Semua tulisan dari ahmadhil

Blog ini adalah milik Ahmadhil, seorang dokter bedah orthopaedi Not only orthopaedic, not just me, beyond art words....passion

Cerita Sepeda Balap 

Bukan tentang jauh dan cepat
Bukan,
Ini tentang angin mendengungdengung ditelinga
Desiran seperti dipantai mengibasngibas lipatan jersey

Bukan tentang kuat dan lemah
Bukan,
Ini tentang putaran kaki pada 39 dan 53
Antara 11 dan 25

Bukan tentang upgrade dan wah
Bukan,
Ini tentang terik dan gemuruh saling berganti
Meronakan kulit yang gelap terbakar

Bukan tentang hebat dan rekor
Bukan,
Ini tentang peluh yang menetesnetes dari ujung siku
Cerita tentang jalanan dan semangat dua karet hitam

Bukan,
Bukan tentang aspal dan karbon
Ini tentang tanjakan dan turunan
Tak habishabisnya

Ini tentang seratus lima puluh sendiri
Dan matahari katulistiwa yang mengeringkan bibir dalam satu dua tempo

Tahura, 24 desember 2016

 

Ratiq Wara

Kolam segitiga di pintu gerbang universitas negeri kota kami menjadi saksi demonstrasi besar-besaran yang sedang terjadi. Seluruh civitas akademika dari universitas kebanggaan kota tumpah ruah, para dosen hingga guru besar turun langsung memimpin demontrasi. Seluruh mahasiswa tak terkecuali, mulai dari mahasiswa baru sampai mahasiswa yang sudah sekian tahun tetap bertahan dengan status kemahasiswaannya.

Sebelum itu, sejak pagi tadi dosen junior senior dan para guru besar telah berkumpul di aula rumah jabatan rektor  yang berada di sebelah kiri  gerbang masuk universitas. Mereka membicarakan substansi aksi demontrasi. Urgensi dilakukannya aksi yang sedemikian massif ini. Aksi yang belum pernah ada sebelumnya dikota kami. Mereka tak ingin aksi besar ini ditunggangi aktor politik dan dijadikan media promosi segelintir orang yang mengaku ngaku ikhlas tanpa embel-embel apapun. 

Mereka yang terbiasa memberi kuliah di ruangan sekarang menjadi orator gagah ditengah massa membludak. Tidak sampai  jutaan atau ratusan ribu orang seperti di ibukota negara kalian tetapi cukup memacetkan jalan di depan kampus berkilometer jaraknya. Seluruh civitas akademika menjadi saksi demonstrasi terbesar sepanjang sejarah universitas kebanggaan mereka itu. Segala perbedaan dilepaskan, perbedaan keilmuan yang mereka miliki justru menjadi penguat orasi mereka, penuh nuansa ilmiah dan jauh dari kata kasar, hinaan dan caci maki.

Koordinator mahasiswa sudah sejak semalam berkumpul di gelanggang mahasiswa dan di sekretariat organisasi kemahasiswaan. Mereka mendiskusikan rencana demonstrasi besar ini secara baik supaya tidak disusupi oleh provokator.

Pagar berwarna ungu menjadi pembatas  demonstran dan beberapa pemancing yang asyik menunggu sambaran ikan di kolam segitiga. Para demonstran tetap menjadi kesopanan.  tidak ada kekerasan, mereka orasi dengan tersenyum. Demonstrasi yang diselingi dengan pertunjukan seni dari para mahasiswa dan dosen mereka.

Beberapa pemancing tak terusik menunggu umpan disambar ikan. Sesekali diangkatnya mata kail yg telah kosong, dimasukkan kedalam wadah berisi lumut, diputar-putar beberapa kali hingga mata kail tertutup lumut lalu dilemparkan kembali ke dalam kolam. 

Seorang wartawan senior koran ternama sampai turun sendiri meliput demontrasi untuk memastikan para pembaca setia mereka mendapat berita yang benar. Ia heran mengapa terjadi aksi sebesar ini oleh civitas akademika. Dikoran lokal dan media elektronik tak pernah beredar isu tentang apapun yang bisa menjadi alasan golongan intelektual ini untuk aksi demontasi sedemikian besar ini. Ia mencari tahu  siapa pimpinan aksi.

screenshot_2015-12-30-08-02-57_1.jpg 

“Aksi damai kami tidak akan berimbas buruk bagi kalian, kami hanya menyuarakan keadilan untuk ratiq wara”, kata pemimpin aksi, seorang mahasiswa kedokteran berjaket hijau lumut tanpa kancing dengan tas selempang berwarna biru laut dangkal.

Tonggak kayu dengan ukiran patung burung enggang tegak mengepakkan sayap. Kalau saja ia berubah hidup ia bisa segera terbang tinggi menembus awan menuju ke barat, menusuk pedalamannya belantara. Menjauh dari hiruk pikuk demonstran. 

Samarinda, Desember 2016

Asia Pasific Conference on Diabetic Limb Problems

Problematika diabetes menjadi semakin bersar dewasa ini. Penanganannya yang multiperspektif dan lintas keilmuan, jumlah penderita diabetes yang tidak semakin berkurang menimbulkan dampak luas dimasyarakat. 

Salah satu yang sering dijumpai adalah limb problem due to diabetes. Diperlukan ketepatan penanganan sehingga tidak menimbulkan masalah lebih lanjut dan memperberat penderita.

Secara internasional  telah ada konferensi para ahli untuk membahas mengenai problem ini. Pada tingkatan asia pasifik Jogjakarta mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah 13th conference tahun 2016. 

Segera daftarkan diri! 

Tempat terbatas (terakreditasi IDI 28 SKP)

  • Event Contact Person : 
  • +62 8232 2371 789 (Iyo)
  •  +62 8180 4255 974 (Irene)

Hikayat Manusia Pohon

Aku adalah saksi berbagai cerita. Mulai dari pertempuran pertama manusia sampai perang dunia yang berkali-kali pecah. Jutaan nyawa dicabut didepanku, aku saksinya.

Aku adalah saksi janji-janji penguasa ketika belum terpilih. Dibatangku mereka tancap paku dan papan berisi sumpah dengan nama Tuhan. 

Aku adalah janji ketika penguasa lalim menindas mahasiswa dengan peluru dan buldozer. Mereka berteriak kocar kacir, anak anak manusia menikam manusia. 
Aku sudah muak dengan percintaan manusia. Kisah dua manusia yang berjanji sehidup semati. Belum lagi rantingku lapuk mereka sudah terbelah. 

Aku hanya menunggu penciptaku memanggilku kembali. Menjadi pohon surgawi dan menikmati saripati surga.

Jawa pesisir utara, Juli 2016

Pengakuan Gila Lih

Matahari sekarang adalah carikan silau dari rerimbun pohon di seberang jalan. Berkali-kali putus lalu datang lagi bersilang arus dengan kendaraan yang memotongnya. Sinarnya membentuk butiran intan di genangan air jernih antara aspal dan trotoar. Berkali lebih cemerlang dari rembulan purnama.
Namaku Lih, panjangnya tidak ada, artinya entahlah. Bapak ibuku tak pernah mengisahkan apa artinya. Aku sebatang kara. Seingatku rumah kami kecil terbuat dari kayu hutan. Letaknya tengah di kebun, jauh dari kampung.

Sejak lahir sampai suatu ketika kelam aku tinggal disana. Tak perlu aku cerita kelam itu.

Sekarang rumahku di sepanjang jalanan kota. Tahun ini rumahku adalah jalan ini dari ujung ke ujung. Sudah sepertiga abad aku tinggal di jalanan, di berbagai jalan. Berjalan dari ujung ke ujungnya. Kadang berpindah jalan namun tak lama berselang kembali lagi. Kadang di tepi trotoar menikmati lembayung senja. Kadang di emperan ruko menikmati gemericik hujan jatuh di pinggirnya. Tidur ditemani sepi dan bulan separuh.

Cerukan air jernih di tepi trotoar itu mengalir dari tahun ketahun. Lama sejak jalanan masih dibuat dengan rebusan aspal dalam drum, berganti aspal hotmix lalu terakhir dengan semen cor setelah puasa kemarin. Tidak ada yang pernah memperhatikannya. Sama seperti mereka tidak pernah melihatku. Seperti zombie. Orang-orang waras tak sudi menoleh kepadanya, kepadaku juga. Mereka sibuk dengan deru mesin kendara diantara asap mengepul.

Setiap pagi aku duduk di pinggir cerukan jernih itu. Ia seperti sumber air tawar ditengah lautan atau seperti mata air diatas gunung. Aku mengambil wadah bekas apapun disekitarku. Plastik air mineral, teh kemasan, bekas jus, kaleng cat. Wadah yang mereka buang sesukanya.

Gemericik air turun dari wadah ditangan kanan tumpah ke telapak tangan kiri. Alirannya seperti kalung intan tertimpa matahari secarik dari timur. Tiga ratus enam puluh lima kali tujuh kali aku ulangi. Itu setiap pagi.

Bukan aku tak memperhatikan kalian, aku hapal siapa saja yang lewat jalan ini setiap hari. Siapa yang baru pertama kali lewat, atau pertama kali datang ke kota ini. Sesiapa yang lewat lebih dulu pagi-pagi dan sesiapa yang larut malam terakhir lewat. Hanya saja tentu mereka tak kenal aku. Tak melihatku barangkali, aku seperti hantu.

Kekanak tertawa melihatku, biar saja, bukan mereka tapi orang dewasalah yang mencuci otak mereka supaya menertawakan. Biarkan, bukan salah mereka. Aku hanya mencuci tanganku dengan gemericik air jernih dari cerukan yang mereka kira kotor. Aku mencuci tangan yang mereka kira kotor beratus kali berulang lagi.

Aku makan sisa makanan yang kau buang. Bukan basi, namun potongan makanan lezat yang kau buang seenaknya. Seperti Dewi Sri menangis meratapi nasi nasi. Aku makan lauk pauk yang tak enak menurut lidahmu, bukan menurut lainnya.

Aku pula seumpama nabi yang diasingkan kaumnya. Sendiri ditengah aroma minyak mesin terbakar. Aku barangkali gila, sangat mungkin. Tapi aku ada disini, diantara kalian, sepanjang jalan ini dari ujung keujung.

Namaku Lih. Jika kalian lupa namaku sebut saja sinting, gila, atau edan, sama seperti aku panggil kalian.

Rinjani-Samarinda, Mei 2016

Beras Kencur

image

A very short story by hilmimuhammad

Sudah lama sejak sebelum menikah aku berjualan jamu. Emak dulu juga berjualan jamu. Simbah juga menjual jamu sejak jaman sebelum merdeka dulu. Kata simbah, orang pertama dikeluargaku menjadi penjual jamu adalah mbah buyutnya simbah. Namun simbah juga gak yakin, bisa jadi simbahnya mbah buyutnya simbah sudah berjualan jamu, begitu katanya suatu ketika. Ketiga anak perempuan emak menjadi penjual jamu. Termasuk aku. Dia cerita kalau mungkin saja aku adalah keturunan ketujuh atau kesepuluh yang berjualan jamu.
Entah kangmas tertarik padaku karena aku penjual jamu, kesederhanaanku atau karena yang lain. Kangmas tidak pernah cerita. Yang jelas aku tidak cantik, tidak seperti kembang desa itu. Wajahku bulat menyunggi lesung pipit dengan kulit sewarna coklat terbakar matahari. Tidak ada yang istimewa dariku.

Kami menikah secara sederhana di desa kami delapan tahun yang lalu. Sejak itu kehidupan kami selalu diisi dengan kelapangan hati betapapun kesusahan yang kami hadapi. Kangmas orang yang penyabar dan ulet bekerja. Pekerjaan apapun dia lakoni asalkan halal. Akupun mencoba bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami.

Tak seberapa lama setelah menikah kami berdua memutuskan untuk merantau ke kota. Meninggalkan desa dan sanak keluarga untuk “Mencari penghidupan lebih baik”, begitu kira-kira kata kangmas. Dengan bekal seadanya kami pergi ke kota dekat pelabuhan yang sudah sejak lama ramai. Toko-toko dan pabrik besar ada disini. Banyak rumah tembok dengan pagar tinggi dan gonggongan anjing penjaga. Mobil-mobil bagus dengan kursi empuk dan udara sejuk walau udara diluar panas menyengat.

Aku berjualan jamu seperti leluhurku. Banyak yang menjadi langganan jamuku.  Ibu rumah tangga, bapak-bapak tua, anak kecil, emak, bulek penjual sayur, anak sma, mahasiswa mahasiswi kos-kosan, pekerja bengkel deket kontrakan. Satu dua tiga atlet sepeda yang sering berhenti mencegatku untuk minum segelas beras kencur. “Mbak ayu, kalo habis minum jamumu itu badanku rasanya mak wesss, mancal sepeda jadi buanterrrr”, begitu kata mereka

Kangmas berjualan bakso. Ia membuat sendiri baksonya dari daging sapi giling. Kangmas tidak pernah mencampurkan bumbu penyedap rasa apapun. Semua alami tanpa penyedap buatan. enak dan lumayan laris meskipun lebih banyak saingannya. Pelanggannya pun lumayan. Abang ojek pangkalan, serombongan anak smp, tukang tambal ban depan gang, gadis penjaga toko pakaian, satpam bank dan beberapa pegawai kantoran yang suka menyantap semangkok bakso sebelum pulang selepas kerja.

Suatu ketika diawal musim hujan tahun keempat kami merantau ke kota, anakku sakit demam tinggi. Sebelumnya tak pernah dia sakit seperti ini, sejak lahir selalu sehat. Entah kenapa saat itu banyak anak-anak menderita sakit demam. Beberapa diantaranya harus dirawat di rumah sakit  umum. Anakkun masuk rumah sakit hampir sepuluh hari, entah apa sakitnya aku bingung penjelasan dokter. Setiap dokter menjelaskan aku dan kangmas hanya manggut-manggut bercampur sedih. Kami berdua tak paham. Hanya saja apapun yang terjadi kami pasrahkan pengobatan anak kami kepada dokter ahli. Dia sudah belajar bertahun-tahun tentang pengobatan yang sesuai dengan ilmu terkini. Kami tak percaya sedikitku dengan dukun dan apapun namanya.

Sejak ia sembuh, lama aku merenung sendiri sebelum aku akhirnya memutuskan berhenti jualan jamu. Tanpa sepengetahuan kangmas, namun ia tak pernah protes atau menanyakan kenapa. Pelanggan kebingungan. Banyak yang mencariku, menanyakan kenapa aku tidak berjualan jamu lagi. Kinerja mereka menurun, prestasi jeblok dan turun drastis, beberapa atlet langganan aku dengar prestasinya turun. Kabar terakhir mereka gagal masuk seleksi tim nasional.

Suatu ketika -tak lama berselang- kangmas tiba-tiba saja, tanpa sepengetahuanku, memutuskan berhenti jualan bakso. Sore itu ia tidak pergi ke kios daging sapi untuk kulakan daging giling dan malamnyapun ia segera tidur, tidak seperti biasanya. Paginya kangmas bilang kalau ingin melanjutkan berjualan jamu saja. “Mas, koq jual jamu? Mana ada Pak jamu, adanya Mbok jamu, Mas, sudah sampeyan jualan bakso saja”, kataku.

“Nggak, aku mau jualan jamu”, kata kangmas singkat. Aku tak banyak bertanya lagi karena aku tau betapa kukuhnya ia jika mempunyai keinginan. Tidak ada gunanya merubah keputusannya kecuali keinginammya sendiri.

Seminggu berlalu, kangmas asyik belajar membuat jamu. Selama ini kangmas tidak pernah ikut mencampuri aku membuat jamu, seperti pula aku tak pernah mencampuri urusannya membuat bakso.

Ia meracik jamu dengan takaran seperti leluhur kami, memasak dengan cara yang sama pula. Dicicipinya sendiri, berulang-ulang. Dibuatnya lagi racikan jamu dengan takaran seperti para leluhur lalu dicicipinya lagi, begitu berulang-ulang.

Beras putih bersih tanpa aroma, akar rimpang kencur kunyit, gula asam jawa, pandan, jahe dan garam gula diolah dicampur dengan takaran sederhana, hanya genggaman tangan, cuilan atau ukuran panjang ruas jari saja patokannya. Seperti yang diajarkan ibuku dari leluhur kami.

Sampai suatu pagi kangmas dengan wajah ceria bilang begini: ” Bune, mulai hari ini aku siap jualan jamu beras kencur, doakan laris buat rejeki keluarga kita yo”. “Iya, Mas, semoga laris jualan jamunya Kangmas”, jawabku sambil tersenyum.

                     —–++++——

Katanya, banyak orang suka jamu suamiku. mereka menyukai rasanya yang segar. Pejabat, pegawai, buruh proyek pembangunan, polisi lalu lintas, pengamen di terminal sampai tahanan di penjara selatan perempatan suka. Sampai – sampai ada yang pesan botolan untuk dibawa oleh-oleh.

Aku jadi sering mendengar cerita dari orang-orang tentang enaknya jamu buatan kangmas. Belum pernah mereka bertemu dengan penjual jamu yang menjual jamu seenak beras kencur kangmas. Aromanya wangi, rasanya menyegarkan dan selalu dalam keadaan hangat.

Katanya, rasa jamu beras kencur kangmas lebih enak dibandingkan jamu buatanku. Lebih seger dan  benar-benar mengisi tenaga. Padahal bahan yang kami pakai sama, cara membuatnya sama. Memang kangmas berhari-hari mencoba meramu takarannya sendiri. Bisa jadi itu yang membuat jamunya lebih berasa.

“Bahannya beras putih bersih tanpa aroma, akar rimpang kencur kunyit, gula asam jawa, pandan, jahe dan garam gula”, kataku menjawab pertanyaan seseorang di warung kelontong dekat rumah. Dia bertanya lagi :  “Cara bikinnya gimana to Yu?”. “Caranya ya seperti itu tadi, kalo mau jelas ya tanya saja sama kangmas”, kataku sambil berlalu menutup perbincangan dengannya.

Jogja – Samarendah, Februari 2016

Tour de Celebes 2015

Tour de Celebes Enduro Fun 400 KM.
Nice route, hard climb BUT badly weather cut the race off. 

Day 1 : Makassar – Bone = Flat stage and 3 climbing peak.  Heavy rain along climbing peak.

image

image

image

image

Day 2 : Bone – Malino : Flat and 40K++ long climbing stage. Storm cut the race off at the end.

image

Tour de North Coast 2015

Tour de North Coast 500K 2015 by TENDBIR from Semarang to Bandung

[Ride Hard Happy Adventure]

Edan2an bro…
High speed on a very long stage for an amateur like me. But overall very challenging tour. Can’t wait for the next North Coast tour.

Day 1 : 250 KM start from Semarang to Cirebon

image

image

Day 2 : 170 KM start from Cirebon to Cikampek

image

Day 3 : 80 KM start from Bandung to Tangkubanprahu

image

image

CLINICAL UPDATES 2016 : Improving Physicians’ Capacity in Emergency Cases Management 

Pembangunan kesehatan di Indonesia sudah mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir. Meskipun begitu, perkembangan ini masih belum sebanding dengan kualitas kesehatan Indonesia yang ideal bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, Indonesia terus berusaha untuk mengembangkan kualitas kesehatan masyarakat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan dan merata. Usaha tersebut tertuang dalam Visi dan Misi Rencana Strategis Kementrian Kesehatan tahun 2015-2019, diantaranya yaitu meningkatkan pemberdayaan masyarakat, baik masyarakat swasta ataupun masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan, meningkatkan pelayanan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadilan serta meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan sumber daya manusia untuk bidang kesehatan yang merata dan bermutu.

image

Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan dokter yang kompeten serta memiliki kemauan untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Sebagai salah satu bentuk partisipasi dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan terutama dalam hal sumber daya manusia, kami, panitia Pelantikan Dokter UGM Angkatan 2010 beserta alumni Fakultas Kedokteran UGM angkatan 1984, bermaksud mengadakan seminar dan workshop nasional yang kami kemas dalam acara Clinical Updates 2016 dengan tema Improving Physicians’ Capacity in Emergency Cases Management sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pelantikan dokter UGM Angkatan 2010.

Clinical Updates 2016 ini mengusung materi kegawatdaruratan dan kasus-kasus yang banyak ditemukan di praktek klinik sehari-hari, baik mengenai pengembangan terbaru dari suatu kasus ataupun penanganan dengan metode terbaru, diharapkan dengan adanya seminar sehari ini dapat meningkatkan pengetahuan para dokter sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal.

Segera daftar di link ini : http:// http://clinicalupdates2016.com/pendaftaran/

Waktu pelaksanaan

Hari, tanggal      : Sabtu,-Minggu 12-13 Maret 2016

Waktu                : 08.30 – 16.40

Tempat               : Eastparc Hotel Yogyakarta

Jumlah SKP : 22 SKP

Source : http:// www.clinicalupdates2016.com

Cerpen Tanpa Huruf O dan Satu Huruf I

A very short story by Hilmimuhammad

image

Sebuah menara kayu tua berada tepat sebelah danau nampak tegak walau atapnya telah rusak separuh. Udara berembun sejak sebelum subuh turun perlahan. Namakan saja kabut yang mengambang yang bersahabat pada permukaannya.

Menara yang selama bertahun-tahun tersapu hujan tak membuat kayu penyangganya rapuh. Banyu malah membuatnya bertambah membatu. Kerang yang menempel bertumpuk tumpuk bukannya membuat lapuk namun mengeraskannya.

Pada sebelahnya terdapat gubuk tua dengan atap genteng lempung dengan halaman tanah luas berumput tebal. Tergeletak beberapa batu karang lumayan besar yang tertutup lumut separuh.

Enam pemuda datang beberapa saat sebelum senja. Sejak pertama mereka ragu melangkah masuk ke gubuk. Mereka datang karena mendapatkan surat. Pada alamat asalnya tercantum : Pak Tua, sebuah desa dekat lembah dengan danau yang selalu berkabut.

Sapaan dengan suara rendah dan santun kakek berbaju kelabu seakan-akan memaksa mereka masuk. Walau telah cukup jauh datang namun mereka tetap enggan untuk masuk.

“Masuk masuk”, sapaan kakek memecah keengganan mereka. Wajahnya cerah nampak berumur. Kerut-kerutan wajahnya menunjukkan pengalaman asam garam.

“Maaf Pak Tua, apakah benar ada surat oleh bapak ?”,  Kata pemuda berbaju magenta. Perkataannya perlahan tampak menjaga agar tetap tenang.

“Betul anak muda, aku yang mengundang kau dan mereka, masuk-masuk.” Kata kakek tua. “Ayo masuklah, ada teh hangat, kacang dan ketela rebus panenan kebun untuk sahabat-sahabat semua, ayo”. Suasana tak seburam sebelumnya. Bapak tua menyambut hangat melegakan.

Mereka melangkah masuk satu-satu, pemuda berambut lurus, pemuda berbaju magenta, pemuda berambut sebahu, pemuda bercelana pendek, pemuda gemuk berwajah bulat dan terbelakang adalah pemuda dengan ransel merah yang masuk.

Termakan umur dan renta menerjang jaman gubuk tua tetap tegak menantang deru debu yang datang bertahun tahun searah lembah. Perabotannya sudah layak separuhnya lapuk. Tentu warnanya telah pudar sejak lama. Sama dengan tehel buram berwarna merah pudar menutup jejak-jejak kasar yang pernah datang dan keluar. Plester dengan cat terkelupas pada banyak tempat merusak latar pemandangan alam belakang gubuk.

Pemuda bercelana pendek dan pemuda berambut sebahu menatap gambar cat kanvas pemandangan yang tergantung. Tentang pemburu yang membawa senjata laras panjang dengan beruang, macan tutul dan menjangan buruannya tewas tergeletak. Sedangkan elang berparuh krem terang bertengger pundaknya. Betul-betul serupa dan nyata. Dekatnya tergantung sebuah tulang kepala rusa lengkap dengan dua tanduk menjulangnya.

Percakapan berlanjut. Perkenalan satu-satu, bercakap tentang maksud dan tujuan sebenarnya. Kakek tua menunjukkan sebuah buku tua yang bersampul merah delima terbungkus rajutan bulu hewan. Sampulnya nampak sangat tua.

Kakek tua berkata, “Berbulan lalu aku temukan sebuah buku tua dalam bufet lapuk yang tergeletak rusak dekat puncak menara. Dalamnya tentang legenda anak-anak pahlawan. Anehnya, ada alamat anda pada halaman pamungkas: kepada Para Pemuda, kampung cempaka dekat stasiun kereta senja” lanjut kakek tua.

“Kenapa ada alamat pada halaman belakangnya, Pak?, kata salah satu pemuda gemuk yang berwajah bulat. Mereka heran apa alasannya.

“Saya sudah bertanya-tanya ada apa sebenarnya” kata kakek tua. “Namun tetap saja semacam sayembara yang sukar terpecahkan” lanjutnya.

Keheranan para pemuda bertambah. Mereka berkasak kusuk mempertanyakan ada apa sebenarnya. “Maka kau bawa saja buku tersebut, cobalah saja bawa ke perpustakaan terhebat punya negara, naga-naganya mereka tahu ada apa kandungannya” ungkap bapak tua.

Satu-satu mereka menatap buku yang bersampul merah tersebut. Mereka buka, pemuda berambut sebahu menatap lembaran dan lembarannya. Aneh memang, tak satunya tahu apa kandungannya.

“Sebentar anak muda, aku ke dapur dulu, ayo makan saja semuanya “, kata kakek kepada para pemuda seraya melepas tumpuannya pada bangku kayu lalu beranjak ke belakang.

Bahasanyapun mereka tak paham, huruf yang tercantum tak pernah mereka temukan sebelumnya. “Kenapa kakek tua tersebut tahu tentang legenda anak-anak pahlawan?”, kata pemuda dengan ransel merah. “Entahlah, akupun tak tau, jangan2 semua hanya karangannya saja”, pemuda berambut lurus menjawab, “atau sebenarnya ada maksud jahat” lanjutnya.

Setengah jam kakek tua tak datang juga, lenyap tanpa bekas. Mereka sudah gusar lalu sesaat keadaan berubah senyap. Gelas teh segera saja berembun dan uap kacang memudar sejak tengah-tengah pertemuan. Lampu menyala temaram dengan suara “tengggggggg …. tengggggggg …. tenggggggg”, serupa dengan suara ngengat berputar putar.

Tanpa aba-aba mereka secepatnya keluar gubuk tua berjalan tergesa menuju dua kendaraan yang sebelumnya membawa mereka datang. Bergegas pulang keheranan bercampur takut dengan membawa buku tua yang tak mereka paham. Kendaraan segera melaju kencang, debu berterbangan bak jutaan kunang-kunang.

Lamat-lamat pada kejauhan tampak kakek tua bergegas keluar semak-semak menuju dermaga. Sebuah kapal telah menunggunya sejak subuh. Sekejap mata kakek sudah berada dalam palka kapal, memegang kayu pembatas lalu berucap :
“Tugasku hanya mengantarkan kepada mereka, selanjutnya terserah kau..”

Bujangan bertubuh kekar yang membawa kapal tersenyum penuh makna. Telapak tangan kanan terkepal bergemeretak. Kapal segera melaju kencang ke arah surya yang tenggelam tuntas.

Samarendah, bulan satu tahun enam belas