Matahari sekarang adalah carikan silau dari rerimbun pohon di seberang jalan. Berkali-kali putus lalu datang lagi bersilang arus dengan kendaraan yang memotongnya. Sinarnya membentuk butiran intan di genangan air jernih antara aspal dan trotoar. Berkali lebih cemerlang dari rembulan purnama.
Namaku Lih, panjangnya tidak ada, artinya entahlah. Bapak ibuku tak pernah mengisahkan apa artinya. Aku sebatang kara. Seingatku rumah kami kecil terbuat dari kayu hutan. Letaknya tengah di kebun, jauh dari kampung.
Sejak lahir sampai suatu ketika kelam aku tinggal disana. Tak perlu aku cerita kelam itu.
Sekarang rumahku di sepanjang jalanan kota. Tahun ini rumahku adalah jalan ini dari ujung ke ujung. Sudah sepertiga abad aku tinggal di jalanan, di berbagai jalan. Berjalan dari ujung ke ujungnya. Kadang berpindah jalan namun tak lama berselang kembali lagi. Kadang di tepi trotoar menikmati lembayung senja. Kadang di emperan ruko menikmati gemericik hujan jatuh di pinggirnya. Tidur ditemani sepi dan bulan separuh.
Cerukan air jernih di tepi trotoar itu mengalir dari tahun ketahun. Lama sejak jalanan masih dibuat dengan rebusan aspal dalam drum, berganti aspal hotmix lalu terakhir dengan semen cor setelah puasa kemarin. Tidak ada yang pernah memperhatikannya. Sama seperti mereka tidak pernah melihatku. Seperti zombie. Orang-orang waras tak sudi menoleh kepadanya, kepadaku juga. Mereka sibuk dengan deru mesin kendara diantara asap mengepul.
Setiap pagi aku duduk di pinggir cerukan jernih itu. Ia seperti sumber air tawar ditengah lautan atau seperti mata air diatas gunung. Aku mengambil wadah bekas apapun disekitarku. Plastik air mineral, teh kemasan, bekas jus, kaleng cat. Wadah yang mereka buang sesukanya.
Gemericik air turun dari wadah ditangan kanan tumpah ke telapak tangan kiri. Alirannya seperti kalung intan tertimpa matahari secarik dari timur. Tiga ratus enam puluh lima kali tujuh kali aku ulangi. Itu setiap pagi.
Bukan aku tak memperhatikan kalian, aku hapal siapa saja yang lewat jalan ini setiap hari. Siapa yang baru pertama kali lewat, atau pertama kali datang ke kota ini. Sesiapa yang lewat lebih dulu pagi-pagi dan sesiapa yang larut malam terakhir lewat. Hanya saja tentu mereka tak kenal aku. Tak melihatku barangkali, aku seperti hantu.
Kekanak tertawa melihatku, biar saja, bukan mereka tapi orang dewasalah yang mencuci otak mereka supaya menertawakan. Biarkan, bukan salah mereka. Aku hanya mencuci tanganku dengan gemericik air jernih dari cerukan yang mereka kira kotor. Aku mencuci tangan yang mereka kira kotor beratus kali berulang lagi.
Aku makan sisa makanan yang kau buang. Bukan basi, namun potongan makanan lezat yang kau buang seenaknya. Seperti Dewi Sri menangis meratapi nasi nasi. Aku makan lauk pauk yang tak enak menurut lidahmu, bukan menurut lainnya.
Aku pula seumpama nabi yang diasingkan kaumnya. Sendiri ditengah aroma minyak mesin terbakar. Aku barangkali gila, sangat mungkin. Tapi aku ada disini, diantara kalian, sepanjang jalan ini dari ujung keujung.
Namaku Lih. Jika kalian lupa namaku sebut saja sinting, gila, atau edan, sama seperti aku panggil kalian.
Rinjani-Samarinda, Mei 2016
