Senja Merah

Bulan bulan ini sedang super banyak hujan yang turun. Jika seringkali kita berkeluh kesah tentang hujan (termasuk saya barangkali) maka di belahan dunia lain banyak orang yang sangat merindukan hujan.. Jauh lebih banyak manusia yang merindukan hujan dibandingkan yang berkeluh kesah tentang hujan. Apabila di Indonesia terjadi banyak bencana yang berkaitan dengan hujan maka ini persoalan yang multi tafsir. Bisa anda memandangnya dari sudut pandang akibat kerusakan alam dan lahan serapan, Daerah Aliran Sungai yang berubah fungsi, muara sungai yang semakin mendangkal oleh beragam sebab, hutan perawan yang dijarah, atau dangau di tepian kota yang berubah jadi perumahan kelas menengah, its OK.

Bisa jadi anda memandangnya dari cara pandang yang lebih religius. Dimana Tuhan sendiri telah berfirman bahwa kerusakan di darat dan di laut tidak lain adalah akibat dari tangan tangan manusia juga. Bisa jadi segala bencana di Indonesia adalah peringatan keras untuk manusia dari Tuhan, akumulasi dari pengrusakan alam dan degradasi moral “orang Indon”.

Sedikit sepakat dengan uraian seorang sahabat bahwa pembangunan kesadaran berkarya itu harus sedemikian mendasar untuk bisa menjadi bangsa yang besar, maka bisa jadi rangkaian bencana di Indonesia merupakan teguran keras supaya kita bangkit dari keterpurukan intelektual.

image

Bulan bulan ini memang sedang super banyak hujan yang turun. Coba sesekali anda nikmati pemandangan senja di musim penghujan. Benarbenar indah. Saya kagum menikmati barisan awan yang dari tepinya hingga separuhnya berwarna merah keemasan. Sebagian lagi sisanya berwarna lembayung abuabu. Sebagai background adalah langit dengan pantulan air laut berwarna biru pudar. Matahari tidak tampak karena dimakan gumpalan awan raksasa di tepi barat. Namun sesekali pancaran cahayanya menyeruak benderang membentuk garis lurus yang hangat. Seperti hendak mengantarkan bidadari untuk saya, barangkali. Di musim hujan seperti sekarang seringkali senja berwarna sangat merah. Indah sekali. “Wah, Dhil, Serasa di planet Mars, ya” ujar seorang sahabat pada suatu sore yang merah di beranda rumahnya.

Atau sesaat sebelum matahari terbit tadi pagi. Langit sudah sedikit berubah dari hitam menjadi biru. Segumpal awan tipis berwarna hitam dengan outline berwarna biru tua. Matahari masih agak jauh dari horizon. Cahayanya tipis sekali di batas cakrawala. Udara terasa segar akibat hujan selepas tengah malam hingga menjelang subuh. Begitu sederhana dan biasa, tapi membuat kagum menyadari keberadaannya.

Kita seringkali tidak menyadari bahwa sesuatu yang indah itu berada disamping kita. Terkagum kagum tentang sesuatu yang baru. Terlalu menganggap biasa apa yang kita temui setiap hari. Padahal sesungguhnya itu sesuatu yang luar biasa. Seberapa banyak dari kita menyadari akan nikmatnya mempunyai dua buah mata yang sempurna? Dua buah daun telinga yang membuat anda terlihat makin cantik ?

Yogyakarta, 1 Muharrom 1429 Hijriah

Tinggalkan komentar