Kolam segitiga di pintu gerbang universitas negeri kota kami menjadi saksi demonstrasi besar-besaran yang sedang terjadi. Seluruh civitas akademika dari universitas kebanggaan kota tumpah ruah, para dosen hingga guru besar turun langsung memimpin demontrasi. Seluruh mahasiswa tak terkecuali, mulai dari mahasiswa baru sampai mahasiswa yang sudah sekian tahun tetap bertahan dengan status kemahasiswaannya.
Sebelum itu, sejak pagi tadi dosen junior senior dan para guru besar telah berkumpul di aula rumah jabatan rektor yang berada di sebelah kiri gerbang masuk universitas. Mereka membicarakan substansi aksi demontrasi. Urgensi dilakukannya aksi yang sedemikian massif ini. Aksi yang belum pernah ada sebelumnya dikota kami. Mereka tak ingin aksi besar ini ditunggangi aktor politik dan dijadikan media promosi segelintir orang yang mengaku ngaku ikhlas tanpa embel-embel apapun.
Mereka yang terbiasa memberi kuliah di ruangan sekarang menjadi orator gagah ditengah massa membludak. Tidak sampai jutaan atau ratusan ribu orang seperti di ibukota negara kalian tetapi cukup memacetkan jalan di depan kampus berkilometer jaraknya. Seluruh civitas akademika menjadi saksi demonstrasi terbesar sepanjang sejarah universitas kebanggaan mereka itu. Segala perbedaan dilepaskan, perbedaan keilmuan yang mereka miliki justru menjadi penguat orasi mereka, penuh nuansa ilmiah dan jauh dari kata kasar, hinaan dan caci maki.
Koordinator mahasiswa sudah sejak semalam berkumpul di gelanggang mahasiswa dan di sekretariat organisasi kemahasiswaan. Mereka mendiskusikan rencana demonstrasi besar ini secara baik supaya tidak disusupi oleh provokator.
Pagar berwarna ungu menjadi pembatas demonstran dan beberapa pemancing yang asyik menunggu sambaran ikan di kolam segitiga. Para demonstran tetap menjadi kesopanan. tidak ada kekerasan, mereka orasi dengan tersenyum. Demonstrasi yang diselingi dengan pertunjukan seni dari para mahasiswa dan dosen mereka.
Beberapa pemancing tak terusik menunggu umpan disambar ikan. Sesekali diangkatnya mata kail yg telah kosong, dimasukkan kedalam wadah berisi lumut, diputar-putar beberapa kali hingga mata kail tertutup lumut lalu dilemparkan kembali ke dalam kolam.
Seorang wartawan senior koran ternama sampai turun sendiri meliput demontrasi untuk memastikan para pembaca setia mereka mendapat berita yang benar. Ia heran mengapa terjadi aksi sebesar ini oleh civitas akademika. Dikoran lokal dan media elektronik tak pernah beredar isu tentang apapun yang bisa menjadi alasan golongan intelektual ini untuk aksi demontasi sedemikian besar ini. Ia mencari tahu siapa pimpinan aksi.
“Aksi damai kami tidak akan berimbas buruk bagi kalian, kami hanya menyuarakan keadilan untuk ratiq wara”, kata pemimpin aksi, seorang mahasiswa kedokteran berjaket hijau lumut tanpa kancing dengan tas selempang berwarna biru laut dangkal.
Tonggak kayu dengan ukiran patung burung enggang tegak mengepakkan sayap. Kalau saja ia berubah hidup ia bisa segera terbang tinggi menembus awan menuju ke barat, menusuk pedalamannya belantara. Menjauh dari hiruk pikuk demonstran.
Samarinda, Desember 2016