Semua tulisan dari ahmadhil

Blog ini adalah milik Ahmadhil, seorang dokter bedah orthopaedi Not only orthopaedic, not just me, beyond art words....passion

Minyak Patah Tulang

Ibu itu duduk tertunduk disebelahku. Menyampaikan keputusan keluarga besarnya yang teguh pada keyakinan mereka membawa anaknya keluar RS, menolak perawatan oleh tim bedah tulang.

Dia tidak mengatakan pasti hendak bagaimana. Penuh keraguan dia seperti tercekat ingin berkata “Dok, aku tak rela anakku dibawa ke pengobat alternatif dengan minyak patah tulang antah berantah !!!! “. Matanya mulai berair disebelahku mulutnya hanya berkata lirih sekali, “Begitulah…. Pak”.

image

Hanya dalam waktu sebulan ini tim bedah tulang di RS kami telah mengoperasi 4 kasus patah tulang terlantar (neglected fracture) yang sudah diberi minyak antah berantah dengan pantangan antah berantah pula.

Pertama, seorang ibu datang dengan patah tulang paha yang menangis tersedu berharap kakinya bisa kembali bisa untuk menopang tubuhnya. Sudah setengah tahun ini ia menderita patah tulang yang membuatnya menjadi pengguna kursi roda. Kasus demikian bukanlah kasus patah tulang yang sederhana, untuk mendapatkan hasil optimal perlu ditangani secara tepat (baca : http://atomic-temporary-1247914.wpcomstaging.com/2015/05/01/patah-tulang-paha-femur-fracture/ )

Kedua, seorang lelaki berperawakan gagah dengan tulang selangka patah  yang beberapa minggu lalu di”paksa” oleh entah siapa untuk menerima setetes minyak dalam mulutnya. Ia percaya kekuasaan Alloh dalam menyembuhkan penyakit yang Dia turunkan, namun tidak dengan cara-cara antah berantah. Ketika kecelakaan terjadi ia sulit mengambil sendiri keputusan, ditengah kebingungan dan rasa nyeri hebat orang-orang disekitarnya bersuara lantang, “Bawa aja ke ‘sana’, jangan ke Rumah Sakit”. Entah kemana suara lantang itu sekarang.

Ketiga, seorang remaja yang datang dengan pergelangan kaki bengkok kearah dalam (shorten, varus & internal rotate) setelah mendekati 2 bulan tanpa pengobatan medis (neglected ankle fracture). Awalnya dia datang ke IGD namun orangtuanya memutuskan untuk menolak tindakan medis dan mencoba-coba pengobatan antah berantah. Padahal semua tindakan yang akan dilakukan terhadap anaknya bebas biaya sedikitpun.

Lalu keempat, baru saja tadi sore tim kami selesai melakukan operasi terhadap ibu paruh baya yang datang ke poli 2 hari lalu dengan tangan terikat kayu dan mengeluh nyeri tak tertahankan selama berbulan bulan. Tiga bulan sebelumnya ia mengikuti saran entah siapa untuk berobat antah berantah itu.

Entah sampai kasus keberapa lagi nanti yang akan tim kami hadapi jika ditambah sejumlah pasien yang sudah dijadwal operasi namun tiba-tiba “hilang” karena memaksa pulang dan lebih memilih pengobatan antah berantah.  Semoga saya keliru. Semoga mereka pindah ke RS dengan pelayanan prima yang jauh lebih baik dari pelayanan kami.

Tidak perlu menjadi orang pintar ataupun dikatakan “pintar” untuk bisa melihat tulang yang patah. Kita sudah diberi pengetahuan yang jelas bagaimana melihat dan menangani patah tulang bukan dengan cara ajaib antah berantah namun dengan keilmuan sesuai sunnatulloh  (baca :  http://atomic-temporary-1247914.wpcomstaging.com/2015/01/31/versus-bone-setter/ ) serta melalui kerjasama luar biasa dengan rekan rekan perawat terbaik yang ada (baca : http://atomic-temporary-1247914.wpcomstaging.com/2015/02/09/orthopedic-nurses/ ).

Perlahan saya mencoba menyampaikan tentang rencana tindakan beserta alasan melakukan tindakan tersebut. Menyampaikan dengan bahasa sesederhana mungkin, mengulang beberapa kali dan meminta ibu bertanya jika kurang jelas. Ia hanya menyeka tetes air ditepi matanya yang memerah. Sedikit mengembalikan posisi kacamata, “Iya Dok…tapi” ujarnya sambil melirik kearah keluarganya yang menatap tajam kearah saya dan dia.  

Tidak semua kasus tulang patah memerlukan tindakan operasi pemasangan pen atau implan tulang, banyak pula bisa dikerjakan tanpa operasi pemasangan pen atau implan tulang (conservatif treatment) semisal casting, traction, sling, bandage.  Namun jika memang harus dilakukan operasi (operatif treatment) maka pilihan itu bisa dipertanggung jawabkan dihadapan siapa saja.

Tentu saja setiap dokter akan berusaha semaksimal mungkin membantu pasien dengan segala keterbatasan yang ada, menempatkannya sebagaimana seandainya pasien itu adalah keluarga sendiri ( baca : http://atomic-temporary-1247914.wpcomstaging.com/2014/12/23/talk-to-patient-treat-like-close-family/ ).

Ibu itu berpaling dengan langkah gontai menuju ruang perawatan anaknya. Keluarganya sedang bersiap-siap untuk membawa pulang. Entah mau dibawa kemana.

Semoga saya keliru. Semoga keluarganya membawa anak malang itu ke Rumah Sakit lain yang lebih baik untuk bertemu dengan senior-senior dokter ahli bedah tulang terbaik.

Mahakam, Oktober 2015

Patah Tulang Selangka / Collarbone Fracture (Calvicular Fracture)

Bapak itu tampak tegang menunggu didepan poliklinik orthopedi. Sambil menopang lengan bawahnya yang ditekuk didepan dada raut mukanya menggambarkan rasa nyeri yang berat.

Saya meminta petugas di poliklinik untuk mendahulukan antrian. Wajahnya tidak berubah membaik mendengar namanya dipanggil dipercepat meskipun belum gilirannya. Pasien lain tidak ada yang protes karena kebetulan saat itu semua pasien kontrol pasca operasi. Mereka paham jika bapak itu benar-benar kesakitan dan perlu pertolongan segera.

image

Patah tulang selangka (collarbone fracture/ clavicle fracture) termasuk salah satu kasus patah tulang yang sering dijumpai. Secara epidemiologi jumlah kasusnya berkisar 4 % dari semua kasus patah tulang1.

Penanganan kasus patah tulang selangka berkembang dari masa ke masa. Dahulu, patah tulang selangka (clavicle fracture ) ditangani secara konservatif2. Perkembangan implan tulang yang semakin pesat sejak berdirinya beitsgemeinschaft für Osteosynthesefragen di Jerman ikut menawarkan pilihan lain.

Reposisi secara terbuka kemudian melakukan fiksasi secara internal memberikan pilihan reposisi tulang yang lebih baik. Beragam metode fiksasi internal ini dilakukan seperti dengan Kirsner wire, AO recon plate, Clavicular plate dan Hook plate.

Diluar pilihan operatif tersebut pilihan lain untuk terapi secara konservatif pada kasus patah tulang selangka adalah dengan Figure of Eight atau Ransel Verban. Pada beberapa penelitian menunjukkan hasil fungsional yang cukup baik dengan terapi konservatif, meskipun dengan waktu kesembuhan rerata yang lebih lama2.

Tren terapi operatif untuk kasus patah tulang selangka (displaced clavicle fracture) yang meningkat mengindikasikan bahwa terapi konservatif tidak lagi memenuhi ekspektasi pasien yang membutuhkan mobilisasi segera2.

Sebuah penelitian pada tahun 1997 menunjukkan hasil terapi konservatif dimana dari evaluasi terhadap 52 kasus collarbone fracture selama 3 tahun menunjukkan bahwa sejumlah 31% pasien dengan pemendekan/shortening lebih 2 cm menunjukkan hasil yang jelek (poor outcome), dengan 15 % patah tulang tidak menyambung (non union)2.

Serupa dengan penelitian tahun 2006 dimana dari 30 pasien dengan terapi konservatif didapatkan penurunan fungsi pada sisi terdampak. Tahun 2007 asosiasi orthopedi trauma Kanada (Canadian Orthopaedic Trauma Society) mempublikasikan hasil penelitian dari 132 pasien yang diterapi secara konservatif (tanpa operasi) atau operatif. Hasilnya diperoleh keluaran fungsi yang lebih baik pada kelompok terapi operatif dengan tingkat kepuasan pasien yang lebih tinggi dan komplikasi yang lebih rendah2.

Sebuah penelitian multicenter di Skotlandia membandingkan terapi konservatif dan operatif yang dipublikasikan tahun 2013 menyebutkan bahwa 99 % fraktur tulang selangka dengan terapi operatif mencapai kesembuhan lebih baik dibandingkan dengan konservatif yang hanya 74% kesembuhan2.

———————

Bapak itu terbaring sumringah dengan salah satu punggung telapak tangan terpasang selang infus berisi analgetik drip. Luka operasi cukup baik, tidak ada rembesan darah dan tidak pula ada tanda-tanda infeksi. Sore nanti bapak itu sudah diperbolehkan pulang dan besok pagi sudah boleh kembali beraktifitas meskipun belum boleh menggunakan sisi lengan yang terdampak.

References :
1. http://www.orthobullets.com/trauma/1011/clavicle-fractures

2. Maureen Leahy. 2014. Treating Clavicle Fractures : Does evidence support surgical fixation?. AAOS. http://www.aaos.org/news/aaosnow/jun14/clinical8.asp

Patah Tulang Selangka

Bapak itu tampak tegang menunggu didepan poliklinik orthopedi. Sambil menopang lengan bawahnya yang ditekuk didepan dada raut mukanya menggambarkan rasa nyeri yang berat.

Saya meminta petugas di poliklinik untuk mendahulukan antrian. Wajahnya tidak berubah membaik mendengar namanya dipanggil dipercepat meskipun belum gilirannya. Pasien lain tidak ada yang protes karena kebetulan saat itu semua pasien kontrol pasca operasi atau tindakan non operasi. Sepertinya mereka tahu jika bapak itu benar-benar kesakitan dan perlu pertolongan segera.

image

Patah tulang selangka (clavicle fracture) termasuk salah satu kasus patah tulang yang sering dijumpai. Secara epidemiologi jumlah kasusnya berkisar 4 % dari semua kasus patah tulang1.

Penanganan kasus patah tulang selangka berkembang dari masa ke masa. Dahulu patah tulang selangka (clavicle fracture ) ditangani secara konservatif2 Perkembangan implan tulang yang semakin pesat sejak berdirinya beitsgemeinschaft für Osteosynthesefragen di Jerman ikut memberikan pilihan lain. Reposisi secara terbuka kemudian melakukan fiksasi secara internal memberikan pilihan reposisi tulang yang lebih baik. Beragam metode fiksasi internal ini seperti dengan Kirsner wire, AO recon plate, Clavicular plate dan Hook plate untuk distal clavicle fracture.

Diluar pilihan operatif tersebut pilihan rasional untuk melakukan terapi konservatif kasus patah tulang selangka dengan Figure of Eight atau Ransel Verban. Pada beberapa penelitian menunjukkan hasil fungsional yang cukup baik dengan terapi konservatif, meskipun dengan waktu kesembuhan rerata yang lebih lama2.

Tren terapi operatif untuk kasus patah tulang selangka (displaced clavicle fracture) yang meningkat mengindikasikan bahwa terapi konservatif tidak lagi memenuhi ekspektasi pasien dewasa ini2.

Sebuah penelitian pada tahun 1997 menunjukkan hasil terapi konservatif dimana dari evaluasi 52 kasus selama 3 tahun menunjukkan bahwa 31% pasien dengan shortening lebih 2 cm menunjukkan hasil yang jelek (poor outcome), dengan 15 % patah tulang tidak menyambung (non union)2.

Serupa dengan penelitian tahun 2006 dimana dari 30 pasien dengan terapi konservatif didapatkan sisa penurunan fungsi pada sisi terdampak. Tahun 2007 asosiasi orthopedi trauma di Kanada (Canadian Orthopaedic Trauma Society) mempublikasikan hasil penelitian dari 132 pasien yang diterapi secara konservatif atau operatif. Hasilnya diperoleh keluaran fungsi yang lebih baik pada kelompok terapi operatif dengan tingkat kepuasan pasien yang lebih tinggi dan komplikasi yang lebih rendah2.

Sebuah penelitian multisenter di Skotlandia yang membandingkan terapi konservatif dan operatif dipublikasikan tahun 2013 menyebutkan bahwa 99 % fraktur tulang selangka dengan terapi operatif mencapai kesembuhan lebih baik dibandingkan dengan konservatif yang hanya 74% kesembuhan2.

———————

Bapak itu terbaring sumringah dengan salah satu punggung telapak tangan terpasang selang infus berisi analgetik drip. Luka operasi cukup baik, tidak ada rembesan darah dan tidak pula ada tanda-tanda infeksi. Sore nanti bapak itu sudah diperbolehkan pulang dan besok pagi sudah boleh kembali beraktifitas meskipun belum boleh menggunakan sisi lengan yang terdampak.

References :
1. http://www.orthobullets.com/trauma/1011/clavicle-fractures

2. Maureen Leahy. 2014. Treating Clavicle Fractures : Does evidence support surgical fixation?. AAOS. http://www.aaos.org/news/aaosnow/jun14/clinical8.asp

Pedalling Samarinda-Kota Bangun

Minggu pagi, 31 mei 2015, rencana pedalling muter kota samarinda saja. Sesampainya di tepian mahakam lihat sekumpulan orang dari grup roadbike, iseng-iseng mampir dan kenalan. Langsung diajakin gabung pedalling menuju Kota Bangun (+-120Km)….weh, tanpa persiapan apapun kecuali botol minuman separuh terisi dan perut keroncongan saya beranikan untuk bergabung. Akhirnya drop out juga di kilometer 96, padahal tinggal 24 Km dari titik akhir di Kota Bangun.

image

Review :
1. Rute : A. Samarinda- Tenggarong via Loa Janan. Jalan sebagian besar sudah baik, sedang dilakukan semenisasi dibeberapa bagian terutama menjelang masuk tenggarong. Tanjakan sedikit, lumayan buat pemanasan.
B. Tenggarong-Kota Bangun. Jalan bagus sekali dan tidak ramai. Tanjakan lumayan buat latihan memperkuat dengkol. Lebih berat dari jalur balikpapan samarinda. Ada satu dua bagian yang sedang dilakukan perbaikan.

2. Cuaca diawal sangat bersahabat. Namun selepas jam 10.30 cuaca berubah semakin panas, terik matahari menguapkan air, benar-benar inilah matahari katulistiwa. Desir angin ketika rolling tidak cukup untuk menurunkan suhu badan. Di kilometer 80 sudah mandi dengan 2 botol air mineral tetap saja kepanasan. Sepertinya efek gelombang panas di India sampai dikalimantan

3. Barengan para maestro roadbike Kaltim membuat perjalanan jadi menyenangkan, namun akhirnya harus drop out juga di kilometer 96 setelah berjuang melawan dehidrasi dan hipoglikemi berat karena persiapan kalori yang tidak memadai. Beberapa rekan lainnya juga tumbang karena hawa panas yang luar biasa.

4. Tempat istirahat memadai untuk mengisi perbekalan air dan tenaga.

Kesimpulan :

Jalur roadbike yang menyenangkan, jalanan sudah bagus dan tidak terlalu padat. patut dicoba buat uji kekuatan dengkul anda.

image

image

image

image

image

Kebakaran !!

Jum’at malam menjelang kemarau. Berita di media sudah mulai terisi reportase peristiwa kebakaran. Tiba-tiba suara sirene meraung jauh lebih keras dari sirene ambulans yang biasa terdengar. Beberapa mobil besar berwarna merah melaju kencang menembus padatnya jalan raya.

Suara sirene dan klakson tak henti-hentinya dibunyikan. Petugas yang bergelantungan disisi kanan kiri berteriak nyaring sekali hingga serak “minggeer-minggeer, hoooi, minggeeeer!!!”, berulang-ulang. Bisa dipahami, keberadaan mereka darurat dibutuhkan terlebih tepat semalam sebelumnya kebakaran melanda kota ini menjadi sebab 2 anak kecil meninggal.

Menolong kebakaran pernah saya alami ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran. Sepulang kuliah saya melewati kebakaran toko yang cukup besar, ketika itu nampaknya petugas pemadam kekurangan tenaga (masih awal kejadian, regu pemadam kebakaran sebagian belum tiba). Saya memberanikan diri membantu sebisanya hingga akhirnya petugas yang berkompeten datang.

Semasa menjalankan Wajib Kerja Sarjana (WKS) dokter spesialis pernah pula menyaksikan uletnya pemadaman kebakaran bekerja. Bagaimana mereka ber’tarung’ memadamkan api secepat mungkin, melokalisir kebakaran yang melanda rumah warga tidak menyebar ke lebih banyak rumah disekitarnya. Bupati dan para petinggi pemerintah di daerah itu segera datang untuk memberi dukungan moral dan bantuan langsung. Bupati memerintahkan untuk melakukan evakuasi korban kebakaran ke bangunan pertokoan milik pemerintah yang baru selesai dibangun.

image

Sejarah pemadam kebakaran diawali pada abad ke 3 atau 2 sebelum masehi oleh Ctesibus dari Alexandria yang membuat pompa tangan1,2 untuk digunakan sebagai alat bantu pemadam kebakaran. Brigade pemadam kebakaran yang terorganisir pertama kali dibentuk oleh
Marcus Licinius Crassus dari kerajaan Romawi pada abad 1 sebelum masehi yang kemudian dikembangkan lebih baik oleh kaisar Nero2. Brigade pemadam kebakaran modern terbentuk pada sekitar abad 16 di Perancis oleh François du Mouriez du Périer2. Demikian terus berkembang hingga sekarang ini.

Kesibukan pemadam kebakaran ketika melaksanakan tugaskan sedikit banyak mirip dengan keadaan di unit gawat darurat (UGD) rumah sakit. Jika di UGD petugas medis emergency berjibaku dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa pasien maka petugas pemadam kebakaran berjibaku dengan limitasi waktu untuk menyelamatkan rumah sehingga tidak menyebar kesemakin banyak rumah atau aset lain yang mungkin sekali menimbulkan korban jiwa.

Selesai tulisan ini dibuat bertambah lagi 2 kebakaran dikota yang sama hanya berselang beberapa hari. Semoga cukup sampai sekian.

Reference :
1. http://www.afirepro.com/history.html
2. https://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_firefighting

Picture source :
http://www.rsc.org/chemistryworld/2015/05/industry-body-accused-over-links-discredited-us-fire-safety-group

Amputasi

Usianya baru sekitar belasan tahun, namun takdir menyatakan bahwa ia menderita tumor tulang ganas pada bagian atas tungkai kanannya yang khas dijumpai pada rentang usianya ( osteosarcoma ). Tim orthopedi menelaah dan mendiskusikan dengan ahli patologi dan radiologi sampai pada simpulan putusan untuk melakukan amputasi.

Lelaki 30-an tahun itu datang dengan luka kronis ditungkai kiri yang menyebarkan bau busuk. Borok yang sudah dibawanya selama 10 tahun lebih, sehingga iapun mengaku sudah lupa bagaimana awal kejadiannya. Struktur tulang dikakinya (distal tibia fibula, calcaneus, talus) sudah hancur sulit untuk dilihat dan bagian pangkal jari (bagian proximal metatarsal) sudah menunjukkan tanda osteomyelitis kronis. Setelah tim orthopedi berdiskusi dengan berbagai pertimbangan termasuk mempertimbangkan keinginan pasien untuk terbebas dari kondisi tersebut (tidak dapat berjalan, nyeri dan berbau busuk). Tim memutuskan untuk melakukan amputasi, pasien menyetujui tanpa persyaratan apapun.

Adapula seorang wanita muda yang tegar menerima tindakan amputasi. Ia menyadari bahwa amputasi adalah jalan satu-satunya agar dirinya terbebas dari tumor tulang sebelum tumor itu menyebar kebagian tubuh lainnya (metastase) . Pada akhirnya dan hingga saat ini ia banyak sekali memberi support dan motivasi kepada pasien-pasien dengan tumor tulang yang menghadapi keputusan sulit sepertinya.

Berkali-kali kami berhadapan dengan berbagai kasus yang membutuhkan amputasi sebagai pilihan akhir terapi. Sebagian tidak bisa menerima pilihan itu, sebagian lagi menerima dengan penuh keikhlasan dan keinginan untuk mengusahakan kesehatannya.
image

Para peneliti percaya bahwa amputasi telah dilakukan sejak jaman neolithic  (4.000-2.500 SM)1,2. Adapula yang menyatakan bahwa amputasi telah dilakukan manusia sejak 36.000 tahun lalu dengan bukti antropologi berupa lukisan gua. Bukti lain ditunjukkan dengan adanya penemuan didekat kota Paris berupa tulang lengan kiri lelaki yang membuktikan tanda-tanda telah dipotong dengan sengaja. Tulang ini diperkirakan berasal dari 4.900 tahun SM 3.

Bukti tulisan mengenai amputasi masih dapat kita jumpai pada Rig-Veda yang berasal dari sekitar 3.500-1.800 SM 1,3. Bukti lain adanya amputasi dijumpai pada masa mesir kuno berupa prostese jari kaki Amenhotep II (tahun 1.500 SM)3.

Tindakan amputasi mengalami kemajuan dan berkembang terus ke jaman Hippocrates, Celsius, Ibnu Sina hingga Ambrose Pare abad ke 16 M 3. Perang yang terjadi pada saat itu dan setelahnya dibanyak penjuru dunia sampai awal abad 19 membuat perkembangan metode amputasi menjadi semakin maju.

Kehilangan anggota gerak tubuh atas dan atau bawah merupakan kehilangan berat, membuat limitasi dari sebelumnya mampu menggunakan keempatnya. Tentu saja kehilangan salah satu atau kedua tangan membuat seseorang kesulitan dalam beraktivitas, demikian pula jika kehilangan satu atau kedua kaki, namun amputasi tetap bukanlah akhir dari segalanya.

Berapa banyak mereka yang sejak awal tidak seberuntung kita. Mereka yang sejak lahir tidak dikaruniai anggota tubuh lengkap dan indah. Bagi anda yang mendapat cobaan atau menghadapi pilihan sulit tersebut yakinlah bahwa cobaan itu adalah jalan menuju hidup yang niscaya jika dilalui akan membawa keadaan lebih bermakna untuk anda dan keluarga.

Yogyakarta, Mei 2015

Referensi :
1. Vanderwerker, E.E. A Brief Review of the History of Amputations and Prostheses. ICIB 1976 Vol 15, Num 5. Link : http://www.acpoc.org/library/1976_05_015.asp

2. http://en.m.wikipedia.org/wiki/Neolithic

3. Wooster,M. Escape from a Greater Affliction: The Historical Evolution of Amputation. Link: http://www.dmu.edu/wp-content/uploads/2011/06/Howard-A-Graney-Submission-M-Wooster.pdf

Audax de east borneo

Nyoba nyusuri jalan raya balikpapan samarinda sendirian dengan Road Bike Polygon Helios C4 , Alhamdulillah lancar meskipun dengan tertatih-tatih. Total jarak tempuh 122,5 Km dalam waktu 5 jam 50 menit. Istirahat 2 kali di kilometer 55 (+- 20 menit) dan kilometer 85 (+- 35 menit)
.
image

image

image

image

image

  

image

Review :

1. Bulan mei, hujan sudah mulai menghilang. Alhamdulillah hujan juga (beberapa menit setelah masuk rumah hujan sampe berjam-jam)

2. Trek balikpapan samarinda cenderung lebih bersahabat dibanding samarinda -balikpapan. Mungkin karena para bos keburu-buru ngejar jam penerbangan pesawat.

3. Ruas jalan masih ada 50% yang jalurnya kecil terutama memasuki hutan lindung bukit suharto hingga loa janan. Harus sangat berhati-hati.

4. Dibeberapa titik ada tanah turun yang menyebabkan level aspal jadi berbeda. Ada pula beberapa bagian aspal yang bergelombang.

5. Tanjakan lumayan bikin dengkul tambah perkasa, ditambah lagi rasa khawatir diseruduk mobil, bis dan truk karena jalan kecil dan lumayan rame.

6. Masih tentang tanjakan. Kontur tanah balikpapan dan samarinda tipikal berbukit-bukit. Dari balikpapan sampai samboja (bukit suharto) Km 60 jalan naik turun bukit namun cenderung lurus. Memasuki km 61 tanjakan berkelok dengan titik tertinggi 176 meter (strava), demikian terus berkelok naik turun hingga masuk samarinda.

7. Tempat istirahat dan loading minuman tersedia dengan mudah.

Demikian sedikit review perjalanan dengan Road Bike karya anak negeri.

Samarinda, 24 Mei 2015