“Ya itu tadi”, katanya. “Tentang apa sih?”, aku merapikan selempang sarung kotak coklat sambil menegakkan punggung. “Lah, emangnya tadi ada apa?”, kataku lagi kepadanya. “Kamu ngingau ya??”, lanjutku.
Pepohonan masih berselimut kabut separuh kebawah, hanya ujung ujungnya saja sebagian nampak. tetesan embun pagi belum lagi hilang dari rerumputan yang menjuntai.
“Ah, lupakan”, katanya sambil bergeser mendekat kearah hidangan. Kami sebut hidangan adalah ubi bakar dan sebuah tekobl berisi kopi. Diambilnya teko itu lalu dituangkan kedalam gelas.
“Kesambet apa kamu”, kataku. Diangkatnya gelas kopi yang masih berasap dengan dua jari. “Srrrruppp, ahhh…nikmat memang kopi pahit ini, aroma biji kopi wahid”, katanya.
Tenda sederhana yang terbuat dari terpal menutupi amben yang disusun dari potongan cabang pepohonan menjadi tempat istirahat kami beberapa hari belakangan.
“Dari kebun kopi Julak Zainal”, lanjutnya. “Minggu lalu waktu aku pulang dari Wahau lewat kebun dia, dibawakannya aku dua kantong bijih kopi itu”, ujarnya sambil terpejam menyeruput gelas kopi yang masih panas.
Gemericik sungai kecil berduet dengan gemeretak bara kayu memerdukan pagi. embun yang hampir jatuh dari ujung dedaun menjadi teman kabut tipis diatas permukaan air.
Kokok ayam hutan muncul lagi dari kejauhan. Seingatku sudah empat kali ini sejak sebelum subuh tadi. “Itu tadi maksudku”, katanya. “Perangkap kita sudah berhasil menangkapnya atau belum ya?”, katanya.
“Oo..perangkap itu, aku pikir apa. Sebentar lagi kita lihat, setelah habis kopi ini”, kataku. dua gelas kopi dengan busa krem diatasnya tampak masih separuh terisi. Panas air yang tadi mendidih bertengkar dengan hawa dingin berubah menjadi uap.
Sudah berbulan bulan pemburu gagal menangkap ayam hutan dari sini. Kecuali kami berdua tak ada lagi yang datang mencari ayam hutan itu. Sia-sia. “Barangkali itu ayam hutan terakhir yang ada disini, semoga rejeki kita, ayok”, kataku lalu beranjak berdiri.
Samarinda, Januari 2017
