Title : Eat
Place : GL Zoo, 2015
Gear : My lovely DSLR Nikon D40 (2006) at 200 mm zoom level with aperture priority
Semua tulisan dari ahmadhil
#16# Makanan
#15# Mangsa
#14# Sendiri
Ayahku itu dokter dan tukang sulap
Suatu sore sepulang dari rumah sakit aku mendengar anakku berbincang dengan sepupu-sepupunya dan eyang putri. Isi perbincangan sore itu mengenai pekerjaan orangtua masing masing. Tentu saja dikemas dengan bahasa kanak-kanak.
Ketika sampai giliran Ahmadhilla, begitu nama putri saya, dengan lantang dia berkata bahwa ayahnya adalah seorang dokter bedah tulang dan……..tukang sulap. Eyang putri tertawa mendengarnya.
Seperti itulah pandangan dia tentang ayahnya. Sebagai dokter dan juga tukang sulap. Tentu bukan tukang sulap profesional atau amatir sekalipun. Trik sulap sederhana yang bisa dikatakan trik sulap layak tampil pun tidak ada satupun saya kuasai.
Sejak kecil memang dia senang sekali jika kami bermain “sulap”. Menghilangkan benda kecil dari genggaman tangan, menggantinya dengan benda lain, mengembalikan ke benda semula, menghilangkan jari dan beberapa permainan lain.
Masing-masing ayah punya cara spesial bermain bersama anak. Demikian pula dengan kami, bermain lego, membaca koleksi bukunya, berpetualang menyusuri sawah, bermain di tepian sungai progo depan desa kami, memberi makan ayam ketawa miliknya, berenang dan berbagai permainan ala kami.
Apapun bentuknya, kedekatan antara ayah dan anak wajib dibangun sesuai cara kita sendiri. Hingga tadi pagi dia masih saja bangga bercerita kepada eyang putri bahwa ayahnya adalah dokter bedah tulang………………….dan tukang sulap.
Yogyakarta, Januari 2015
#13# Lunch time
#12# Semut
Rehat
Jakarta
Trotoar
Seminggu terakhir sepulang dari RS saya harus berjalan kaki terlebih dahulu sejauh kurang lebih 2 km. Rutenya adalah Bulaksumur, Jetis, Tugu hingga berakhir di Mangkubumi.
Dimusim liburan Jogja macet pada banyak tempat. Tidak seperti kota besar lainnya, hingga sekarang di Jogja masih cukup jarang terdengar kata macet kecuali masa liburan seperti sekarang. Jalanan begitu padat dengan kendaraan luar daerah, terlebih di seputar perempatan Tugu hingga Malioboro dan Keraton.
Bagi pejalan kaki seperti saya mestinya keadaan ini menjadi menguntungkan. Saya tidak harus terjebak kemacetan di jalan yang menjadi rute pulang. Nyatanya keadaan tidak sebaik mestinya.
Trotoar tidak seramah yang saya sangka. Di sepanjang trotoar banyak dipenuhi penjual beraneka ragam. Mulai penjual gorengan, dagangan toko kasur yang dijejer separuh trotoar, angkringan, penjual terompet tahun baru hingga di beberapa tempat trotoar dijadikan tempat parkir kendaraan roda dua.
Sudah barang tentu banyak yang membahas bagaimana semestinya mengembalikan fungsi trotoar. Di negara ini, dimana masih sangat banyak yang membutuhkan sumber penghidupan untuk keluarganya lebih dari yang anda dapatkan maka cara bersikap terhadap hal demikian akan menjadi pertimbangan tersendiri.
Sesungguhnya terkadang akan menjadi sebuah dilema besar bagaimana menempatkan sesuatu kembali sebagaimana mestinya. Pertentangan seakan-akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Kita dihadapkan kepada dua kutub dimana jika kita berhadapan pada kutub satu maka disatu sisi akan membelakangi yang lain. Berdiri tengah terkadang bukan solusi yang optimal, seperti berada ditengah-tengah lalu merentangkan kedua tangan berusaha menggapai. Tidak satupun tergapai.
Bagi saya bagian paling penting adalah bagaimana wujud kepedulian kita terhadap mereka yang tidak seberuntung kita dalam banyak hal.
Melakukan hal kecil untuk menolong itu bagus, namun jika diberi kemampuan melakukan sebesar-besar usaha tentu akan memberi manfaat bagi lebih banyak orang.
Yogyakarta, penghujung 2014









