Tibalah kita dihari yang tidak biasa. Tanpa terasa kita sudah melampaui akhir ramadhan tahun ini. Tiba pada fase perpisahan dengan bulan yang penuh berkah. Di bulan ramadhan kita umat islam diberi kesempatan seluas luasnya untuk beramal, mengintrospeksi diri dan mengendalikan diri. Puasa juga perangkat pembelajaran untuk menajamkan mata batin kehidupan sosial. Memahami bagaimana susahnya lapar yang menjadi makanan sehari hari kaum dhuafa. Kita dipaksa untuk tidak melakukan hal yang biasa kita lakukan, makan di pagi dan atau siang hari. Dipaksa untuk melakukan yang tidak biasa kita lakukan, makan disepertiga terakhir malam. Waktu yang menurut ukuran manusia tidak wajar untuk menyantap telur ceplok dengan oseng buncis atau rendang daging daun singkong, bacem tahu dan sayur bening. Kita kembali kesekian kalinya ditempa untuk menurunkan ambang batas kepekaan terhadap penderitaan sesama.
Tidak terhitung orang-orang yang mengupas mukjizat puasa dan bulan ramadhan. Mulai dari sudut pandang syariah, filosofis, ekonomi makro mikro, bisnis dan enterpreneurship, psikologis, sosiokultural, hingga medis baik oleh ilmuwan dari barat, timur dekat, timur jauh, selatan (afrika), muslim maupun non muslim. Memang begitulah seharusnya, pembahasan tentang kemukjizatan puasa dan Ramadhan tidak akan pernah berhenti hingga berakhirnya zaman. Selalu saja ada pertanyaan untuk kita renungkan. Pertanyaan adalah prinsip dasar dalam ilmu pengetahuan. Namun sesungguhnya rasionalitas yang dalam disiplin keilmuan kita sangat dibangga-banggakan tidaklah cukup untuk menjelaskan agama islam.
Tentu anda sudah mempraktekkan banyak cara untuk mengisi bulan berkah ini supaya tidak sia-sia. Memaknai bahwa puasa tidak hanya menahan lapas dahaga.
Semoga pikiran anda tidak melulu terjebak pada perseteruan tentang sholat tarawih 11 atau 23 rakaat dengan dua-dua atau empat-empat. Masing masing mereka punya dasar yang diyakini. Terlalu sia-sia jika energi sebegitu banyak dicurahkan untuk mengurusi persoalan furu’iyah. Masih banyak persoalan yang lebih penting untuk diselesaikan. Persoalan yang diperdebatkan itu persoalan dan amalan sunnah, sedangkan persatuan adalah wajib, maka wajib mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah.
Kumandang takbir tahun ini terasa berbeda sekali. Masing masing punya pandangan sendiri terhadap perbedaan yang saya maksud. Sebagian merayakannya dengan orang tercinta, sebagian merayakan tanpa orang yang sangat dicintai yang mendahului menghadap Tuhan. Sebagian merasakan kebebasan setelah selesai menjalani pendidikan yang melelahkan. Sebagian tidak rela berpisah dengan ramadhon, rindu keheningan malam malam ber-kholwat (berdua-duaan) dengan Tuhan. Semoga tidak ada sebagian yang merasakan kenyataan bahwa ramadhan tahun ini justru lebih tidak bermakna dibanding ramadhan sebelumnya.
Profesi kita kata banyak orang adalah profesi yang sarat akan kesempatan untuk berbuat baik, kita sangat berkesempatan untuk menambah pundi pundi amaliyah yang darinya akan menjadi istana dan kebun surga. Bukan tidak mungkin juga kesempatan itu akan terhapus begitu saja karena niat yang tidak benar. Sesungguhnya pundi mana yang akan kita tambah bergantung kepada niat awal. Sesibuk apapun kita mengejar dunia pastikanlah bahwa hati kita terpenuhi hak-haknya untuk mengingat Sang Pencipta, dengan berbagai metode pendekatan tentunya. Dunia tak akan pernah habis untuk dikejar. Memuaskan nafsu bagai menambahkan segelas air sirup di lautan, tidak akan menambah atau merubah apapun dari lautan itu.
Kecukupan memang penting, namun bukan berarti segalanya. Kelimpahan memang sangat didamba, namun bukan berarti menafikan kesenangan bercengkrama dengan Pencipta. Dihari yang penuh keberkahan ini mari kita berhenti sejenak sebelum semua terlalu jauh.
Mohon maaf atas segala khilaf lahir dan bathin. TaqobbalAllahu minna wa minkum.
