Tukang Sapu

A very short story by hilmimuhammad

Suara gesekan sapu lidi dengan aspal setia menemani lelaki itu bekerja. “Srek…sreek…sreeek” seperti alunan musik merdu. Denting kerikil dan baut yang terbentur kaleng bekas seperti piano dimainkan prelude e minor. Klakson mobil seperti terompet orkestra klasik.

Sudah 15 tahun lelaki itu bekerja menjadi penyapu jalan. Mulai selepas tengah malam sampai lepas matahari terbit sempurna. Istirahat saat subuh dan melepas dingin dengan segelas kopi. Begitu rutinitas setiap hari, setiap minggu, bulan.

Dahulu, sebelum bekerja sebagai penyapu jalan ia hanya lelaki pengangguran putus harapan. Puluhan lamaran pekerjaan ia kirim namun hasilnya nihil. Sulit sekali mencari pekerjaan. “Ekonomi sedang pahit, Pak. Kami tak butuh tambahan tenaga”, alasan banyak perusahaan.

Hingga suatu siang saat berjalan kaki sepulang dari interview -yang hanya untuk menolaknya- ia melihat lembaran koran bekas. Dipojok kiri bawah tertulis lowongan menjadi penyapu jalan. Persyaratannya : “Mau bekerja sebagai penyapu jalan dari jam 12 malam sampai jam 8 pagi”. Sejak saat itu ia menjadi petugas penyapu jalan.

Banyak benda pernah ia temukan sepanjang menyapu jalan. Dompet, kunci, sekrup, mur, uang receh, uang kertas, kartu hotel, topi, sepatu anak-anak, dan paku berbagai jenis. Ada paku payung, paku triplek, paku baja, paku kayu ukuran kecil hingga paku seukuran jari kelingking dewasa, sering sekali ada.

Awalnya lelaki penyapu itu heran mengapa banyak paku dijalanan. Ia tidak tahu jawabannya sampai suatu waktu beberapa orang mengitimidasinya. “Sudah ! Jangan lagi kau pungut paku-paku itu!! Kampret !!! Awas, lain kali kulihat kau pungut ku hajar sampai kau tak bangun !!!!”, kata salah satunya dengan pandangan penuh kebencian. Mereka adalah sindikat penebar paku. Namun ia tak bergeming dari pekerjaannya, tak peduli teror lelaki penyapu itu terus bekerja setiap hari, setiap minggu, bulan dan tahun.

Sekali ia hampir diserempet oleh pengendara mobil. Mobil sedan hitam mengkilat melaju seperti kerasukan menyalip mobil lain dari sebelah kiri. Lelaki itu jatuh terhempas oleh kencangnya angin. Untung ia tak luka sama sekali. Jika beberapa centimeter saja ia berdiri agak ke tengah jalan niscaya akan ditabrak dengan sangat keras. Tuhan masih menyayangi lelaki penyapu itu.

Pernah juga ia dimaki oleh preman kampung yang sedang mabuk-mabukan dipertigaan jalan. Mereka terganggu oleh suara kaleng yang disapunya. Ia didatangi dan dimaki, lelaki itu hanya diam dan menatap tajam. Preman lain yang belum mabuk mencoba melerai. “Bro, ngapain lu urusin tuh cecunguk sapu lidi, biarin aja, ni minumanmu keburu dingin”, sambil menyodorkan botol dengan bau menyengat.

Tukang sapu itu pernah ditawari pekerjaan lain dengan gaji lebih besar. Namun ia tidak pernah berpikiran meninggalkan pekerjaan sebagai penyapu jalan. Ia mencintai sepenuh hati pekerjaannya.

Bagi dia gaji yang diterima selama ini sudah cukup. Ia sudah bisa hidup dengan nyaman. Ia tidak perlu listrik di rumah. Ia bisa memakai lampu dari minyak kelapa . Toh, halaman rumah terang benderang oleh lampu penerang jalanan yang berdiri diatas tiang tinggi. Jika pintu depan dibuka cahayanya menerangi hampir ke seluruh isi rumah.

Hari bulan tahun berjalan. Ia terus bekerja. Mengulang rutinitas yang sama setiap musim. Hingga suatu ketika lelaki itu didatangi oleh beberapa pria. Mereka mengabarkan jika pemerintah akan memberinya penghargaan atas pengabdiannya bertahun-tahun.

“Saya tidak pantas pake jas pak, jas untuk orang kaya. Saya baju seragam kuning ini saja cukup” katanya ketika seseorang mengatakan bahwa ia harus memakai jas pada acara pemberian penghargaan. “Tapi pak, ini hanya untuk acara malam penghargaan saja, hanya sebentar koq“, seseorang itu berkilah. “Akan datang banyak pejabat, orang penting dan wartawan dari penjuru negeri, bapak pakai jas sebentar saja karena ini acara resmi”, kata seseorang yang lain.

Lelaki itu tetap berusaha menolak. Namun akhirnya dengan bujuk rayu dan berbagai alasan dia terpaksa mau memakai jas untuk acara penghargaan. Maka didatangkan pembuat jas terbaik di kota dengan bahan terbaik yang ada. Dasinya terbuat dari sutera warna kuning.

Ketika malam penghargaan tiba ia dijemput dengan mobil sedan oleh para panitia. Mobil sedan persis seperti yang hampir menyerempetnya dulu. Sedan berwarna hitam mengkilat dengan lampu merah menyala.

Banyak orang penting dan pejabat yang hadir. Diiringi musik menggelegar memekakkan telinga. Ia merasa tidak nyaman, gerah, bising dimana-mana dengan bau parfum menyengat. Mereka tertawa terbahak oleh sebab yang tidak bisa ia pahami. Bising sampai berdenging, semakin lama semakin membuatnya seperti sendiri. Menjauh lalu perlahan semua menjadi sepi, hanya terdengar “srek..sreek…sreeek” suara sapu lidi yang bergesekan dengan aspal. Merdu bercampur semilir angin malam.

“Ayo makan, Pak” suara dari seseorang dari samping tiba-tiba membelah lamunannya. Seseorang itu berdiri mendahului menuju barisan makanan diatas meja.

Makanan yang entah apa namanya ada di depan lelaki itu. Ia tak bisa mengenali makanan apapun kecuali nasi putih yang masih mengepul dan kerupuk di toples besar tanpa tutup.

Koq makannya hanya nasi kerupuk, Pak? ” tanya seseorang lagi. “Iya Pak, gak apa apa, saya cukup ini saja”.

Jam 12 malam. Pesta penghargaan belum selesai. Mereka masih asyik terbahak oleh sebab yang tidak bisa ia pahami. “Sudah saatnya aku bekerja” guman lelaki itu. Tanpa berpamitan ia bergegas keluar menghilang dalam kegelapan malam. Piagam dan medali penghargaan tergeletak begitu saja di pelataran gedung.

Sejak itu setiap selepas tengah malam hingga lepas matahari terbit sempurna selalu tampak seorang tukang sapu berbaju jas lengkap dengan dasi kuning sutera. Menyusuri jalanan utama, jalan di tepian sungai sampai jalan sepi di lereng pegunungan.

Samarendah, 28 Desember 2015

image

Tinggalkan komentar