Ayahku itu dokter dan tukang sulap

Suatu sore sepulang dari rumah sakit aku mendengar anakku berbincang dengan sepupu-sepupunya dan eyang putri. Isi perbincangan sore itu mengenai pekerjaan orangtua masing masing. Tentu saja dikemas dengan bahasa kanak-kanak.

Ketika sampai giliran Ahmadhilla, begitu nama putri saya, dengan lantang dia berkata bahwa ayahnya adalah seorang dokter bedah tulang dan……..tukang sulap. Eyang putri tertawa mendengarnya.

Seperti itulah pandangan dia tentang ayahnya. Sebagai dokter dan juga tukang sulap. Tentu bukan tukang sulap profesional atau amatir sekalipun. Trik sulap sederhana yang bisa dikatakan trik sulap layak tampil pun tidak ada satupun saya kuasai.

Sejak kecil memang dia senang sekali jika kami bermain “sulap”. Menghilangkan benda kecil dari genggaman tangan, menggantinya dengan benda lain, mengembalikan ke benda semula, menghilangkan jari dan beberapa permainan lain.

Masing-masing ayah punya cara spesial bermain bersama anak. Demikian pula dengan kami, bermain lego, membaca koleksi bukunya, berpetualang menyusuri sawah, bermain di tepian sungai progo depan desa kami, memberi makan ayam ketawa miliknya, berenang dan berbagai permainan ala kami.

image

Apapun bentuknya, kedekatan antara ayah dan anak wajib dibangun sesuai cara kita sendiri. Hingga tadi pagi dia masih saja bangga bercerita kepada eyang putri bahwa ayahnya adalah dokter bedah tulang………………….dan tukang sulap.

Yogyakarta, Januari 2015

Tinggalkan komentar