A very short story by Hilmimuhammad
Sebuah menara kayu tua berada tepat sebelah danau nampak tegak walau atapnya telah rusak separuh. Udara berembun sejak sebelum subuh turun perlahan. Namakan saja kabut yang mengambang yang bersahabat pada permukaannya.
Menara yang selama bertahun-tahun tersapu hujan tak membuat kayu penyangganya rapuh. Banyu malah membuatnya bertambah membatu. Kerang yang menempel bertumpuk tumpuk bukannya membuat lapuk namun mengeraskannya.
Pada sebelahnya terdapat gubuk tua dengan atap genteng lempung dengan halaman tanah luas berumput tebal. Tergeletak beberapa batu karang lumayan besar yang tertutup lumut separuh.
Enam pemuda datang beberapa saat sebelum senja. Sejak pertama mereka ragu melangkah masuk ke gubuk. Mereka datang karena mendapatkan surat. Pada alamat asalnya tercantum : Pak Tua, sebuah desa dekat lembah dengan danau yang selalu berkabut.
Sapaan dengan suara rendah dan santun kakek berbaju kelabu seakan-akan memaksa mereka masuk. Walau telah cukup jauh datang namun mereka tetap enggan untuk masuk.
“Masuk masuk”, sapaan kakek memecah keengganan mereka. Wajahnya cerah nampak berumur. Kerut-kerutan wajahnya menunjukkan pengalaman asam garam.
“Maaf Pak Tua, apakah benar ada surat oleh bapak ?”, Kata pemuda berbaju magenta. Perkataannya perlahan tampak menjaga agar tetap tenang.
“Betul anak muda, aku yang mengundang kau dan mereka, masuk-masuk.” Kata kakek tua. “Ayo masuklah, ada teh hangat, kacang dan ketela rebus panenan kebun untuk sahabat-sahabat semua, ayo”. Suasana tak seburam sebelumnya. Bapak tua menyambut hangat melegakan.
Mereka melangkah masuk satu-satu, pemuda berambut lurus, pemuda berbaju magenta, pemuda berambut sebahu, pemuda bercelana pendek, pemuda gemuk berwajah bulat dan terbelakang adalah pemuda dengan ransel merah yang masuk.
Termakan umur dan renta menerjang jaman gubuk tua tetap tegak menantang deru debu yang datang bertahun tahun searah lembah. Perabotannya sudah layak separuhnya lapuk. Tentu warnanya telah pudar sejak lama. Sama dengan tehel buram berwarna merah pudar menutup jejak-jejak kasar yang pernah datang dan keluar. Plester dengan cat terkelupas pada banyak tempat merusak latar pemandangan alam belakang gubuk.
Pemuda bercelana pendek dan pemuda berambut sebahu menatap gambar cat kanvas pemandangan yang tergantung. Tentang pemburu yang membawa senjata laras panjang dengan beruang, macan tutul dan menjangan buruannya tewas tergeletak. Sedangkan elang berparuh krem terang bertengger pundaknya. Betul-betul serupa dan nyata. Dekatnya tergantung sebuah tulang kepala rusa lengkap dengan dua tanduk menjulangnya.
Percakapan berlanjut. Perkenalan satu-satu, bercakap tentang maksud dan tujuan sebenarnya. Kakek tua menunjukkan sebuah buku tua yang bersampul merah delima terbungkus rajutan bulu hewan. Sampulnya nampak sangat tua.
Kakek tua berkata, “Berbulan lalu aku temukan sebuah buku tua dalam bufet lapuk yang tergeletak rusak dekat puncak menara. Dalamnya tentang legenda anak-anak pahlawan. Anehnya, ada alamat anda pada halaman pamungkas: kepada Para Pemuda, kampung cempaka dekat stasiun kereta senja” lanjut kakek tua.
“Kenapa ada alamat pada halaman belakangnya, Pak?, kata salah satu pemuda gemuk yang berwajah bulat. Mereka heran apa alasannya.
“Saya sudah bertanya-tanya ada apa sebenarnya” kata kakek tua. “Namun tetap saja semacam sayembara yang sukar terpecahkan” lanjutnya.
Keheranan para pemuda bertambah. Mereka berkasak kusuk mempertanyakan ada apa sebenarnya. “Maka kau bawa saja buku tersebut, cobalah saja bawa ke perpustakaan terhebat punya negara, naga-naganya mereka tahu ada apa kandungannya” ungkap bapak tua.
Satu-satu mereka menatap buku yang bersampul merah tersebut. Mereka buka, pemuda berambut sebahu menatap lembaran dan lembarannya. Aneh memang, tak satunya tahu apa kandungannya.
“Sebentar anak muda, aku ke dapur dulu, ayo makan saja semuanya “, kata kakek kepada para pemuda seraya melepas tumpuannya pada bangku kayu lalu beranjak ke belakang.
Bahasanyapun mereka tak paham, huruf yang tercantum tak pernah mereka temukan sebelumnya. “Kenapa kakek tua tersebut tahu tentang legenda anak-anak pahlawan?”, kata pemuda dengan ransel merah. “Entahlah, akupun tak tau, jangan2 semua hanya karangannya saja”, pemuda berambut lurus menjawab, “atau sebenarnya ada maksud jahat” lanjutnya.
Setengah jam kakek tua tak datang juga, lenyap tanpa bekas. Mereka sudah gusar lalu sesaat keadaan berubah senyap. Gelas teh segera saja berembun dan uap kacang memudar sejak tengah-tengah pertemuan. Lampu menyala temaram dengan suara “tengggggggg …. tengggggggg …. tenggggggg”, serupa dengan suara ngengat berputar putar.
Tanpa aba-aba mereka secepatnya keluar gubuk tua berjalan tergesa menuju dua kendaraan yang sebelumnya membawa mereka datang. Bergegas pulang keheranan bercampur takut dengan membawa buku tua yang tak mereka paham. Kendaraan segera melaju kencang, debu berterbangan bak jutaan kunang-kunang.
Lamat-lamat pada kejauhan tampak kakek tua bergegas keluar semak-semak menuju dermaga. Sebuah kapal telah menunggunya sejak subuh. Sekejap mata kakek sudah berada dalam palka kapal, memegang kayu pembatas lalu berucap :
“Tugasku hanya mengantarkan kepada mereka, selanjutnya terserah kau..”
Bujangan bertubuh kekar yang membawa kapal tersenyum penuh makna. Telapak tangan kanan terkepal bergemeretak. Kapal segera melaju kencang ke arah surya yang tenggelam tuntas.
Samarendah, bulan satu tahun enam belas
