Tukang Ikan dan Tiga Ekor Kucing

A very short story by hilmimuhammad

Setiap pagi pukul setengah tujuh ia datang tepat di seberang warung kelontong. Sepeda motor bebek empat silinder miliknya sudah lama lusuh namun tidak berbau amis meskipun sehari-hari menemani mengangkut ikan dagangan dari tempat pelelangan berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya.

Pukul tiga dinihari, Paklek sudah beranjak dari tempat tidur. Ditinggalkan anak perempuannya berusia sekitar empat tahun terlelap mendekap boneka beruang coklat muda. Istrinya selalu lebih dulu bangun, memanaskan air dengan ceret kecil berwarna perak lalu membuatkan secangkir kopi tanpa gula.

Ikan yang diambil paklek dari tempat pelelangan tidak terlalu beragam. Hanya beberapa kakap merah berukuran sedang, tongkol, ekor kuning, kembung, trekulu dan udang.

Terkadang ada pesenan khusus dari ibu-ibu. “Paklek, besok bawain cumi-cumi 3 kilo ya, aku mau buat calamari goreng untuk acara arisan, cariin yang gak terlalu kecil, tapi jangan yang gede. Pastiin masih segar gak pake freezer segala, yang baru datang dari laut, aku gak mau lo kalo gak seger dan gak murah”, begitu percakapan terakhir mereka sehari sebelumnya. “Siyaaap, Bu”, selalu itu jawabannya, sampai-sampai banyak ibu pelanggan yang menjulukinya “Paklek Siap”.

Lama sebelum ia datang, bahkan ketika orang pertama belum melewati jalanan menuju masjid di ujung gang, seekor kucing berwarna kuning dengan beberapa garis putih duduk mendekat diteras dekatnya berhenti. Terkadang dijilatnya punggung kaki lalu dieluskan ke muka. Berulangkali. Tak ada yang tahu dari mana asal kucing itu.

Paklek menyandarkan motornya dengan penyangga tambahan terbuat dari kayu yang ujungnya berbentuk cekungan seperti huruf “V”. Dibuatnya sendiri untuk memastikan motor yang membawa barang dagangannya berdiri tegak dengan beban keranjang kiri dan kanan.

Kucing gemuk berwarna abu tiba-tiba saja sudah meringkuk dibawah keranjang gerobak sebelah kanan. Kedua kaki depan rapat rata di dada, dengan pandangan santai tidak ada kesan siaga sama sekali. Tidak seperti mata kucing yang mengincar mangsa.

Abu sangat yakin akan dapat makanan lezat dari paklek penjual ikan seperti biasanya. Bahkan tikus gemuk yang sesekali berlarian melewati got tidak dipedulikan. Bisa jadi Abu jijik memakannya. Bagaimana tidak, tikus got menghabiskan sepanjang usianya diseputaran lubang-lubang got. Lahir, bermain, dewasa dan beranak pinak lagi disana.

Sejak mengenal ikan paklek sepertinya Abu kehilangan selera terhadap tikus. Hanya sesekali saja Abu makan tikus. Terakhir sebulan lalu Abu terlihat memangsa tikus rumah yang terjatuh dari plafon beberapa meter didepan moncongnya, secara reflek Abu menyambar gumpalan daging hidup berbulu itu. Menggigitnya. Tikus memberontak kencang tapi malah membuat gigitan Abu makin kencang. Tidak lama berselang Abu kembali meringkuk menyisakan potongan ekor, kepala dan kulit tikus. Tanpa ekspresi.

Beberapa ibu mulai membuka pintu rumahnya, mengambil sandal dan berjalan menuju penjual ikan itu. Setiap pagi paklek menjadi idola ibu-ibu. Ibu tua yang kenyang pengalamanan rumah tangga, ibu paruh baya yang ditinggal suami sampai ibu muda yang baru beberapa bulan menikah semua mengidolakan paklek.

Untuk lauk ikan mereka bergantung kepada paklek Siap. Jika hendak membeli sayuran maka ibu-ibu cukup berjalan menuju warung kecil dekat masjid. Disana selalu siap sayuran lengkap dengan tahu tempe dan telur ayam ras. Mereka kurang mengidolakan tahu tempe. Sayup mereka bergosip jika rasanya tidak sip, entah karena kualitas kedelainya atau karena cara membuatnya yang kurang baik.

Suami dan anak-anak mereka menyukai masakan ikan yang dibeli dari paklek. Selalu segar, begitu kira-kira ungkapan para suami. Paklek memang punya langganan penjual dipelelangan ikan. Ia selalu kulakan dari penjual itu saja. Penjual yang selalu mengambil dari nelayan langganannya, yang selalu melaut pada jam dimana ikan-ikan terbaik keluar dari rumponnya.

Nelayan yang selalu pulang begitu mendapatkan ikan-ikan terbaik. Tidak berusaha mendapatkan ikan lebih banyak namun dengan kualitas rendah.Nelayan yang selalu pulang setelah mendapat ikan terbaik sebanyak biasanya saja. Membawanya sesegera mungkin ke tempat pelelangan ikan lalu dibawa paklek untuk dijual.

Kucing hitam legam berjalan hati-hati. Melangkah sedikit lalu mengibaskan kakinya satu satu. Jalanan penuh lumpur membuat malas sesiapa saja yang melalui. Sejak dulu daerah sini memang tergenang air satu dua jam jika turun hujan lalu perlahan berangsur surut menyisakan genangan lumpur diatas jalan cor.

Hitam berjalan perlahan. Pandangannya mendahului menyusuri jalanan seperti sedang merumuskan pola matematis terbaik untuk melewati jalan lumpur sekering mungkin. Melangkah hati-hati kemudian mengibaskan kakinya, depan dan belakang bergantian.

Lembayung langit sudah lama hilang berbeda tipis dengan datangnya Kuning. Secarik sinar matahari turun melewati sela-sela rumah kayu kearah punggung paklek Siap yang mulai berkeringat. Satu persatu ibu-ibu mulai kumpul disekeliling paklek.

“Palek, setengah kilo kembung aja”, ibu berperawakan gemuk dengan daster hijau pendek. “Siap, Bu”, kata paklek dengan sigap mengambil beberapa ekor ikan kembung, meletakkannya di atas timbangan, menukar kembali dengan ikan kembung yang lain untuk mendapatkan kombinasi setengah kilo paling pas yang tidak merugikan pembeli dan dirinya.

Ikan kembung diletakkan satu persatu ke atas telenan yang terbuat dari kayu coklat muda. Paklek mulai menyiangi ikan. Ketiga kucing mulai mendekat lalu duduk dengan posisi seragam. Duduk dengan kaki belakang sementara kaki depan lurus hampir menempel dengan badan tegak. Sisik, insang, isi usus dan potongan sirip oleh paklek biasanya menjadi jatah santapan lezat ketiganya.

Setiap pagi, seminggu, berbulan bulan sudah begitu, sejak badan Hitam dan Abu kurus kering seperti pasien TBC yang belum mendapat pengobatan intensif hingga terlihat sekarang yang menggemaskan siapa saja.

Kuning bukanlah penikmat sarapan lezat dari paklek sejak dulu. Kuning baru sebulan dua bulan ini bergabung. Dulu sebelum Kuning ada kucing berwarna tiga. Namun suatu pagi hari -jauh sebelum jalanan ramai- Kuning sudah mendekam tepat di posisi dimana kucing tiga warna biasa berada. Kemana perginya Belang tidak ada yang tahu pasti, misterius semisterius datangnya Kuning.

Ada yang bilang Belang sudah diadopsi oleh mahasiswa yang mengotrak di kamar kos gang depan bersamaan dengan kepindahannya yang entah kemana. Ada pula yang bilang Belang bosan dengan menu ikan maka memutuskan untuk pergi ketempat lain. Ada yang bilang Belang dikalahkan Kuning dalam sebuah pertarungan sengit tepat selepas tengah malam berjam-jam hingga menjelang subuh.

Sudah pembeli keempat membawa pergi ikan dagangan paklek. Sisa ikan semakin menumpuk di dalam cawan plastik. Belum ada tanda-tanda akan diberikan kepada ketiga kucing. Matahari semakin terik. Secarik sinar samar tadi sudah berubah menjadi terik yang menghangatkan sekujur tubuh paklek sampai membentuk bayangan didinding toko kelontong seberang jalan yang masih belum buka. Butiran keringat menetes dari dahinya.

Pembeli terakhir adalah ibu muda yang datang tergopoh-gopoh.
“Paklek, masih punya ikan apa?”, katanya. “Cuman ada ekor kuning sekilo kurang dikit, Bu”, Paklek membuka tutup kotak sebelah kiri. Didalammya terbagi menjadi 3 kotak kecil. Semua kosong kecuali kotak kecil berisi beberapa ikan ekor kuning berukuran wajar. “Ya udah deh aku ambil, bersihin sekalian ya”. Dengan sigap paklek mengambil porsi terakhir dagangan hari ini. Ditimbangnya semua lalu dipindahkan satu persatu ke atas telenan untuk disiangi.

Paklek Siap akan beranjak pergi, disimpunnya pisau dan telenan. Semua potongan sisa ikan, insang, isi perut ikan belanjaan pelanggannya ke dalam kantung kresek biru muda. Diambilnya ember kecil, mengambil air dari selokan untuk menyirami bekas jejak kaki pembeli dan siangan ikan yang jatuh. Tapi nihil.

Standar kayu sudah ia ambil kembali dan diselipkan diantara dua keranjang. Semua sudah beres. Paklek stater motornya pulang kembali ke rumah.

Ketiga ekor kucing tadi memandangi kresek biru muda dimotor paklek yang berlalu. Tanpa bersuara mereka mulai berpencaran ke rumah berteras kayu, warung kelontong dan rumah besar bercat merah diseberang jalan.

Aku kembali menyeruput separuh cangkir kopi papua arabika pahit yang sudah mulai kehilangan hangatnya. Ditemani keriuhan suara anak-anak berseragam putih merah berlarian masuk kelas persis sebelah rumah.

Jogjakarta – Samarendah, 27 Desember 2015

image

Tinggalkan komentar