Empat puluh derajat celsius yang disebabkan tiadanya awan menutupi surya menciptakan fatamorgana mengambang ambang diatas aspal, melelehkan tapak kaki sesiapa yang bernyali jalan tanpa alas.
Terik. Matahari “katanya” seperti sejengkal dari ubun-ubun. Matahari katulistiwa namanya. Pohon merindang tak terbakar hawa panas ekuator karena limpahan hujan dan tanah subur. Kombinasi sempurna paru dunia.
Rombongan empat mobil hitam itu melaju kencang menambah banyak barisan minyak mengambang diatas aspal. Tanpa sirene tanpa lampu kelap kelip namun kencangnya kencang sekali.
Kaca depan samping belakang gelap. tidak ada yang tau siapa pengemudi dan penumpangnya. apakah pejabat dan pengawalnya, penjahat dan pengawalnya, satuan tugas khusus atau pasukan khusus.
Mobil itu melaju melewati lampu merah yang selalu kembali hijau sesaat selepas konvoi lewat padahal tidak ada polisi lalu lintas yang berjaga. Sangat mungkin serombongan peretas bekerja dibalik monitor dan segelas coke.
Mereka melintasi mahakarya jembatan batu besi yang sudah lebih seabad memotong aliran sungai. Kerak lumut pecah ditonggaknya bukan karena getaran ribuan kendaraan yang pernah melintas. Namun karena terik matahari dan arus pasang surut silih berganti.
Sejurus kemudian debu mengepul dari kejauhan ditinggalkan keempat mobil hitam tanpa sirene itu. Jalan makadam yang membelah hutan seragam tak berarti apapun bagi konvoi. Hanya debu tinggi mengangkasa diantara pohon perkebunan menjadi penanda mereka sedetik lalu lewat.
———
Komunikasi dari mobil terdepan mengabarkan bahwa lokasi sudah dekat. Kami bersiap-siap turun. Astaga, ternyata warung soto itu tutup.
———-
Sejurus kemudian tampak lagi rombongan empat mobil hitam melaju kencang menambah banyak barisan minyak mengambang diatas aspal.
Air Hitam, Maret 2017
