Arsip Kategori: 1. Risalah Kalbu

oretan dan pandangan penulis

Lukisan Burung

Sepasang burung bersayap putih

Bermain berloncat dipinggiran aspal

Sepi bermusim

Sesekali terbang ke dahan palem

Sejenak turun lagi

Memperbincangkan tentang pagi

Yang teduh

Matahari malu belum juga terik

Pada mestinya bayangan terpangkas

Separuh

Tembolok mereka penuh bulir ujung

Belukar semak semak

Bijih padang hutan bara

Aku melukisnya

Dengan nafas terengah

Mengejar dunia

Samarinda, 5 Agustus 2018

Astaga

Empat puluh derajat celsius yang disebabkan tiadanya awan menutupi surya menciptakan fatamorgana mengambang ambang diatas aspal, melelehkan tapak kaki sesiapa yang bernyali jalan tanpa alas.

Terik. Matahari “katanya” seperti sejengkal dari ubun-ubun. Matahari katulistiwa namanya. Pohon merindang tak terbakar hawa panas ekuator karena limpahan hujan dan tanah subur. Kombinasi sempurna paru dunia. 

Rombongan empat mobil hitam itu melaju kencang menambah banyak barisan minyak mengambang diatas aspal. Tanpa sirene tanpa lampu kelap kelip namun kencangnya kencang sekali.

Kaca depan samping belakang gelap. tidak ada yang tau siapa pengemudi dan penumpangnya. apakah pejabat dan pengawalnya, penjahat dan pengawalnya, satuan tugas khusus atau pasukan khusus. 

Mobil itu melaju melewati lampu merah yang selalu kembali hijau sesaat selepas konvoi lewat padahal tidak ada polisi lalu lintas yang berjaga. Sangat mungkin serombongan peretas bekerja dibalik monitor dan segelas coke.

Mereka melintasi mahakarya jembatan batu besi yang sudah lebih seabad memotong aliran sungai. Kerak lumut pecah ditonggaknya bukan karena getaran ribuan kendaraan yang pernah melintas. Namun karena terik matahari dan arus pasang surut silih berganti.

Sejurus kemudian debu mengepul dari kejauhan ditinggalkan keempat mobil hitam tanpa sirene itu. Jalan makadam  yang membelah hutan seragam tak berarti apapun bagi konvoi. Hanya debu tinggi mengangkasa diantara pohon perkebunan menjadi penanda mereka sedetik lalu lewat.

———

Komunikasi dari mobil terdepan mengabarkan bahwa lokasi sudah dekat. Kami  bersiap-siap turun. Astaga, ternyata warung soto itu tutup.

———-

Sejurus kemudian tampak lagi rombongan empat mobil hitam melaju kencang menambah banyak barisan minyak mengambang diatas aspal.

 
Air Hitam, Maret 2017

Superhero Sakit

Seminggu terakhir kejahatan merajalela. Semua media memberitakan kehebohan ini. Tidak ada lagi acara canda atau sinetron keluarga. Siaran langsung pencarian bakat dan olahraga dihentikan semua. 

Para superhero tidak ada. Semua media sepakat memberitakannya. Dikabarkan saat ini para superhero sedang dalam perawatan medis. Pusat-pusat pengobatan terbaik sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memberikan pengobatan terbaik yang mereka punya. 

Beberapa superhero dikabarkan mulai mengalami dehidrasi. Untungnya belum ada konfirmasi superhero yang mati. Kolaborasi perserikatan bangsa  negara telah kehabisan akal untuk membantu para superhero. Mereka belum berhasil. 

Kejelasan para superhero sedang menderita apa masih simpang siur. Ada yang mengklaim telah meracuni para superhero. Sebagian mengatakan jika ada supervirus atau superbakteri yang spesifik menyerang tubuh para superhero tersebut. Ada pula yang mengatakan para superhero terkena santet. 

Syahdan suatu pagi beberapa pekan lalu, salah satu super hero mendadak pergi begitu saja saat sedang melawan supervillain di tenggara ibukota. Dia pergi meninggalkan supervillain yang terbengong-bengong. Kejadian ini diikuti penarikan diri semua superhero seantero negeri.  

Penyakit mewabah cepat pada semua superhero. Hanya superhero. Akibatnya para penjahat semakin merajalela berbuat onar. Terang-terangan. Mulai hanya dari penjahat sekecil teri sekarang bermetamorfosis menjadi penjahat sekelas hiu. Mulai hanya kaki tangan sekarang berevolusi menjadi otak kejahatan global. 

Pasukan gabungan keamanan mengadakan rapat. Bagaimana mengatasi kejahatan yang merajalela seiring ketiadaan superhero.
Mereka tersadarkan bahwa selama ini mengandalkan superhero untuk membasmi kejahatan. Selama ini mereka hanya menjadi penghubung masyarakat, penjahat dan superhero. 

Penjagaan keamanan selama ini longgar malah hampir tak ada. Sampai-sampai sistem kebersamaan penjagaan lingkungan sudah lama digantikan panic button langsung ke call center superhero.

Kemarin sore telah keluar pengumuman resmi dari asosiasi superhero negeri. Begini : 

Kepada masyarakat

Dengan hormat, 

Saat ini seluruh superhero sedang dilanda wabah, maka sejak sekarang semua permasalahan keamanan diserahkan kepada pihak berwajib sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan.

Demikian,  harap maklum
Tertanda

GUNDALA

Ketua Komite Internasional Superhero

Baru saja diperoleh informasi bahwa para superhero itu terkena mencret. Berita ini sudah dipastikan akurat. Oalah

Pos Ronda, Maret  2017

Pecinta Alam

​Kalaulah sematan pecinta alam itu hanya bagi mereka yang suka mendaki gunung, maka saya bukan termasuk didalamnya.

Namun jika pecinta alam itu juga mereka yang senang pergi ke pulau terluar indonesia, menikmati pantai dan matahari senja di ujung barat Sumatera, maka saya salah satu dari pecinta alam.

Jika pecinta alam itu mereka yang gemar bertualang hingga pulau terluar diperbatasan Indoaustralia bernama Enggano, maka saya salah satu dari pecinta alam
Kalau pecinta alam itu juga mereka  yang sumringah mencandai halimun di puncak Menoreh, maka saya salah satu dari pecinta alam.

Kalaulah pecinta alam itu juga mereka yang girang menyisir hutan perawan di Long Apari jantung Borneo, reriuh menerjang Riam Panjang dihulu sungai pedalaman Kalimantan,  maka saya adalah pecinta alam.

Jika pecinta alam itu juga mereka yang menyusuri jalan2 menanjak dari Bone ke Malino ditemani hembusan angin kencang menjelang badai, maka saya salah satu dari pecinta alam.

Maka jika pecinta alam itu juga mereka yang asyik dengan degub jantung ketika meniti tebing dijalur Torean menuju Segara Anak, saya adalah salah satu dari pecinta alam.

Jika itu semua yang dimaksud, maka saya adalah bagian  PECINTA ALAM.

Clinical Updates 2017 : High Burden Disease 

Untuk kesekian kalinya Clinical Updates hadir kembali dengan tema yang sangat menarik untuk semakin menambah wawasan kelimuan kita.  Acara inin akan dilaksanakan di Yogyakarta pada 17 & 18 Maret 2017. 

Burden Disease merujuk kepada penyakit-penyakit yang memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Justru penyakit-penyakit inilah yang sering sekali ditemui oleh para petugas medis di tingkat pertama.  Penyakit-penyakit yang tidak hanya menjadi beban bagi para pasien namun juga menjadi beban yang harus ditanggung oleh negara baik dari sisi kesehatan dan tentunya ekonomi masyarakat dan negara.

Dalam upaya pembangunan di bidang kesehatan dan meningkatkan kualitas kesehatan terutama dalam hal Burden Disease, panitia Pelantikan Dokter UGM Angkatan 2011 beserta alumni Fakultas Kedokteran UGM angkatan 1991, bermaksud mengadakan seminar dan workshop nasional yang kami kemas dalam acara Clinical Updates 2017 dengan tema Clinical Updates on High-Burden Diseases.

Berikut ini pemateri yang akan mengisi acara tersebut : 

SIMPOSIUM

Cardiovascular Emergency Care

  • Dr. dr. Budi Yuli Setianto, Sp.PD-KKV, Sp.JP(K)
  • dr. Irsad Andi Arso, M.Sc., Sp. PD, Sp. JP(K)

Cerebrovascular Emergency Care

  • Dr. dr. Ismail Setyopranoto, Sp.S(K)
  • dr. Yudiyanta, SP.S(K)
  • dr. Endro Basuki, Sp. BS, M. Kes

Endocrinology and Hypertension for daily Clinical Practice ; DM, HT, Dyslipidemia and Obesity, CKD

  • dr. Hemi Sinorita, Sp. PD-KEMD
  • dr. R. Bowo Pramono, Sp.PD-KEMD
  • dr. Bambang Djarwoto, Sp. PD-KGH
  • dr. Heru Prasanto, Sp.PD-KGH

Respiratory Medicine

  • dr. Bambang Sigit Riyanto, Sp. PD-KP
  • dr. Sumardi, Sp.PD-KP

WORKSHOP / PELATIHAN

Early insulinization Therapy and Diabetic Foot Care

  • dr. Hemi Sinorita, Sp.PD-KEMD

Fundamental of Electrocardiography

  • dr. Erika Maharani, Sp.JP (K)

Emergency Management of Acute Coronary Syndrome and Cardiogenic Shock

  • Dr. Med. dr. Putrika Prastuti Ratna Gharini, Sp.JP

Principles of Wound Closure

  • dr. M. Rosadi Seswandhanan, Sp.B, Sp.BP-RE

Casting and Splinting

  • dr. Luthfi Hidayat, Sp. OT (K)



For more info, contact us via pelantikandokter2011@gmail.com; WhatsApp: 081390880852 (Nur Ulfa Ramadhani, S.Ked); LINE: @ETD3003B (PPD FK UGM 2011)


Source : http://ppdugm2011.com/clinicalupdates/clinup/


    Ayam hutan

    “Ya itu tadi”, katanya. “Tentang apa sih?”, aku merapikan selempang sarung kotak coklat sambil menegakkan punggung. “Lah, emangnya tadi ada apa?”, kataku lagi kepadanya. “Kamu ngingau ya??”, lanjutku. 

    Pepohonan masih berselimut kabut separuh kebawah, hanya ujung ujungnya saja sebagian nampak. tetesan embun pagi belum lagi hilang dari rerumputan yang menjuntai. 

    “Ah, lupakan”, katanya sambil bergeser mendekat kearah hidangan. Kami sebut hidangan adalah ubi bakar dan sebuah tekobl berisi kopi. Diambilnya teko itu lalu dituangkan kedalam gelas. 

    “Kesambet apa kamu”, kataku. Diangkatnya gelas kopi yang masih berasap dengan dua jari. “Srrrruppp, ahhh…nikmat memang kopi pahit ini, aroma biji kopi wahid”, katanya. 

    Tenda sederhana yang terbuat dari terpal menutupi amben yang disusun dari potongan cabang pepohonan menjadi tempat istirahat kami beberapa hari belakangan.
    “Dari kebun kopi Julak Zainal”, lanjutnya. “Minggu lalu waktu aku pulang dari Wahau lewat kebun dia, dibawakannya aku dua kantong bijih kopi itu”, ujarnya sambil terpejam menyeruput gelas kopi yang masih panas. 

    Gemericik sungai kecil berduet dengan gemeretak bara kayu memerdukan pagi. embun yang hampir jatuh dari ujung dedaun menjadi teman kabut tipis diatas permukaan air. 

    Kokok ayam hutan muncul lagi dari kejauhan. Seingatku sudah empat kali ini sejak sebelum subuh tadi. “Itu tadi maksudku”, katanya. “Perangkap kita sudah berhasil menangkapnya atau belum ya?”, katanya. 

    “Oo..perangkap itu, aku pikir apa. Sebentar lagi kita lihat, setelah habis kopi ini”, kataku. dua gelas kopi dengan busa krem diatasnya tampak masih separuh terisi. Panas air yang tadi mendidih bertengkar dengan hawa dingin berubah menjadi uap.

    Sudah berbulan bulan pemburu gagal menangkap ayam hutan dari sini. Kecuali kami berdua tak ada lagi yang datang mencari ayam hutan itu. Sia-sia. “Barangkali itu ayam hutan terakhir yang ada disini, semoga rejeki kita, ayok”, kataku lalu beranjak berdiri. 

    Samarinda, Januari 2017

    Cerita Sepeda Balap 

    Bukan tentang jauh dan cepat
    Bukan,
    Ini tentang angin mendengungdengung ditelinga
    Desiran seperti dipantai mengibasngibas lipatan jersey

    Bukan tentang kuat dan lemah
    Bukan,
    Ini tentang putaran kaki pada 39 dan 53
    Antara 11 dan 25

    Bukan tentang upgrade dan wah
    Bukan,
    Ini tentang terik dan gemuruh saling berganti
    Meronakan kulit yang gelap terbakar

    Bukan tentang hebat dan rekor
    Bukan,
    Ini tentang peluh yang menetesnetes dari ujung siku
    Cerita tentang jalanan dan semangat dua karet hitam

    Bukan,
    Bukan tentang aspal dan karbon
    Ini tentang tanjakan dan turunan
    Tak habishabisnya

    Ini tentang seratus lima puluh sendiri
    Dan matahari katulistiwa yang mengeringkan bibir dalam satu dua tempo

    Tahura, 24 desember 2016

     

    Ratiq Wara

    Kolam segitiga di pintu gerbang universitas negeri kota kami menjadi saksi demonstrasi besar-besaran yang sedang terjadi. Seluruh civitas akademika dari universitas kebanggaan kota tumpah ruah, para dosen hingga guru besar turun langsung memimpin demontrasi. Seluruh mahasiswa tak terkecuali, mulai dari mahasiswa baru sampai mahasiswa yang sudah sekian tahun tetap bertahan dengan status kemahasiswaannya.

    Sebelum itu, sejak pagi tadi dosen junior senior dan para guru besar telah berkumpul di aula rumah jabatan rektor  yang berada di sebelah kiri  gerbang masuk universitas. Mereka membicarakan substansi aksi demontrasi. Urgensi dilakukannya aksi yang sedemikian massif ini. Aksi yang belum pernah ada sebelumnya dikota kami. Mereka tak ingin aksi besar ini ditunggangi aktor politik dan dijadikan media promosi segelintir orang yang mengaku ngaku ikhlas tanpa embel-embel apapun. 

    Mereka yang terbiasa memberi kuliah di ruangan sekarang menjadi orator gagah ditengah massa membludak. Tidak sampai  jutaan atau ratusan ribu orang seperti di ibukota negara kalian tetapi cukup memacetkan jalan di depan kampus berkilometer jaraknya. Seluruh civitas akademika menjadi saksi demonstrasi terbesar sepanjang sejarah universitas kebanggaan mereka itu. Segala perbedaan dilepaskan, perbedaan keilmuan yang mereka miliki justru menjadi penguat orasi mereka, penuh nuansa ilmiah dan jauh dari kata kasar, hinaan dan caci maki.

    Koordinator mahasiswa sudah sejak semalam berkumpul di gelanggang mahasiswa dan di sekretariat organisasi kemahasiswaan. Mereka mendiskusikan rencana demonstrasi besar ini secara baik supaya tidak disusupi oleh provokator.

    Pagar berwarna ungu menjadi pembatas  demonstran dan beberapa pemancing yang asyik menunggu sambaran ikan di kolam segitiga. Para demonstran tetap menjadi kesopanan.  tidak ada kekerasan, mereka orasi dengan tersenyum. Demonstrasi yang diselingi dengan pertunjukan seni dari para mahasiswa dan dosen mereka.

    Beberapa pemancing tak terusik menunggu umpan disambar ikan. Sesekali diangkatnya mata kail yg telah kosong, dimasukkan kedalam wadah berisi lumut, diputar-putar beberapa kali hingga mata kail tertutup lumut lalu dilemparkan kembali ke dalam kolam. 

    Seorang wartawan senior koran ternama sampai turun sendiri meliput demontrasi untuk memastikan para pembaca setia mereka mendapat berita yang benar. Ia heran mengapa terjadi aksi sebesar ini oleh civitas akademika. Dikoran lokal dan media elektronik tak pernah beredar isu tentang apapun yang bisa menjadi alasan golongan intelektual ini untuk aksi demontasi sedemikian besar ini. Ia mencari tahu  siapa pimpinan aksi.

    screenshot_2015-12-30-08-02-57_1.jpg 

    “Aksi damai kami tidak akan berimbas buruk bagi kalian, kami hanya menyuarakan keadilan untuk ratiq wara”, kata pemimpin aksi, seorang mahasiswa kedokteran berjaket hijau lumut tanpa kancing dengan tas selempang berwarna biru laut dangkal.

    Tonggak kayu dengan ukiran patung burung enggang tegak mengepakkan sayap. Kalau saja ia berubah hidup ia bisa segera terbang tinggi menembus awan menuju ke barat, menusuk pedalamannya belantara. Menjauh dari hiruk pikuk demonstran. 

    Samarinda, Desember 2016