Pagi itu baru menunjukkan pukul 6 pagi namun bangsal perawatan telah ramai dengan kami para residen Orthopedi yang mempersiapkan visite besar dengan profesor kami. Bunga tengah asyik menulis dibuku kecil merah muda miliknya dengan pensil 2b hijau yang tinggal sepanjang tiga buku jari. Sibuk sekali tampaknya ia sesibuk residen bedah orthopedi disampingku menulis follow up catatan perawatan pasien hari ini. Anggap saja ia adalah bunga, seorang anak perempuan sekitar 7 tahunan yang saya jumpai di bangsal perawatan kelas 3 salah satu rumah sakit di Negeri Nusantara.
Senyum simpul tersungging di ujung bibirnya sambil tak berkedip memandang tulisan dibuku merah mudanya itu. Dua baris dari urutan terbawah telah selesai dia isi. “Mak, lihat ini, sudah hampir selesai” begitu ujarnya, tak begitu terdengar jelas karena bangsal telah penuh dengan lalu lalang kami, para dokter, perawat, keluarga pasien, dan seorang wanita penjual nasi bubur keliling “iyo nduk, apik, rampungke yo” (iya nak, bagus, diselesaikan ya) Begitu jawab emaknya yg duduk disebelah bed pasien.
Aku sempatkan sekilas melihat apa yang ditulis bunga, 11×12=14; 3×5=8; 5×8= 11; 1×3=4. Begitu tertulis mulai dari beberapa halaman sebelumnya hingga keujung dua baris terbawah halaman merah muda pudar itu.
Aku tersenyum ketika ia menatap mataku, “adek kelas berapa?” tanyaku cepat. “satu” jawabnya amar, pelan sekali. “oo, kelas 1 smp ya”. Ibunya memotong “kelas 1 sd pak dokter, masak smp”. Bunga hanya menunduk sambil kembali asyik menulis. “hehe, iya bu, kelas satu sd” jawabku tersenyum. “adek gak sekolah?” tanyaku kembali…ia tidak menjawab, hanya gelengan kepalanya yang mengatakan bahwa ia memang tidak sekolah. “libur pak dokter, ia menunggu bapaknya dirumah sakit, kalo ayahnya belum pulang ia juga ndak mau pulang, ia sayang sama ayahnya pak dokter”. Aku tersenyum kembali, “sudah berapa lama ayahnya di bangsal ini bu?”. “Dua bulan lebih pak dokter”.
Ayahnya seorang lelaki usia 35-an, bermata sayu dengan kulit kasar, badannya kurus, mungkin karena 2 bulan ini harus berbaring di rumah sakit, namun sisa-sisa badan yang tegap masih tampak, menunjukkan bahawa pekerjaannya demikian berat untuk menghidupi istri dan puteri kesayangannya. Istrinya bercerita dua bulan lalu ia mengalami kecelakaan saat bekerja diproyek, ketika tungkai bawah kirinya tertimpa besi yang meremukkan tulang tibia fibula disertai luka yang luas, dokter orthopaedi disini mengupayakan pengobatan terbaik, mereka melakukan beberapa kali operasi debridemen luka,pemasangan eksternal fiksasi dan terakhir dua hari lalu mereka melakukan tindakan latissimus dorsi flap. Iba melihatnya menderita sedemikian, pandangannya yang nanar aku interpretasikan sebagai penyesalan mendalam karena membuat istri tercinta dan puteri kesayangnnya menderita, menungguinya disini berbulan-bulan.
Rasa sakit yg dirasakan tidaklah seperih hatinya yang mendalam karena tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, dua bulan ini ia tak mampu bekerja dan pastinya masih berbulan kedepanpun demikian. Pandangannya kosong menatap rangkaian eksternal fiksasi yang meliput tungkai bawahnya, sebagian terbungkus perban elastik (elastic bandage) berwarna coklat yang sedikit longgar.
Bekerja menjadi tulang punggung keluarga adalah bagian dari kewajibannya terhadap keluarga. Apapun ia lakukan demi menghidupi keluarganya, istri dan putri kesayangannya. Bunga begitu lincah melihatnya setiap pulang kerja lalu mengajaknya bermain. Persis seperti anak perempuanku, Ahmadhilla, senangnya ia ketika melihatku pulang dari rumah sakit. Sejak kecil tingkahlakunya demikian, bahkan jika istriku berbarengan pulang kantor maka yang dihampirinya lebih dulu adalah aku. Usianya yg beranjak mengerti seringkali melayangkan protes kecil mengapa aku sering terlambat pulang, tidak pulang bahkan jika sedang jaga Emergency Room atau ada operaai hingga hari larut. Hampir setahun terakhir ia sering berbulan aku tinggal demi menyelesaikan jenjang akhir pendidikan dokter spesialis. Penugasan wajib kerja sarjana di pelosok negeri tercinta.
“Ayah, kenapa koq ayah pengen jadi dokter?” tanyanya suatu sore sambil makan nasi goreng yang kami buat berdua. “karena ayah ingin menolong orang”. “kenapa koq gak jadi guru aja, atau polisi?”. Aku tersenyum, sambil menjelaskan kembali dengan bahasa yang ia mengerti. Inilah bentuk protes dirinya padaku. But, this is my passion, to help others when they needed the most, berusaha seoptimal mungkin dengan keilmuan yang dipelajari bertahun-tahun mengembalikan senyuman pasien-pasien kami, seperti apa yang dilakukan sejawat dokter di rumah sakit ini terhadap ayahnya bunga. Meskipun itu butuh waktu yang panjang.
Rambutnya tampak kusut dibalik tutup kepala yang hampir terlepas, tangannya bergerak kesana kemari merapihkan barang-barang disebelah kiri kanan bed (ranjang pesakitan) pasien. Ember hitam kecil berisi sampo sachet, sabun cuci sachet, sikat gigi yg sudah bengkok ujung serabutnya dan sabun batangan seukuran genggaman bayi yang sudah lebih kecil separuh dirapihkannya. Kemudian ia rapikan letak tas besar berisi baju yg tidak disetrika. Karpet berwarna cokelat tipis disusunnya bersebelahan dibawah bed tadi. Sendok gelas dan beberapa piring kusam diletakkannya di sisi rak kecil tempat biasanya ompreng wadah makan jatah rumah sakit.
Bunga dan ibunya tidur di karpet tipis yang aku belum pernah melihatnya, namun terbayang betapa susahnya mereka tidur dibawah bed pesakitan ayah tercinta, betapa susahnya meraih kata nyenyak dengan tidur dikarpet tipis itu. Apalagi sering terasa udara dingin dari sela pintu yg terbuka untuk keluar masuk keluarga pasien, perawat dan dokter jaga yang sekali dua datang melakukan pemantauan pasien dengan kondisi kurang baik.
“Bukunya dibawa gak?” Tanyaku kemudian. “Gak bawa buku pak dokter, buku pelajarannya tertinggal dirumah, hanya buku tulis itu dan dusgrip (tempat alat tulis) yg kebawa” kata ibunya. Tetep rajin belajar ya nak, tidak masalah salah, yang penting tetap belajar. Kewajiban belajar adalah fitrah bagi seluruh manusia, perintah Tuhan yang pertama juga berisi tentang perintah belajar.
Demikan dengan kami para dokter, mewajibkan diri untuk long life learning. Kami mewajibkan diri kami untuk selalu menuntut ilmu, selalu merasa kurang sehingga kami merasa tertantang untuk mencari dan memperbaharui keilmuan kami. Supaya kami bisa memberikan penangan yang terbaik untuk pasien kami.
Demi mengusahakan penanganan terbaik buat pasien kami menuntut diri kami untuk senantiasa memperbaharui keilmuan, kami mengenal adanya pertemuan ilmiah setiap setahun Continue Orthopaedic Education, merupakan pertemuan ilmiah tahunan yg diselenggarakan untuk kami mendengarkan kuliah para ahli dibidang masing-masing untuk me-refresh keilmuan kami, untuk memperbaharui dan menambahkannya dengan hasil penelitian terkini dan yang terbaik untuk diaplikasikan kepada pasien. Belum lagi pertemuan subspesialis dari berbagai sub keilmuan yang juga dilaksanakan setiap tahun, jika diikuti mungkin hampir setiap bulan ada pertemuan ilmiah sebagai bentuk dari long life learning kami.
………………………………………………………..
Seminggu berlalu, kembali pagi tadi aku berjumpa dengan bunga, anggap saja namanya demikian. Obrolan kecil saja, dari sekian keriuhan visite besar para dokter residen dan profesornya. Diluar dari orientasi belajarku dalam acara visite besar ini aku tersenyum padanya, ia tersenyum sambil membuang muka kearah jam dinding dan berkata pada emaknya “mak , wis jam piro iki”..(mak, sudah jam berapa sekarang ini). “hayo jam berapa?”tukasku. “jam wolu to mak?” (jam delapan mak) katanya. Si emak tak menggerakkan bola mata ygang terpaku pada kegiatannya pagi itu menyeka badan suami terrcinta. Jam menunjukkan pukul tujuh dua lima, sedikit kurang dari setengah delapan.
“Jenengmu sopo nduk”(namamu siapa) aku berjongkok di sebelahnya membuka pertanyaan. Dalam obrolan singkat itu aku ketahui bahwa namanya adalah Tya,entah nama lengkapnya siapa, bisa jadi hanya Tya. Ayahnya bekerja sebagai pembantu tukang bangunan, bukan sebagai tukangnya tapi ia hanya membantu saja, ibunya wanita sederhana, ibu rumah tangga, mereka berdua tidak pernah mengenyam sekolah. Tya, begitu ternyata nama asli anak yang selama ini aku anggap sebagai bunga, baru saja beberapa bulan bersekolah SD kelas satu. Ia tidak TK, dan tidak pula diajari oleh kedua orang tuanya.
“Boten ngertos niku dok le sinau seking pundi” (gak tau itu dok belajarnya dari mana) kata ibunya sambil menyeka bagian punggung suaminya yg berwajah hampa sedikit anemis. Beberapa bulan bersekolah dan tiba tiba suatu hari ayahnya tertimpa musibah yang menyebabnya harus pergi bersama ayah dan emaknya mencari kesembuhan buat ayah. Sudah tiga bulan lewat ia berada dirumah sakit ini, lebih lama dari waktu dia di sekolah. Terbayang betapa sedihnya ia kehilangan waktu belajar di sekolah dan betapa sedihnya ia menghabiskan waktu dibangsal perawatan kelas 3 rumah sakit ini.
Pagi tadi sesaat sebelum aku meninggalkan bangsal dirumah sakit ini untuk terakhir kalinya, aku memberikan bingkisan kecil untuk Tya yang berisi pensil 2b warna hijau, buku pelajaran SD kelas satu dan sebuah buku cerita. Sama seperti yang dipunyai oleh puteri kecilku di rumah.
Aku tidak menengok wajahnya, emaknya atau ayahnya. Cukup bagiku membayangkan kebahagiaan membuka bingkisan kecil itu bertiga. Sepanjang perjalanan aku tersenyum sendiri, ingin segera pulang bertemu putri kecilku yang terpisah beberapa ratus kilometer dari tempat ini.
Indonesia, Oktober 2014
