava), demikian terus berkelok naik turun hingga masuk samarinda.

7. Tempat istirahat dan loading minuman tersedia dengan mudah.

Demikian sedikit review perjalanan dengan Road Bike karya anak negeri.

Samarinda, 24 Mei 2015

Seminar dan workshop Orthopaedi Jogja Ketiga : “Kompetensi Dokter Umum pada Penatalaksanaan Kelainan Sistem Muskuloskeletal”

Bagian Orthopaedi dan Traumatologi FK UGM/RSUP dr. Sardjito kembali menghadirkan seminar dan workshop mengenai “Kompetensi dokter umum pada penatalaksanaan kelainan sistem muskuloskeletal”. Seminar dan workshop ini kami adakan kembali untuk ketiga kalinya demi mengapresiasi banyaknya permintaan sejawat dokter yang datang dari seluruh indonesia.

image

Workshop pertama diikuti lebih dari 250 dokter dari berbagai daerah seIndonesia. Workshop kedua pada akhir tahun 2014 diikuti tidak kurang dari 300 peserta dari berbagai wilayah indonesia.

Animo yang begitu tinggi ini didasarkan oleh pentingnya peningkatan kemampuan sejawat dokter mengenai diagnosis dan penatalaksanaan kelainan muskuloskeletal.

Kami berharap seminar dan workshop ini akan mampu memberikan edukasi yang aplikatif kepada seluruh peserta. Segera daftarkan diri anda.

Harta raya ?

Seorang suami bekerja keras sejak awal pagi hingga petang tentunya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Mencari pekerjaan dengan mengandalkan apa saja yang dia punya. Terkadang hanya bermodal selembar ijazah pas-pasan, berbekal keterampilan ala kadarnya, atau tenaga sekuat kuli panggul. Semua itu demi mengasapi dapur istri yang sedang hamil setengah tua.

Seorang ayah memeras pikir dan berpeluh tenaga tentu demi kebutuhan sandang pangan anak anaknya. Mencukupi kebahagiaan istri dan anaknya. Sebagian bahkan berputus asa lalu memilih jalan yang salah, jauh dari nilai kebenaran.

“Harta bukan segalanya, Pa’ Dok”, demikian kata pak Yakobus, seorang muslim tulen asli dari kampung itu. “Kekayaan belum jaminan kebahagiaan, kekayaan sesungguhnya ada dihati”, ujarnya lagi.

Kelimpahan materi disebut-sebut dapat membawa kebahagiaan. Kita bisa membeli apapun yang kita mau. Travelling ke segala penjuru yang kita mau. Berwisata kuliner ke semua level restoran apa saja. Memiliki apapun semahal apapun itu.

“Tapi bener lo Pa’ Dok, kekayaan terbesar ada didalam hati kita” begitu tandasnya. Sepersekian detik saya mencoba memahami apa yang Pak Yakobus katakan dan memang tepat sekali apa yang beliau sampaikan. “Benar Pak, setuju. Saya sepakat dengan bapak” sambil tersenyum saya katakan kalimat setuju pendapatnya itu.

image

“Mas”, pak Her enggan memanggil saya dengan sebutan Pa’Dok seperti biasa panggilan orang-orang di kampung itu kepada saya. Sayapun lebih suka demikian. “Kekayaan itu penting. Tapi tidak boleh menjadi tujuan utama”, begitu istilah yang ia gunakan.

“Apa sih tujuan dibalik kekayaan yang kita usahakan, Mas”, kata Pak Her sembari memotong-motong seekor ikan putih (GT) 10 kiloan yang dibelinya dari pemancing siang tadi. Peluh meleleh disebelah kanan dahinya, tidak sampai menetes ke potongan buncis yang tergeletak diatas nampan sudah ia usap dengan punggung tangannya. Demi keluarga dan kesejahteraan masyarakat dengan berlandaskan nilai-nilai agama. “Itu Mas, ya itu yang semestinya kita pikirkan. Sehingga kekayaan tidak membelenggu kita”. Saya tersenyum sambil mengatakan “demikian pula keinginan saya, Pak Her”.

Masing-masing kita tentu punya pandangan dan pendapat berbeda tentang harta, menjadi kaya dan kekayaan sejati. Terserah anda mengambil saripatinya dari mana saja. Pelajaran hidup dapat kita ambil dari mana saja dan dari siapapun. Mereka yang lebih dulu merasakan pahit getir kehidupan punya banyak kisah yang bisa kita petik. Adakalanya pengalaman baik namun selingkali pengalaman buruk dijadikan pelajaran bagi orang lain agar tidak ikut mengalaminya. Pak Yakobus dan pak Her yang saya temui di kampung itu memberikan pelajaran hidup kepada saya. Pelajaran bahwa kekayaan bukan segalanya.

Saya teringat sejarah rasulullah. Ketika menikahi Siti Khadijah pada usia 25 tahun beliau memberi mahar sebanyak 400 dinar1 atau setara 800 juta rupiah nilai saat ini2. Dalam riwayat lain dikatakan12.500 dirham atau setara 875 juta rupiah nilai saat ini2. Ketika menikah di usia 25 tahunan mahar yang saya berikan kepada istri tidaklah sampai satu perseratus dari mahar rasulullah kepada Khadijah.

Bagaimana dengan anda ?

Yogyakarta, April 2015
(Rewrite 2008 manuscript)

Reff :

1. http://www.al-islam.org/articles/khadijah-daughter-khuwaylid-wife-prophet-muhammad-yasin-t-al-jibouri

2. Ahmad Khoiron M. 2009. Inner Beauty Istri-istri Nabi Muhammad SAW. Qultum Media

3. http://www.wakalanusantara.com

Jam

الوقت كالسيف yang artinya “Waktu itu bagaikan pedang”. Demikian syair atau pepatah yang sangat terkenal dari bangsa Arab, Secara tepat saya tidak terlalu paham apa makna sebenarnya. Namun karena itu adalah pepatah Arab dan bukannya Hadist atau ayat Al Qur’an maka tidak salah saya atau anda mencoba menginterpretasikannya sesuai pandangan pribadi kita masing masing.

Berbeda jika itu adalah hadist atau ayat Al Qur’an. Tidak pantas rasanya saya atau sesiapa menginterpretasikan sendiri tanpa dasar keilmuan tafsir yang mumpuni. Penguasaan kaidah bahasa arab, pengetahuan sejarah turunnya ayat (asbabunnuzul), periwayatan hadist, pendapat para sahabat, tafsir para ulama dan masih banyak lainnya.

Sudah sering kita mendengar pembahasan tentang waktu dan pentingnya memanfaatkan waktu. Pemanfaatan waktu membutuhkan presisi. Jika dahulu manusia menentukan waktu berdasarkan jam matahari dengan mengukur panjang bayangan untuk menentukan perkiraan waktu maka di jaman sekarang kita sangat familiar dengan jam.

Sejak ribuan tahun lalu bangsa mesir membagi waktu sehari menjadi dua periode 12 jam(1), mereka menggunakan prinsip jam matahari dengan batu besar (obelisk) sebagai acuan. Di berbagai belahan dunia kuna pengukuran waktu menggunakan metode berbeda-beda. Sebagian ada yang menggunakan lilin, stick, pasir, air dan pendulum. Jam portabel (watch) ditemukan sekitar awal abad 15 oleh pembuat jam Jerman bernama Peter Henlein (1485-1542)(2). Perkembangan teknik pembuatan jam dengan bahan dan metode berbeda semakin maju dari generasi ke generasi. Penggunaan sistem mekanik Balance Spring, Lever, penggunaan Quartz dan sekarang era jam digital yang terhubung dengan perangkat elektronik canggih.

Jam tangan bagi sebagian orang menjadi bagian tak lepas dari keseharian. Seperti ada yang kurang jika tidak memakai jam. Tanpa jam manajemen waktu bisa berantakan. Jadwal meeting dengan klien bisa terbengkalai, kontrak kerja jadi terlambat, rapat koordinasi organisasi terhambat, konsultasi pasien terganggu, bisa jadi jadwal operasi pasien tertunda gegara jam.

Tingkat presisi jam seseorang juga berlainan. Ada yang sengaja memajukan jam 5 menit, 10 menit, 15 menit dengan alasan: ” biar nanti tidak terburu-buru”. Ada yang benar- benar tepat dengan menyesuaikan standar waktu Greenwich Mean Time (GMT) yang dikonversi, adapula yang berkiblat kepada pemerintah (jam TVRI) atau menyesuaikan dengan jam stasiun TV swasta tertentu. “Biar gak ketinggalan sinetron”, kata seorang ibu. “Jam ini saya sesuaikan dengan stasiun televisi berita supaya tepat waktu menonton siaran berita dan debat politik”, kata seorang aktivis mahasiswa.

Lain pula dengan anda, jam yang anda gunakan mungkin sudah sesuai dengan jam kampus atau tempat kerja. Demi mengejar ketepatan waktu kuliah, supaya tidak terlambat absen masuk kerja atau akan terkena pemotongan gaji beberapa persen.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu gemar memakai jam. Sebagai gantinya penunjuk jam bisa melihat layar telepon seluler. Melihat jam sekaligus melihat apakah ada pesan masuk yang belum terbaca. Anda bisa mencoba cara lain, semisal ketika berada di perjalanan anda bisa berjalan perlahan lalu lihat kiri kanan ke dalam bangunan warung toko atau rumah yang terbuka. Dengan cara itu anda akan mudah melihat jam dan segera mengetahui waktu.

Suatu ketika saya bertanya kepada seorang sahabat yang saya lihat memakai jam berwarna keperakan dengan ornamen kuning. “Sahabat, jam berapa sekarang?”. “Maaf Dhil, jam saya ini sudah lama mati, cuman sekedar asesoris” jawabnya tersipu. Oalah, hahaha.

Yogyakarta, 21 April 2015

image

Ref:

1. Http://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_timekeeping_devices

2. Http://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_watches

Motivasi

“Intinya, hidup ini orang perlu motivasi” begitu dia katakan kepada saya. Perawakannya tidak terlalu tinggi dengan badan yang cukup proporsional. Raut menampakkan keyakinan.

“Kita biasa dalam kondisi merasa tidak mungkin menjalani sesuatu” ia melanjutkan pembicaraan. ” Merasa tidak mampu, semakin kita berlepas dari apa yang mungkin bisa kita raih” sambil menikmati pemandangan dua ekor penyu seukuran meja tamu yang asyik makan rumput laut tepat dibawah kayu penyangga jetti. “Bagi saya,” katanya kemudian “semua harus dimulai dengan ‘bismillah’, ketidakmungkinan harus dilawan. Berusaha maksimal menjadi utama, hasil itu tidak penting, itu urusan Tuhan”. Perkataannya semenyala api semangat dimatanya.

Manusia, sebagaimana tersurat dalam kitab panduan hidup yang Tuhan turunkan dikatakan memiliki hati yang bisa terbolak balik. Kadang dipenuhi keyakinan terkadang diluapi keraguan. Kadang termotivasi untuk menjadi lebih baik namun kadang pula seperti menjalani hidup tanpa arah.

Mungkin yang dibutuhkan adalah selalu menumbuhkan motivasi. Entah dari siapa saja. Kadang melalui peristiwa kecil terkadang kita perlu berinvest pada motivator terkemuka untuk menumbuhkannya.

Lamat lamat adzan magrib terdengar dari RT 3. Kami berpisah ketika dia memutuskan kembali ke penginapan untuk bersiap menunaikan sholat di masjid.

Aku masih duduk sebentar di ujung jetti melihat laut kemerahan yang dibatasi matahari tiga perempat dan langit biru gelap tanpa awan.

Pulau Derawan, 20 November 2008

image

Menikah

Dua malam yang lalu seorang sahabat dekat mengirim sms bahwa dia hampir menikah namun (untuk kesekian kalinya) gagal. Kali ini karena perbedaan latar belakang pemahaman agama keluarganya dan keluarga calon mempelai. Bukan berbeda agama, namun berbeda cara pemahaman arah pandang agama mereka.

“Aku punya keyakinan koq, Tuhan pasti sudah menyediakan bidadari untuk aku”. “Iya,” kataku. ”Tapi apa kita punya kemampuan untuk menjemput bidadari itu? Atau jangan-jangan yang mampu kita jemput adalah genderuwo wanita, karena hanya setingkat itu yang sepadan dangan kita”, aku menambahi. “Bisa jadi kau gagal karena memang kau belum yakin siap benar mau nikah” Lanjutku. Dia menjawab ”Aku juga tidak tahu. Mungkin sampeyan benar, kita memang belum yakin mau menikah. Kata orang, orang mau menikah dan membangun rumah itu sama, banyak lika likunya”. Benar juga, mana ada orang buat rumah hanya berbekal semangat membara. Tanpa pasir, semen, genteng, kayu atau minimal palu paku.

Semalam, seorang sahabat datang agak tersipu melihat calon pasangan hidupnya yang juga sahabatkmemberi undangan pernikahan mereka awal bulan depan. “Akhirnya, “Amin” mu yang buanter banget dua setengah tahun lalu mendapat jawaban”. Dia hanya tersenyum seperti meng’iya’kan.

Siang ini, sahabat saya sedang bersiap-siap mengadakan resepsi pernikahannya di Bogor. Sahabat yang sudah mantap untuk menjaga diri dan kehormatannya. Siap untuk membangun rumah dengan segala lika-likunya. Gembira untuk mendapat ‘ijab sah’ setelah setengah bulan lalu mendapat ‘ijazah’.

Mohon maaf tidak bisa memberi kado berbentuk materi apa saja, apalagi karangan bunga. Jika memaksakan diri mungkin nantinya hanya seperti menggarami air laut.

image

“Bebaskan saja sukacita meletup-letup
Pada hari ini semua bermekar penuh rindu bermusim

Aku meraba nadimu, bertahun berdebu
Aku menanti sukamu seperti hari ini
Semua sukacita meletup-letup”

Menikah, kata orang butuh persiapan matang. Terlebih kami sebagai lelaki, calon pemimpin tertinggi dalam keluarga. Pengambil keputusan tertinggi. Pendidik, juru bicara dan penyandang dana utama dalam keluarga. Sebagian mantap mengambil keputusan besar itu. Sebagian lagi terseok-seok karena hanya punya modal semangat.

Yogyakarta, 15 Februari 2015

(Re-write from 28 Oktober 2007 version special for my friend : MAJ )

Versus bone setter

Anak itu masih menangis ketika datang ke unit gawat darurat. Tangan kanan hingga sebatas lengan terikat sesuatu penyangga. Sebagian nampak bengkak dan menghitam berbau. Pamannya bercerita bahwa 12 hari yang lalu dia terjatuh dan merasa nyeri sekali diujung bawah lengan atas dan tidak dapat digerakkan. Oleh keluarganya dia tidak dibawa ke rumah sakit melainkan dibawa ke pengobatan patah tulang tradisional (bone setter). Lengannya diikat oleh mereka. Semakin hari dia mengeluh lengan semakin bengkak dan nyeri.
Dia mengalami compartment syndrome, suatu kegawat daruratan orthopedi yang berakibat fatal terhadap lengan dan tangannya.

Beberapa hari kemudian tim orthopedi memutuskan untuk melakukan amputasi sebatas lengan karena memang sudah membusuk tidak bisa diselamatkan. Kedua orangtuanya hari itu menangis seharian, sangat menyesali keputusan membawa anak mereka ketempat yang tidak semestinya.

Dalam sejarahnya, bapak orthopedi Inggris Hugh Owen Thomas adalah anak dari seorang dukun tulang terkenal dimasanya. Dia mempelajari medis dan kemudian berlanjut mendalami orthopedi, pada akhirnya Pak Thomas harus berseberangan dengan ayahnya sendiri.

Sesungguhnya sahabatku, begitu banyak cerita memilukan mengenai kecacatan pada pasien dengan patah tulang atau sendi terlepas yang ditangani oleh bone setter. Mulai dari keluarga saya, teman, tetangga, keluarga teman dan pasien-pasien yang datang ke rumah sakit. Bukan tidak mungkin anda juga punya cerita serupa.

Ilmu orthopedi salah satunya mempelajari penanganan patah tulang (fracture) dan sendi yang terlepas (dislocation) supaya bisa kembali seoptimal mungkin mendekati bentuk dan fungsi aslinya dengan seminimal mungkin komplikasi.

image

Dalam melakukan tindakan tersebut sebisa mungkin dilakukan dengan cara tanpa operasi. Ada banyak sekali keadaan dimana tidak perlu dilakukan tindakan operasi. Kami, dokter ahli orthopedi, tidak selalu melakukan tindakan operasi. Banyak keadaan dimana pilihan pertama terapi yang dilakukan adalah non operatif atau tanpa pembedahan. Sendi terlepas misalnya, dengan penanganan tepat cukup diberi obat penenang dan dikembalikan ke dalam sendi.

Perkembangan keilmuan membawa keniscayaan bahwa penanganan masalah kesehatan didasarkan kepada usaha maksimal yang dilakukan berdasarkan keilmuan yang bisa dijelaskan secara ilmiah.

Kurang pantas rasanya jika saya membahas hubungan keilmuan dengan dasarnya secara agama, namun sekilas dalam pandangan saya setidaknya ada 3 dasar pemikiran.

Pertama, perintah pertama Tuhan adalah kewajiban untuk membaca yaitu membaca dengan didasari kerendahan sebagai makhluk. Kedua, Tuhan tidak akan merubah keadaan jika manusia tidak berusaha merubahnya sendiri. Ketiga, nabi sangat mendorong untuk menuntut ilmu, meskipun itu ribuan kilometer dari kampung halaman.

Apa yang menjadi dasar tindakan dokter bukanlah atas pengalaman pribadi, namun berdasar keilmuan yang bisa dipertanggung jawabkan (evidence based). Berlandaskan keilmuan yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Dikerjakan terhadap jutaan orang pasien diseluruh dunia, di-review dan diteliti oleh ratusan ribu ilmuwan dari seluruh dunia. Keilmuan yang selalu dikembangkan untuk menuju penanganan terbaik terhadap pasien, dengan berusaha sejauh mungkin menghindari segala komplikasi yang mungkin terjadi.

Seratus dua puluh tahun lalu Tuhan menganugerahkan kemampuan luar biasa kepada manusia. Sejak tahun 1895 manusia mampu melihat tulang manusia tanpa membedahnya. Tidak perlu puasa khusus, bersemedi atau menjadi “Orang Pintar” untuk bisa melihat dan mengetahui permasalahan apa yang terjadi pada tulang.

image

Dewasa ini Tuhan bahkan menganugerahkan ilmu yang lebih luar biasa lagi, sekarang manusia sudah bisa melihat struktur otot, lemak, syaraf, pembuluh darah dan bagian dalam tulang/sumsum tulang (bone marrow) tanpa melukai anggota tubuh sedikitpun.

Ketika Tuhan sudah menganugerahkan ilmu yang sedemikian hebatnya, maka sahabatku, masihkah anda mempercayakan persoalan anggota gerak anda kepada mereka yang mengaku-aku memiliki ilmu antah berantah atau dari nenek moyang yang semakin tidak jelas “sanad”-nya?

Yogya, Desember 2014